Akurat
Pemprov Sumsel

Poros Perubahan Meredup, Pengamat Ingatkan Pendukung Anies Jangan Sampai Loyo

| 12 November 2022, 01:53 WIB
Poros Perubahan Meredup, Pengamat Ingatkan Pendukung Anies Jangan Sampai Loyo

AKURAT.CO, Poros koalisi yang diinisiasi oleh Partai NasDem, PKS dan Demokrat (Poros Perubahan) batal melakukan deklarasi seperti yang semula dijadwalkan pada 10 November 2022. Pasalnya poros perubahan belum menentukan bakal cawapres pendamping Anies Baswedan di Pilpres 2024.

Pengamat politik dan pendiri Indonesia Political Power Ikhwan Arif mengingatkan bahwa batalnya deklarasi pertanda poros perubahan meredup, suasana kebatinan partai mulai berubah-ubah, jangan sampai nantinya poros perubahan menjadi loyo.

"Sebenarnya pembatalan deklarasi bukan sebatas permasalahan deadlock penentuan tanggal ya, tapi secara tersirat ada pertimbangan kalkulasi untung rugi partai berkoalisi, ada deal-deal politik yang sedang dipertaruhkan poros koalisi dibalik menjepit nama Anies Baswedan sebagai bakal Capres," kata Arif dihubungi di Jakarta, Jumat (11/11/2022).

Ikhwan Arif lantas memaparkan penyebab kalkulasi politik dibalik meredupnya poros perubahan. Pertama faktor figur atau ketokohan yang menjadi pertimbangan dasar arah poros perubahan berkoalisi. Penentuan nama tokoh pendamping Anies menjadi titik tumpu ketiga partai membangun sinyal berkoalisi, citra partai politik akan dipertaruhkan dalam memilih figur pendamping Anies, jika yang dipilih cawapres non partai citra partai akan meredup dampaknya poros koalisi juga semakin loyo.

"Dibalik meredupnya poros koalisi, 'timing' yang yang tepat akan menentukan arah poros koalisi, seperti gerak cepat partai NasDem dalam memanfaatkan momentum deklarasi Anies, PKS dan Demokrat tentunya akan mengekor saja. Momentum gerak cepat ini menjadi faktor meredupnya poros koalisi, sebab PKS dan Demokrat sudah ketinggalan momentum dalam mengusung bakal capres pilihan partai sendiri," kata dia.

Dalam dinamika politik, perbedaan kalkulasi untung-rugi partai politik suatu hal yang lumrah sehingga sikap politik yang berubah-ubah sering menentukan keberpihakan partai koalisi untuk tetap bertahan di koalisi atau keluar dari poros koalisi.

Terkahir ada faktor presidential threshold (PT) yang merupakan faktor pondasi pembentukan koalisi. Tanpa akad koalisi dengan PKS dan Demokrat, poros perubahan belum layak memenuhi ambang batas pencalonan sebesar 20%, meskipun NasDem sudah berkoar-koar mendeklarasikan Anies Baswedan. Beda halnya dengan Koalisi Indoneisa Bersatu (KIB), Koalisi Indonesia Raya (KIRl) yang sudah mencapai angka presidential threshold 20% dan sudah resmi akad. Sepertinya strategi poros perubahan lebih kepada mengunci nama Anies, dibandingkan mendahului deklarasi koalisi ketiga partai.[]

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.