Safari Politik Jokowi Belum Tentu Jamin PSI Lolos ke Senayan

AKURAT.CO Pengamat politik, Adi Prayitno, menilai, safari politik yang dilakukan Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi), belum dapat dijadikan jaminan bahwa Partai Solidaritas Indonesia (PSI) akan berhasil melenggang ke Senayan pada Pemilu 2029.
Menurut Adi, efektivitas pengaruh Jokowi terhadap elektabilitas PSI baru dapat dibuktikan saat kontestasi politik 2029 berlangsung.
“Waktu yang akan menjawabnya. Tak bisa disimpulkan sekarang karena pembuktian yang sesungguhnya nanti di 2029,” kata Adi kepada Akurat.co, Minggu (31/5/2026).
Ia menilai PSI masih meyakini sosok Jokowi memiliki daya tarik politik yang kuat untuk mendulang suara pemilih pada Pemilu 2029.
Menurut Adi, terdapat dua pandangan besar terkait pengaruh politik Jokowi setelah tidak lagi menjabat sebagai presiden.
Pandangan pertama meyakini bahwa Jokowi masih memiliki "kesaktian" politik meski sudah tidak berada di tampuk kekuasaan.
Keyakinan tersebut didasarkan pada tingkat kepuasan publik (approval rating) terhadap Jokowi yang tetap tinggi menjelang akhir masa jabatannya sebagai presiden.
“Tapi di luar itu ada dua mazhab besar soal kesaktian Jokowi. Mazhab pertama, Jokowi masih sakti meski tak lagi presiden. Pandangan ini didasarkan atas approval rating Jokowi yang masih tinggi menjelang lengser,” ujarnya.
Baca Juga: Fraksi Golkar: Hari Lahir Pancasila Jangan Sekadar Seremonial, Ini Fondasi Indonesia
Meski demikian, Adi mengingatkan bahwa pandangan tersebut berpotensi mengabaikan realitas politik yang lazim terjadi, yakni menurunnya pengaruh seorang tokoh ketika tidak lagi menduduki jabatan publik.
“Tapi pandangan ini mengabaikan hukum alam bahwa siapa pun kalau sudah tak lagi jadi pejabat publik, kesaktiannya biasanya menurun juga,” lanjutnya.
Sementara itu, pandangan kedua menilai Jokowi tidak lagi memiliki pengaruh politik yang cukup kuat untuk mendongkrak elektabilitas partai.
Menurut Adi, pandangan ini merujuk pada pengalaman Pemilu 2024 ketika PSI secara terbuka mengasosiasikan diri dengan Jokowi melalui berbagai atribut kampanye, namun tetap gagal menembus ambang batas parlemen.
“Mazhab kedua, Jokowi sudah dianggap tak sakti. Pandangan ini didasarkan atas Pemilu 2024, di mana nama dan foto Jokowi sudah diamplifikasi sebagai bagian dari atribut kampanye PSI,” tegasnya.
Karena itu, Adi menilai terlalu dini untuk menyimpulkan sejauh mana pengaruh safari politik Jokowi terhadap masa depan PSI.
Menurutnya, jawaban atas perdebatan tersebut baru akan terlihat melalui hasil Pemilu 2029.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 2Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 3Demo Hari Ini di Bundaran HI, BEM UI Bawa 8 Tuntutan, Apa Saja Isinya?
- 420 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 5Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 6Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 7BEM UI Demo 18 Agustus di Bundaran HI, Ternyata Ini 8 Tuntutannya!
- 8Ben-Gvir Serukan Pembunuhan 30–40 Orang di Gaza Tiap Malam, Netanyahu Dikritik dari Kanan
- 9Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk
- 10RUU Perampasan Aset Ditargetkan Sah Desember 2026










