Deputi Kemenko Marves Sebut Meski Turun, Harga Nikel Lebih Tinggi Dibanding 1 Dekade Lalu

AKURAT.CO Pemerintah berupaya menjaga harga nikel tetap stabil di sekitar level USD17.000 per ton, mengingat turunnya harga nikel global yang disebabkan oleh peningkatan pasokan dari Indonesia.
Deputi Bidang Koordinasi Investasi dan Pertambangan Kemenko Marves, Septian Hario Seto menyoroti, pentingnya melihat tren harga dalam jangka panjang, dengan menyebutkan bahwa harga nikel saat ini, meskipun menurun, masih lebih tinggi daripada sepuluh tahun lalu.
Meskipun beberapa negara seperti Australia dan Prancis mengeluhkan penurunan harga nikel, Deputi Marves mengingatkan bahwa harga yang terlalu tinggi dapat berdampak negatif pada industri mobil listrik.
Baca Juga: Menilik Potensi Nikel, Peluang Atau Usaha?
Menurutnya, harga ideal untuk nikel saat ini sekitar USD17.000 per ton untuk mempertahankan keseimbangan antara penambang dan pabrik pengolahan, meskipun mungkin tidak seheboh dua tahun sebelumnya.
"Jadi harga kira-kira harus USD17.000 per ton, penambang smelter masih oke, mungkin gak se-wow 2 tahun terakhir tapi cukup baik," kata Seto di sela acara bertajuk Indonesia Economic Outlook 2024: Year of Optimism, Kamis (29/2/2024).
Kemudian, Deputi Marves juga menolak klaim bahwa penurunan harga nikel disebabkan oleh lonjakan pasokan dari Indonesia. Harga nikel dunia telah mencapai posisi terendah dalam tiga tahun terakhir, yang disebabkan oleh meningkatnya pasokan dari Indonesia.
Saat ini, dari London Metal Exchange (LME) pada penutupan Senin (22/1/2024), harga nikel dunia kontrak tiga bulan turun menjadi USD16.036 per ton pada 22 Januari 2024, level terendah sejak April 2021.
Kondisi pasokan yang melimpah dibandingkan permintaan menjadi faktor utama penurunan kinerja nikel, dengan perkiraan bahwa harga akan tetap rendah dalam waktu dekat karena surplus di pasar global dan perlambatan ekonomi global.
Menurut INSG, harga rata-rata nikel global pada kuartal pertama tahun ini adalah sekitar USD16.600 per ton, dengan proyeksi kenaikan bertahap menjadi rata-rata USD16.813 per ton pada tahun 2024.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 6Prediksi Skor Roma vs Genoa 18 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan
- 7Cara Cek Desil Online Oktober 2026 Pakai NIK KTP, Ini Link Resminya
- 8Kalender Jawa 16 Oktober 2026: Weton Jumat Legi Disebut Punya Karakter Unik
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK









