Akurat
Pemprov Sumsel

Ketum ASRIM: Penjualan Minuman Ringan Anjlok 45 Persen Selama 3 Tahun, Jadikan Lebaran 2024 Momentum Positif

Silvia Nur Fajri | 13 Maret 2024, 12:23 WIB
Ketum ASRIM: Penjualan Minuman Ringan Anjlok 45 Persen Selama 3 Tahun, Jadikan Lebaran 2024 Momentum Positif

AKURAT.CO Di balik latar belakang konflik dan dampak pandemi global, industri minuman ringan di Indonesia menemui tantangan yang berat.

Ketua Umum Asosiasi Industri Minuman Ringan (ASRIM), Triyono Prijosoesilo memberikan komentar mengenai tren penjualan minuman ringan yang anjlok selama beberapa tahun terakhir.

Triyono mengungkapkan bahwa penjualan minuman ringan turun 45% selama tiga tahun sejak pandemi Covid-19, meskipun ada sedikit kenaikan pada 2022-2023. Fokus pada momen Lebaran untuk dorongan positif, tapi tantangan ekonomi tetap ada.

Baca Juga: Singapura Jadi Negara Pertama yang Membatasi Iklan Minuman Ringan

"Tentunya kita melihat penurunan penjualan hingga mencapai 45 persen selama tiga tahun sejak pandemi Covid-19 menjadi sorotan utama. Meskipun pada 2022-2023 terlihat tanda-tanda kenaikan pertumbuhan, namun hingga tahun 2024 ini, beberapa momen penting masih menjadi sorotan, termasuk momen Lebaran yang diharapkan dapat memberikan dorongan positif," ujarnya dalam acara 'Kinerja Industri Minuman di Tahun 2023, serta Peluang dan Tantangan di Tahun 2024', di Hotel Mercure Gatot Subroto, Jakarta, Rabu (13/3/2024).

Dalam konteks industri minuman ringan, Triyono menjelaskan bahwa kategori minuman tersebut mencakup berbagai jenis minuman siap saji non-alkohol, seperti teh siap minum, air minum, dan jus. 

"Industri minuman berdasarkan kategori menyasar kepada konsumen yang beragam, ada yang mungkin minum teh siap minum di pagi hari, sementara ada yang lebih memilih air minum atau jus," tambahnya.

Namun di tengah tren penurunan penjualan, menurut data yang disampaikan oleh Triyono, jumlah perusahaan dan tenaga kerja dalam industri minuman ringan mengalami peningkatan antara tahun 2020 hingga 2023. Namun, pertumbuhan tersebut terhambat oleh beberapa faktor, termasuk kondisi ekonomi makro dan kenaikan harga. 

"Penurunan konsumsi minuman ringan juga dipengaruhi oleh kondisi ekonomi yang tidak stabil, baik sebelum maupun pasca pandemi. Kenaikan harga juga menjadi faktor yang ikut mempengaruhi," paparnya.

Triyono juga menyoroti tantangan yang dihadapi oleh industri minuman ringan, seperti kebutuhan akan inovasi produk, perhatian terhadap isu lingkungan, dan dukungan dari pemerintah. 

"Kami berusaha membangun generasi yang lebih baik dalam hal konsumsi minuman, dengan fokus pada inovasi produk dan peningkatan kesadaran lingkungan. Dukungan pemerintah juga sangat penting bagi kelangsungan industri ini," ungkapnya.

Meskipun menghadapi berbagai tantangan, Triyono optimis bahwa dengan upaya yang tepat, industri minuman ringan dapat terus berkembang dan memberikan kontribusi positif bagi perekonomian Indonesia.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.