Akurat
Pemprov Sumsel

Gaya Komunikasi Bahlil Dinilai Efektif dan Autentik: Itu Tegas, Bukan Arogan

Arief Rachman | 4 Juli 2025, 11:15 WIB
Gaya Komunikasi Bahlil Dinilai Efektif dan Autentik: Itu Tegas, Bukan Arogan

AKURAT.CO Gaya komunikasi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sekaligus Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, dinilai sebagai pendekatan yang jujur, egaliter, dan sangat relevan dengan konteks budaya Indonesia, terutama dalam komunikasi politik masa kini.

Direktur Akurat.co, Afriadi menilai, gaya ceplas-ceplos Bahlil kerap disalahartikan sebagai bentuk arogansi, padahal lebih tepat dipahami sebagai ekspresi kejujuran dan kedekatan.

"Bahlil itu bukan arogan. Ia hanya menggunakan gaya komunikasi yang sesuai dengan pengalaman sosialnya—langsung, apa adanya, dan berbasis relasi yang setara. Dalam budaya timur, termasuk Papua, gaya tegas itu tanda perhatian, bukan penghinaan," ujar Afriadi dalam keterangan tertulis, Jumat (4/7/2025).

Magister Ilmu Komunikasi dan Sarjana Filsafat Islam UIN Jakarta ini menekankan, dalam ilmu komunikasi politik, keautentikan seorang pejabat sangat menentukan efektivitas pesan yang disampaikan.

Dan Bahlil, kata dia, termasuk sedikit dari pejabat publik yang tidak membangun pencitraan semu.

“Kepercayaan publik justru tumbuh dari sosok yang konsisten menjadi dirinya sendiri. Bahlil tidak bersembunyi di balik naskah atau retorika yang dibungkus-bungkus. Ia langsung bicara pada intinya,” lanjut Afriadi.

Ia juga menilai, gaya komunikasi Bahlil justru menjadi kekuatan tersendiri dalam mendorong efektivitas kebijakan, khususnya dalam misi hilirisasi dan investasi nasional yang selama ini diemban.

Baca Juga: Belajar dari Kasus Fadli Zon: Pendekatan Bukti atau Emosi, Apa Ujungnya Buat Para Korban Pemerkosaan Mei 98?

“Kalau kita lihat, Presiden Jokowi dan sekarang Presiden Prabowo menugaskan Bahlil bukan karena dia pandai membuat narasi manis, tapi karena ia mampu memastikan lapangan jalan. Komunikasi langsung itu penting untuk menembus birokrasi yang lamban,” jelasnya.

Afriadi mengingatkan publik agar tidak terjebak dalam penilaian permukaan terhadap gaya komunikasi para pejabat.

Menurutnya, pendekatan gaya seperti Bahlil justru bisa menjadi ‘shock therapy’ untuk menghidupkan kembali semangat kerja para birokrat.

“Dalam teori komunikasi kritis, gaya seperti ini bukan noise, tapi interupsi terhadap sistem yang terlalu steril dan tidak responsif. Teguran keras seperti ‘kurang ajar kalian’ justru bisa berarti akrab dalam konteks hubungan yang informal dan fungsional,” ucap Afriadi.

Ia menyebut Bahlil sebagai contoh nyata pemimpin yang tidak terjebak pada citra elite.

“Ia pernah jadi sopir angkot, aktivis, lalu jadi pengusaha dan menteri. Ia mengalami langsung bagaimana susahnya hidup. Jadi ketika ia bicara, itu bukan bahasa menara gading. Itu bahasa rakyat,” pungkasnya.

Afriadi menilai, di tengah iklim komunikasi politik yang sarat pencitraan dan penuh kehati-hatian, sosok seperti Bahlil merupakan warna segar yang perlu dijaga.

Apalagi saat Indonesia menuju agenda besar seperti hilirisasi, transformasi ekonomi, dan penguatan industri lokal.

“Yang kita butuhkan hari ini bukan pemimpin yang banyak basa-basi, tapi yang bisa kerja, ngomong jujur, dan dekat dengan rakyat. Dan Bahlil, sejauh ini, mencerminkan itu,” tutup Afriadi.

Baca Juga: Tips Aman dan Cepat Cara Download Video Instagram Tanpa Watermark

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.