Mengungkap Rahasia Ekolokasi, Cara Kelelawar Melihat dalam Gelap

AKURAT.CO Kelelawar selama ini dikenal sebagai hewan malam yang mampu terbang lincah meski berada dalam kegelapan total.
Kemampuan ini kerap dianggap sebagai “penglihatan super”, padahal sebenarnya bergantung pada sistem navigasi berbasis suara yang disebut Ekolokasi.
Melalui ekolokasi, kelelawar memanfaatkan pantulan gelombang suara berfrekuensi tinggi untuk membaca lingkungan di sekitarnya.
Mereka mengeluarkan bunyi ultrasonik melalui mulut atau hidung—suara yang tidak dapat didengar manusia.
Ketika gelombang ini mengenai objek, pantulannya kembali ke telinga kelelawar dalam hitungan milidetik.
Pantulan tersebut kemudian diolah oleh otak menjadi “peta” ruang yang akurat.
Dengan cara ini, kelelawar dapat mendeteksi keberadaan pohon, serangga, dinding gua, hingga sesama kelelawar yang terbang di dekatnya.
Penelitian menunjukkan bahwa otak kelelawar mampu memproses informasi suara dengan sangat cepat dan presisi tinggi.
Mereka bahkan dapat membedakan objek dengan jarak yang sangat dekat serta mengenali tekstur mangsa hanya dari pantulan suara.
Hal ini memungkinkan kelelawar berburu dengan efektif, bahkan di lingkungan yang gelap dan sempit.
Baca Juga: Menhan Sjafrie: Komcad ASN Harus Jadi Kekuatan Penguat TNI
Kemampuan ini juga didukung oleh struktur fisik tubuhnya.
Bentuk telinga yang lebar, daun hidung, hingga lipatan kulit di sekitar wajah berperan penting dalam menangkap dan memperkuat gelombang suara.
Setiap spesies memiliki karakteristik berbeda, sehingga pola ekolokasinya pun bervariasi sesuai habitatnya.
Selain untuk navigasi, ekolokasi juga berfungsi sebagai alat komunikasi.
Dalam kelompok besar, beberapa spesies mengubah pola suara ultrasonik untuk menghindari tabrakan dan menjaga koordinasi saat terbang bersama.
Kemampuan membaca ruang tanpa bantuan cahaya menjadikan kelelawar sebagai salah satu hewan dengan sistem sensorik paling canggih.
Tak hanya menarik secara ilmiah, studi tentang ekolokasi juga memiliki potensi luas dalam pengembangan teknologi, seperti radar, sonar, hingga perangkat medis berbasis gelombang suara.
Peneliti meyakini, memahami cara kelelawar “melihat” dunia dapat membuka peluang inovasi baru di berbagai bidang teknologi di masa depan.
Laporan: Novi Karyanti/magang
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal






