Akurat Logo

Awal Kedatangan Bangsa Portugis ke Maluku, Awal Perebutan Rempah yang Mengubah Sejarah Nusantara

Redaksi Akurat | 20 Juni 2026, 22:31 WIB
Awal Kedatangan Bangsa Portugis ke Maluku, Awal Perebutan Rempah yang Mengubah Sejarah Nusantara
Bangsa Portugis ke Maluku

AKURAT.CO Maluku memiliki posisi yang sangat penting dalam sejarah dunia.

Kepulauan yang dikenal sebagai penghasil cengkih dan pala ini pernah menjadi tujuan utama bangsa-bangsa Eropa yang berlomba mencari sumber rempah-rempah.

Tidak mengherankan jika awal kedatangan bangsa Portugis ke Maluku menjadi salah satu peristiwa bersejarah yang mengubah perjalanan Nusantara sekaligus perdagangan internasional pada abad ke-16.

Pada masa itu, rempah-rempah bukan sekadar bumbu dapur.

Di Eropa, cengkih, pala, kayu manis, dan berbagai rempah lainnya memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi.

Selain digunakan sebagai penyedap makanan, rempah juga dipercaya memiliki khasiat kesehatan, bahan pengawet makanan, hingga digunakan dalam pengobatan tradisional.

Nilainya bahkan dapat berkali-kali lipat lebih mahal ketika tiba di pasar Eropa.

Baca Juga: Menengok Benteng Otanaha, Simbol Perlawanan Gorontalo atas Portugis

Keinginan untuk mendapatkan rempah langsung dari sumbernya mendorong bangsa Portugis melakukan pelayaran jarak jauh hingga akhirnya tiba di wilayah Nusantara.

Maluku Menjadi Pusat Perdagangan Rempah Dunia

Jauh sebelum bangsa Eropa datang, Maluku telah menjadi bagian penting dalam jaringan perdagangan internasional Asia.

Pedagang dari Arab, India, Tiongkok, hingga Asia Tenggara telah lama menjalin hubungan dagang dengan kerajaan-kerajaan di Maluku.

Komoditas utama yang diperdagangkan adalah cengkih dan pala.

Cengkih diketahui berasal dari wilayah Ternate, Tidore, Moti, Makian, dan Bacan. Sementara pala banyak ditemukan di Kepulauan Banda yang terletak di bagian tenggara Maluku.

Rempah-rempah dari Maluku biasanya dikumpulkan melalui jalur perdagangan yang terhubung dengan Malaka.

Pelabuhan Malaka pada saat itu menjadi pusat distribusi rempah terbesar di Asia Tenggara sebelum akhirnya jatuh ke tangan Portugis.

Kemakmuran yang diperoleh dari perdagangan rempah membuat kerajaan-kerajaan di Maluku berkembang pesat dan memiliki hubungan dagang yang luas dengan berbagai wilayah.

Alasan Portugis Mencari Kepulauan Rempah

Pada akhir abad ke-15 dan awal abad ke-16, bangsa-bangsa Eropa mulai berlomba menemukan jalur laut langsung menuju Asia.

Salah satu penyebabnya adalah jatuhnya Konstantinopel ke tangan Kesultanan Utsmaniyah pada tahun 1453 yang membuat jalur perdagangan darat menjadi lebih sulit dan mahal.

Portugis menjadi salah satu negara pelopor dalam eksplorasi samudra.

Mereka berusaha mencari sumber rempah secara langsung agar tidak bergantung pada para pedagang perantara dari Timur Tengah maupun Asia.

Selain alasan ekonomi, terdapat pula dorongan politik dan agama.

Pemerintah Portugis ingin memperluas pengaruh kekuasaannya sekaligus menyebarkan agama Katolik ke wilayah-wilayah baru yang mereka temukan.

Kombinasi kepentingan ekonomi, politik, dan agama inilah yang akhirnya membawa Portugis berlayar jauh hingga mencapai Nusantara.

Jatuhnya Malaka Membuka Jalan ke Maluku

Salah satu langkah penting yang dilakukan Portugis adalah menguasai Malaka pada tahun 1511. Kota pelabuhan ini saat itu merupakan pusat perdagangan paling strategis di Asia Tenggara.

Setelah berhasil menguasai Malaka, Portugis memperoleh banyak informasi mengenai lokasi asal rempah-rempah yang selama ini diperdagangkan. Dari para pedagang yang ditemui di Malaka, mereka mengetahui bahwa sumber utama cengkih dan pala berada di Kepulauan Maluku.

Informasi tersebut mendorong Portugis segera mengirim ekspedisi untuk menemukan wilayah penghasil rempah secara langsung.

Keberhasilan menguasai Malaka menjadi titik awal yang mempercepat ekspansi Portugis ke berbagai wilayah di Nusantara, termasuk Maluku.

Baca Juga: Gubernur Sherly Bidik Ekonomi Maluku Utara Tetap Tumbuh Dua Digit hingga 2030

Awal Kedatangan Bangsa Portugis ke Maluku Tahun 1512

Sejarah mencatat bahwa awal kedatangan bangsa Portugis ke Maluku terjadi pada tahun 1512. Armada Portugis yang dipimpin oleh Antonio de Abreu berhasil mencapai Kepulauan Banda setelah melakukan pelayaran dari Malaka.

