Ambang Batas Parlemen Moderat Kunci Akhiri Politik Transaksional

AKURAT.CO Ambang batas parlemen (parliamentary threshold/PT) sebesar 4 hingga 6 persen dinilai menjadi kunci untuk menghentikan praktik politik transaksional sekaligus menyederhanakan sistem kepartaian di Indonesia.
“Angka 4 sampai 6 persen cukup moderat sebagai instrumen seleksi untuk menghasilkan kompetisi yang ketat menuju penyederhanaan sistem kepartaian,” kata Pengamat politik Yusak Farchan dari Citra Institute, Kamis (28/5/2026).
Ia menjelaskan, perdebatan mengenai besaran ambang batas parlemen, mulai dari 0 persen, 2,24 persen, 4 persen, 5 persen hingga 7 persen, tidak sekadar soal angka.
Menurutnya, penetapan PT harus memiliki dasar ilmiah dan memenuhi prinsip rasionalitas sebagaimana putusan Mahkamah Konstitusi.
“Perdebatan ambang batas parlemen bukan hanya soal angka, tetapi juga harus memiliki basis saintifik,” ujarnya.
Yusak menilai sistem multipartai ekstrem yang saat ini dianut Indonesia tidak sepenuhnya kompatibel dengan sistem presidensial.
Baca Juga: Tito Karnavian: Pascabencana Sumatera Masuk Tahap Pemulihan Permanen
Kondisi tersebut membuat peta politik terfragmentasi dan tidak menghasilkan kekuatan mayoritas di DPR.
“Pemerintahan menjadi tidak efektif, bukan hanya karena tidak ada mayoritas, tetapi juga terpenjara politik dagang sapi dalam pembentukan undang-undang,” tegasnya.
Ia menekankan penyederhanaan sistem kepartaian menuju multipartai moderat perlu dilakukan untuk meningkatkan efektivitas pemerintahan.
Salah satu instrumen yang dinilai paling efektif adalah penetapan ambang batas parlemen yang moderat.
Menurut Yusak, besaran PT tidak boleh terlalu rendah maupun terlalu tinggi. Jika terlalu rendah, jumlah partai politik berpotensi meningkat drastis tanpa diiringi pelembagaan partai yang kuat.
“Jika terlalu rendah, ruang kompetisi partai politik menjadi sangat longgar dan pertumbuhan partai bisa melonjak tanpa keseriusan membangun institusi yang kuat,” katanya.
Sebaliknya, jika PT terlalu tinggi atau berada di atas 6 persen, potensi disproporsionalitas dan suara terbuang (wasted vote) dalam sistem pemilu proporsional akan semakin besar.
“Jika PT terlalu tinggi, potensi overkill terhadap jutaan suara semakin besar,” ujarnya.
Baca Juga: Pemerintah Bantah Anggapan Orang Asli Papua Jadi Minoritas
Lebih lanjut, Yusak mengatakan mayoritas partai politik saat ini tidak diiringi diferensiasi ideologi yang jelas.
Menurut dia, partai cenderung berorientasi pada perebutan kekuasaan dibandingkan memperjuangkan kebijakan publik.
“Kompetisi hampir sepenuhnya berbasis kepentingan jangka pendek, uang, dan kekuasaan, bukan berbasis kebijakan,” tuturnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 7BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal







