TKA Ubah Cara Pandang: Dari Ujian Menegangkan Jadi Sarana Ukur Kemampuan Murid

AKURAT.CO Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SMP di berbagai daerah menunjukkan pergeseran penting dalam cara pandang murid, guru, hingga satuan pendidikan.
Jika sebelumnya asesmen dipersepsikan sebagai ujian yang menegangkan, kini TKA mulai dipahami sebagai sarana untuk mengukur kemampuan diri sekaligus mendorong semangat belajar yang lebih terarah.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Fajar Riza Ul Haq, mengatakan perubahan perspektif ini merupakan esensi dari pelaksanaan TKA.
“TKA itu seperti medical check-up dalam pendidikan. Kita perlu mengetahui kondisi sebenarnya—apa yang perlu diperkuat dan diperbaiki. Dari situ, kebijakan bisa disusun berbasis data, bukan perkiraan,” ujarnya dalam keterangan, Minggu (19/4/2026).
Secara umum, pelaksanaan TKA tidak hanya berjalan lancar dari sisi teknis dengan dukungan infrastruktur seperti komputer, jaringan internet, dan listrik, tetapi juga membawa perubahan mendasar dalam cara pandang terhadap asesmen.
Menurut Fajar, TKA kini dipahami sebagai instrumen pembelajaran yang reflektif, yang mendorong kejujuran, kesiapan, serta keberanian murid untuk mengukur kemampuan diri.
Perubahan ini dinilai menjadi fondasi dalam membangun budaya belajar yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Perubahan tersebut terlihat nyata di lapangan. Di Kabupaten Pelalawan, Riau, murid SMP Negeri Bernas mengaku sempat diliputi rasa cemas saat pertama kali mengikuti TKA.
Namun, pengalaman langsung mengerjakan soal justru mengubah persepsi tersebut.
“Awalnya deg-degan dan takut karena belum pernah dilakukan. Tapi setelah dikerjakan, ternyata tidak sesulit yang dibayangkan,” ujar Fidelia Noviyanti Hutagaol, murid kelas IX.
Baca Juga: HIPPI Serukan Keseimbangan Pariwisata: Jangan Hanya Kejar Wisatawan, Industri Harus Dilindungi
Murid lainnya juga merasakan hal serupa. Mereka menilai tingkat kesulitan soal masih dalam kategori menengah dan dapat dikerjakan dengan baik, terutama setelah mendapat latihan di sekolah.
Dari sisi satuan pendidikan, berbagai upaya dilakukan agar TKA tidak menjadi beban tambahan. Guru mengintegrasikan persiapan TKA ke dalam pembelajaran reguler.
“Kami membahas soal-soal TKA di jam pelajaran, sehingga siswa tetap belajar tanpa merasa terbebani,” ujar Savitri Oktavia, guru SMP Negeri Bernas.
Kepala SMP Negeri Bernas, Marisah, menyebut TKA justru berdampak positif terhadap perilaku belajar murid.
“Anak-anak menjadi lebih giat belajar. Mereka ingin menunjukkan kemampuan terbaiknya. TKA ini baik karena menguji potensi murid sekaligus kemampuan sekolah,” katanya.
Ia juga memastikan seluruh murid kelas IX di sekolah tersebut mengikuti TKA tanpa kendala berarti, didukung sarana dan prasarana yang memadai.
Partisipasi Tinggi dan Jadi Bekal SPMB
Di Kota Pekanbaru, Kepala SMP Negeri 4 Pekanbaru, Rukiah, menyampaikan pelaksanaan TKA berjalan lancar dengan tingkat partisipasi mencapai 100 persen.
“Materi yang diujikan sesuai dengan penguatan yang sudah diberikan di sekolah, baik numerasi maupun literasi,” ujarnya.
Ia menambahkan, TKA menjadi instrumen penting untuk mengukur kemampuan individu murid, terutama sebagai bekal dalam jalur prestasi pada Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB).
Sementara itu, murid SMP Negeri 4 Pekanbaru, Muhammad Gafasyarianto, mengaku awalnya merasa takut menghadapi TKA. Namun, proses belajar dan latihan justru mengubah rasa tersebut menjadi motivasi.
“Awalnya takut, tapi setelah belajar dan latihan saya jadi semangat. TKA ini penting untuk mengetahui kemampuan diri kita,” ujarnya.
Ia juga menilai soal TKA tidak hanya mengandalkan hafalan, melainkan menuntut pemahaman yang mengintegrasikan literasi dan numerasi.
Guru Bahasa Inggris sekaligus Ketua Panitia TKA 2026 di SMP Negeri 4 Pekanbaru, Sri Romadona, mengatakan tantangan utama di awal pelaksanaan adalah mengelola kekhawatiran murid, guru, dan orang tua.
“Karena ini pertama kali, semua sempat khawatir. Tapi setelah diberikan contoh soal dan kisi-kisi, anak-anak menjadi lebih siap. Kekhawatiran itu perlahan hilang,” jelasnya.
Di tingkat provinsi, Kepala Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Riau, Nilam Suri, menegaskan kelancaran pelaksanaan TKA merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak.
“Pelaksanaan TKA di Riau sejauh ini berjalan lancar. Ini menunjukkan kesiapan satuan pendidikan sekaligus komitmen bersama untuk memastikan asesmen ini memberi manfaat bagi peningkatan mutu pembelajaran,” ujarnya.
Baca Juga: Dari Ember ke Ribuan Tahu: Kisah Sukinem Bangkit Lewat MBG
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