Dalam ekspedisi tersebut terdapat pula seorang pelaut bernama Francisco Serrão yang kemudian memainkan peran penting dalam hubungan antara Portugis dan Kesultanan Ternate.

Kedatangan mereka disambut oleh penguasa lokal yang melihat peluang kerja sama perdagangan. Saat itu, Kesultanan Ternate merupakan salah satu kerajaan terbesar di Maluku dan memiliki pengaruh kuat dalam perdagangan cengkih.

Hubungan awal antara Portugis dan Ternate berlangsung cukup baik. Kedua pihak sama-sama berharap mendapatkan keuntungan dari kerja sama tersebut. Portugis memperoleh akses terhadap rempah-rempah, sementara Ternate berharap mendapatkan dukungan militer untuk menghadapi rival-rival politiknya.

Pembangunan Benteng dan Meningkatnya Pengaruh Portugis

Hubungan yang semula berfokus pada perdagangan perlahan berkembang menjadi pengaruh politik yang lebih besar. Portugis mulai memperoleh izin untuk membangun benteng di Ternate sebagai pusat perdagangan sekaligus pertahanan.

Benteng pertama yang dibangun Portugis di Ternate berdiri pada tahun 1522. Kehadiran benteng ini menandai semakin kuatnya posisi Portugis di Maluku.

Namun, seiring berjalannya waktu, Portugis tidak hanya terlibat dalam perdagangan. Mereka mulai ikut campur dalam urusan pemerintahan dan suksesi kerajaan. Campur tangan ini menimbulkan ketegangan dengan kalangan bangsawan maupun masyarakat setempat.

Banyak pihak mulai merasa bahwa kehadiran Portugis tidak lagi sebatas mitra dagang, melainkan ancaman terhadap kedaulatan kerajaan.

Konflik dengan Kesultanan Ternate

Ketegangan antara Portugis dan Kesultanan Ternate terus meningkat pada pertengahan abad ke-16. Perselisihan muncul karena monopoli perdagangan yang diterapkan Portugis serta intervensi mereka dalam urusan internal kerajaan.

Salah satu peristiwa yang paling dikenang adalah terbunuhnya Sultan Khairun, penguasa Ternate yang berusaha mempertahankan kedaulatan kerajaannya. Sultan Khairun tewas setelah menghadiri perundingan dengan pihak Portugis.

Peristiwa tersebut memicu kemarahan besar di kalangan masyarakat Maluku. Putra Sultan Khairun, Sultan Baabullah, kemudian memimpin perlawanan besar terhadap Portugis.

Setelah perjuangan yang berlangsung bertahun-tahun, pasukan Ternate berhasil mengusir Portugis dari wilayah mereka pada tahun 1575. Kemenangan ini menjadi salah satu keberhasilan penting kerajaan Nusantara dalam menghadapi kekuatan kolonial Eropa.

Persaingan Bangsa Eropa di Kepulauan Rempah

Keberhasilan Portugis menemukan jalur menuju Maluku memicu kedatangan bangsa Eropa lainnya. Informasi mengenai kekayaan rempah-rempah di Nusantara semakin menyebar ke berbagai negara Eropa.

Bangsa Spanyol, Inggris, dan Belanda kemudian ikut berusaha mencapai Maluku untuk memperoleh keuntungan dari perdagangan rempah. Persaingan ini berlangsung sengit selama berabad-abad dan menjadi salah satu faktor lahirnya kolonialisme di Indonesia.

Pada awal abad ke-17, Belanda mendirikan VOC yang kemudian menjadi kekuatan dominan dalam perdagangan rempah di Nusantara. Sementara Inggris mendirikan East India Company untuk bersaing memperebutkan jalur perdagangan yang sama.

Dampak Kedatangan Portugis bagi Maluku

Kedatangan Portugis membawa perubahan besar bagi kehidupan masyarakat Maluku. Dari sisi ekonomi, perdagangan rempah semakin terhubung dengan pasar internasional. Namun di sisi lain, persaingan antarbangsa Eropa juga memicu konflik politik dan militer yang berkepanjangan.

Selain itu, Portugis turut membawa pengaruh budaya dan agama yang masih dapat ditemukan di beberapa wilayah Maluku hingga saat ini. Beberapa kosakata dalam bahasa Indonesia bahkan berasal dari bahasa Portugis, seperti meja, gereja, jendela, dan mentega.

Pengaruh tersebut menunjukkan bahwa kedatangan Portugis tidak hanya meninggalkan jejak dalam bidang perdagangan, tetapi juga dalam kehidupan sosial dan budaya masyarakat Nusantara.

Awal kedatangan bangsa Portugis ke Maluku pada tahun 1512 menjadi salah satu peristiwa penting dalam sejarah Indonesia.

Kedatangan mereka didorong oleh keinginan untuk memperoleh rempah-rempah secara langsung dari sumbernya, terutama cengkih dan pala yang memiliki nilai sangat tinggi di pasar Eropa.

Meski awalnya menjalin hubungan dagang dengan kerajaan-kerajaan lokal, kehadiran Portugis kemudian berkembang menjadi upaya penguasaan politik dan monopoli perdagangan.

Kondisi tersebut memicu berbagai konflik yang akhirnya melahirkan perlawanan dari masyarakat Maluku. Peristiwa ini juga menjadi awal masuknya bangsa-bangsa Eropa lainnya ke Nusantara dan membuka babak baru dalam sejarah kolonialisme di Indonesia.

Mutiara MY (Magang)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

R
R