Akurat Logo

7 Manfaat Belajar Bahasa Asing Sejak Dini bagi Perkembangan Otak Anak

Nurma Nafisa Faradilla | 23 Juni 2026, 19:00 WIB
7 Manfaat Belajar Bahasa Asing Sejak Dini bagi Perkembangan Otak Anak
Belajar bahasa asing. (Freepik)

AKURAT.CO Semakin banyak orang tua di Indonesia yang mulai mengenalkan bahasa asing kepada anak sejak usia dini. Selain dianggap sebagai bekal penting untuk masa depan, kemampuan berbahasa asing kini juga dikaitkan dengan berbagai manfaat bagi perkembangan otak dan kemampuan belajar anak.

Di tengah era globalisasi, penguasaan lebih dari satu bahasa tidak lagi dipandang sekadar keterampilan komunikasi. Banyak penelitian menunjukkan bahwa proses mempelajari bahasa baru dapat memberikan stimulasi positif bagi perkembangan kognitif, mulai dari kemampuan mengingat hingga cara anak menyelesaikan masalah.

Baca Juga: Mendag Tegaskan NIB Ecommerce Bukan Untuk Pajak

Lantas, apa saja manfaat belajar bahasa asing sejak dini bagi perkembangan otak anak? Berikut penjelasannya.

Membantu Melatih Daya Ingat Anak

Belajar bahasa asing sejak dini dapat membantu melatih kemampuan memori anak. Saat mempelajari kosakata baru, memahami arti kata, dan menggunakannya dalam percakapan, otak akan terus bekerja untuk menyimpan sekaligus memanggil kembali informasi yang telah dipelajari.

Menurut riset yang dikemukakan oleh Duolingo, proses belajar bahasa melibatkan aktivitas mental yang kompleks, termasuk mengingat informasi, mengenali pola, serta menghubungkan konsep-konsep baru. Aktivitas tersebut berfungsi layaknya latihan bagi otak yang membantu memperkuat kemampuan kognitif seseorang.

Meningkatkan Fokus dan Konsentrasi

Selain melatih daya ingat, belajar bahasa asing juga membantu meningkatkan fokus dan konsentrasi. Anak perlu memperhatikan pengucapan, tata bahasa, serta makna kata dalam konteks yang berbeda.

Menurut penelitian yang dilakukan Baycrest dan York University, peserta yang belajar bahasa secara rutin selama sekitar 30 menit per hari dalam periode empat bulan menunjukkan peningkatan pada kemampuan perhatian dan fokus dibandingkan kelompok yang tidak mengikuti pembelajaran bahasa.

Melatih Fleksibilitas Berpikir

Belajar lebih dari satu bahasa membuat anak terbiasa memahami bahwa satu informasi dapat disampaikan melalui berbagai cara. Kemampuan ini membantu anak melihat persoalan dari sudut pandang yang berbeda.

Baca Juga: Cara Login ASN Digital BKN 2026, Lengkap dengan Aktivasi MFA dan Kode OTP

Psikolog anak, remaja, dan keluarga Ayoe Sutomo menjelaskan bahwa belajar bahasa baru tidak hanya memperluas kosakata, tetapi juga melatih cara anak memahami pola, menghubungkan informasi, serta menyesuaikan diri dengan konteks yang berbeda. Menurutnya, kemampuan tersebut berkaitan erat dengan berkembangnya fleksibilitas berpikir yang menjadi fondasi penting dalam proses belajar dan pemecahan masalah sehari-hari.

Membantu Mengembangkan Fungsi Eksekutif Otak

Fungsi eksekutif merupakan kemampuan otak yang berkaitan dengan pengambilan keputusan, pengendalian diri, perencanaan, dan pemecahan masalah.

Berdasarkan studi yang dipublikasikan dalam jurnal Aging, Neuropsychology, and Cognition, orang dewasa yang menggunakan aplikasi pembelajaran bahasa selama empat bulan mengalami peningkatan yang terukur pada fungsi eksekutif dan performa kognitif. Peneliti menemukan adanya perkembangan pada memori kerja, fleksibilitas kognitif, dan kemampuan mengelola perhatian.

Belajar Bahasa Melibatkan Banyak Area Otak Sekaligus

Salah satu keunggulan belajar bahasa dibanding aktivitas belajar lainnya adalah karena proses ini mengaktifkan berbagai fungsi otak secara bersamaan.

Menurut riset yang dikemukakan Duolingo, ketika seseorang mempelajari bahasa baru, otak harus bekerja untuk mengenali pola linguistik, memahami konteks, mengingat kosakata, beralih antar konsep, hingga mengambil keputusan dalam memilih kata yang tepat. Karena itulah belajar bahasa sering disebut sebagai salah satu bentuk stimulasi mental yang komprehensif.

Peran Orang Tua Tetap Menjadi Kunci

Meskipun memiliki banyak manfaat, para ahli menegaskan bahwa hasil belajar bahasa asing tidak diperoleh secara instan. Psikolog anak, Ayoe Sutomo menekankan bahwa konsistensi, frekuensi belajar yang teratur, serta pengalaman belajar yang menyenangkan merupakan faktor penting yang mendukung keberhasilan anak dalam mempelajari bahasa baru.

Ia juga mengingatkan pentingnya pendampingan orang tua, terutama ketika anak menggunakan perangkat digital atau aplikasi pembelajaran sebagai sarana belajar di rumah.

Belajar Bahasa Asing sebagai Investasi Jangka Panjang

Di era yang semakin terhubung secara global, kemampuan berbahasa asing dapat menjadi bekal berharga bagi anak. Selain mendukung prestasi akademik, keterampilan ini juga membantu meningkatkan rasa percaya diri, kemampuan berkomunikasi, dan kesiapan menghadapi berbagai peluang di masa depan.

Karena itu, mengenalkan bahasa asing sejak dini tidak hanya bertujuan agar anak mahir berbicara dalam bahasa lain, tetapi juga menjadi salah satu cara untuk mendukung perkembangan otak dan kemampuan belajar mereka secara menyeluruh.

Baca Juga: Pemerintah Rombak Distribusi MinyaKita, Perbesar Peran Bulog dan ID Food

Baca Juga: Jadwal Puasa Tasu'a dan Asyura 2026: Cek Versi Kemenag, Muhammadiyah, dan NU Terbaru!

FAQ

Apakah anak bisa belajar lebih dari satu bahasa sekaligus?

Ya. Anak memiliki kemampuan alami untuk mempelajari lebih dari satu bahasa, terutama pada usia dini ketika perkembangan bahasa sedang berlangsung pesat.

Apakah belajar bahasa asing membuat anak bingung dengan bahasa ibu?

Tidak selalu. Dengan pendampingan yang tepat, anak dapat membedakan penggunaan bahasa ibu dan bahasa asing sesuai konteksnya.

Usia berapa yang ideal untuk mengenalkan bahasa asing kepada anak?

Tidak ada batasan usia yang pasti. Namun, banyak ahli menilai usia dini merupakan periode yang baik karena otak anak lebih mudah menyerap bahasa baru melalui interaksi dan pengalaman sehari-hari.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.