Dari Omo Hada ke Sliding Base, Guru Besar UI Tawarkan Paradigma Baru Hadapi Gempa

AKURAT.CO Indonesia dinilai perlu segera mengubah paradigma konstruksi bangunan agar lebih adaptif terhadap ancaman gempa bumi yang terus berulang.
Pendekatan konstruksi yang selama ini berfokus pada perlawanan terhadap guncangan dinilai sudah saatnya bergeser menuju sistem yang mampu beradaptasi dengan dinamika alam.
Gagasan tersebut disampaikan Guru Besar Tetap Universitas Indonesia (UI), Prof. Dr. Ir. Yuskar Lase, DEA, dalam pengukuhannya sebagai profesor bidang Ilmu Teknologi Rekayasa Konstruksi Bangunan Gedung di Fakultas Teknik UI, Rabu (6/5/2026).
Prosesi pengukuhan digelar di Makara Art Center, Kampus UI Depok, dan dipimpin langsung oleh Rektor UI, Heri Hermansyah.
Dalam pidato pengukuhan berjudul Struktur Resilien: Transformasi Teknologi Sliding Base dalam Menyongsong Masa Depan Konstruksi Bangunan Nusantara, Prof. Yuskar menegaskan perlunya perubahan paradigma konstruksi dari pendekatan fixed base menuju sliding base.
Menurutnya, sistem tersebut bukan sekadar inovasi teknis, melainkan bentuk rekonsiliasi antara rekayasa modern dengan dinamika alam.
“Gempa bumi adalah keniscayaan yang tidak dapat dihindari, tetapi dampaknya terhadap bangunan buatan manusia adalah pilihan,” ujar Prof. Yuskar.
Ia menjelaskan, pendekatan sliding base memungkinkan bangunan tidak hanya bertahan dari guncangan gempa, tetapi juga mampu beradaptasi terhadap pergerakan tanah.
“Alih-alih melawan gempa, kita harus belajar berinteraksi dengannya. Sliding base adalah cara pandang baru yang membuat bangunan tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu beradaptasi bahkan ‘menari’ bersama gempa,” katanya.
Penelitian Prof. Yuskar berangkat dari kondisi Indonesia yang berada di jalur Cincin Api (Ring of Fire) dan terus menghadapi ancaman gempa besar, mulai dari Sumatra pada 1833, Aceh 2004, hingga Cianjur 2022.
Baca Juga: Bagaimana Pemerintah Mengontrol Pemborosan Anggaran
Ia menyoroti bangunan non-engineered serta bangunan bertingkat rendah dan menengah-bawah sebagai kelompok yang paling rentan terhadap kerusakan akibat gempa.
Menurutnya, paradigma konstruksi di Indonesia masih didominasi pendekatan fixed base, yakni struktur bangunan dirancang untuk menahan dan melawan energi gempa. Pendekatan tersebut dinilai tidak adaptif terhadap karakter kegempaan di Indonesia.
“Paradoks pembangunan kita adalah membangun hutan beton di atas patahan aktif. Karena itu, kita harus berani mengubah paradigma konstruksi,” katanya.
Dalam pemaparannya, Prof. Yuskar juga mengangkat rumah adat Nias, Omo Hada, sebagai contoh nyata konstruksi tahan gempa berbasis kearifan lokal.
Rumah adat tersebut menggunakan sistem struktur fleksibel dengan tumpuan batu, sambungan semi-rigid, dan pengaku diagonal (bracing) yang memungkinkan disipasi energi gempa melalui gesekan dan deformasi terkendali.
Ketahanan Omo Hada telah terbukti dalam berbagai peristiwa gempa besar.
Pada gempa Nias 2005 berkekuatan magnitudo momen (Mw) 8,6, rumah adat tersebut tercatat hanya bergeser sekitar 10 sentimeter tanpa mengalami kerusakan berarti.
Menurut Prof. Yuskar, fakta tersebut menunjukkan bahwa konsep resiliensi konstruksi sebenarnya telah lama dimiliki masyarakat Nusantara.
“Resiliensi bukan barang impor dari Barat, tetapi warisan lokal yang tetap relevan hingga saat ini,” ujarnya.
Lebih lanjut, Prof. Yuskar menjelaskan bahwa teknologi modern seperti Double Concave Friction Pendulum (DCFP) merupakan pengembangan dari prinsip konstruksi Omo Hada.
Teknologi tersebut memungkinkan bangunan bergerak relatif terhadap tanah untuk mereduksi respons struktur sekaligus memiliki kemampuan self-centering.
Baca Juga: Fenomena Gen Z Cepat Dipecat dari Tempat Kerja, Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Dalam penelitiannya pada bangunan pusat data (data center), sistem DCFP dinilai efektif mengendalikan tingkat kerusakan struktur maupun perangkat teknologi yang memiliki nilai ekonomi tinggi.
Dengan transformasi dari paradigma fixed base menuju sliding base, Prof. Yuskar meyakini konstruksi bangunan di Indonesia dapat menjadi lebih adaptif, efisien, dan inklusif dalam menghadapi ancaman gempa bumi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK









