Dorong Transformasi Pertambangan RI, Chairul Tanjung: dari Hilirisasi ke Industrialisasi

AKURAT.CO Chairman CT Corp, Chairul Tanjung (CT) menyoroti pentingnya mengubah nilai tambah sumber daya mineral Indonesia dari sekadar hilirisasi menuju tahap industrialisasi.
CT menegaskan bahwa Indonesia memiliki potensi mineral yang luar biasa, termasuk batu bara, nikel, tembaga, dan lainnya, dan ia percaya bahwa pengelolaan yang baik dari sumber daya ini adalah kunci untuk kemakmuran negara.
Mengutip Pasal 33 UUD 1945 yang menekankan bahwa sumber daya alam Indonesia harus dikelola untuk kemakmuran rakyat, CT menilai penting bagi negara untuk mengatur eksplorasi tambang dengan lebih baik untuk meningkatkan nilai tambahnya bagi rakyat.
Baca Juga: Chairul Tanjung Beberkan 4 Tantangan Ekonomi Ri di 2024
"Pasal 33 bahwa apa yang ada di bawah bumi, di atas bumi kita dikuasai negara dan digunakan untuk kemakmuran rakyat. Intinya negara harus mampu mengatur eksplorasi hasil tambang kita, untuk dinaikkan edit valuenya setinggi-tingginya untuk rakyat kita," kata CT di sela acaea bertajuk Indonesia Economic Outlook 2024: Year of Optimism, Kamis (29/2/2024).
Bahkan, ia juga mengkritik pendekatan yang hanya mengandalkan smelter untuk meningkatkan nilai tambah, mengatakan bahwa langkah ini tidaklah cukup. Ia mendorong agar langkah hilirisasi dilanjutkan dengan industrialisasi, seperti yang dilakukan pada sektor nikel.
Selain itu, ia mencontohkan bahwa lebih dari 200 ribu produk dapat dihasilkan dari nikel, mulai dari velg mobil hingga baterai listrik. Menurutnya, masih ada banyak pekerjaan yang harus dilakukan agar hasil tambang benar-benar dapat memberikan manfaat maksimal bagi negara.
Menurutnya, hilirisasi harus kita lanjutkan dengan industrialisasi. Contohnya nikel itu kalau kita bisa melakukan industrialisasi lebih dari 200 ribu produk yang bisa dihasilkan dari nikel itu. Mulai dari pelek mobil, sendok, panci sampai baterai listrik pu bisa digunakan dari hasil nikel.
Di sisi lain, CT melihat sektor pertambangan bisa menopang perekonomian Indonesia yang disimbolkan Garuda untuk bisa terbang lebih tinggi. Namun, masih ada faktor yang menghambat.
CT menyebut Garuda sebenarnya siap untuk terbang tetapi masih ada rantai yang mengikat kakinya. Rantai tersebut seperti birokrasi yang berlebihan, masalah efisiensi, hingga korupsi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 6Prediksi Skor Roma vs Genoa 18 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan
- 7Cara Cek Desil Online Oktober 2026 Pakai NIK KTP, Ini Link Resminya
- 8Kalender Jawa 16 Oktober 2026: Weton Jumat Legi Disebut Punya Karakter Unik
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK









