Akurat
Pemprov Sumsel

Sistem Impor Perlu Dievaluasi untuk Mencegah Kenaikan Harga Pangan saat Nataru dan Lebaran

Naufal Lanten | 11 Desember 2025, 14:58 WIB
Sistem Impor Perlu Dievaluasi untuk Mencegah Kenaikan Harga Pangan saat Nataru dan Lebaran

 

AKURAT.CO Kenaikan harga pangan menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru) maupun Lebaran bukan fenomena baru. Setiap tahun, permintaan masyarakat melonjak drastis dan memicu kenaikan harga sejumlah komoditas, mulai dari beras, gula, hingga daging. Meski pola ini sudah dapat diprediksi, mekanisme pengendaliannya dinilai belum berjalan optimal.

Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) menyoroti perlunya langkah mitigasi yang lebih cepat dan adaptif dari pemerintah. Salah satu fokus evaluasi adalah sistem Neraca Komoditas (NK) — kebijakan tata kelola impor yang diterapkan sejak 2022. Sistem ini bertujuan menyeimbangkan pasokan dan permintaan, tetapi dalam praktiknya dinilai belum cukup responsif dalam menghadapi lonjakan kebutuhan pada hari-hari besar nasional.

Kenapa Harga Pangan Masih Sulit Dijaga?

Menurut CIPS, sejumlah persoalan teknis membuat harga pangan tetap rentan naik di puncak musim permintaan. Data pasokan belum sepenuhnya akurat, proses revisi kuota impor sering berjalan lambat, dan alokasi kuota tidak selalu mencerminkan kebutuhan di lapangan.

Situasi ini terlihat pada Maret 2024, ketika harga daging sapi meningkat tajam menjelang Lebaran akibat keterlambatan penerbitan izin impor. Industri pun ikut merasakan ketidakpastian karena regulasi yang dianggap belum stabil.

Head of Agriculture-Food and Beverages EuroCham Indonesia, Dhedy Adi Nugroho, menegaskan hal tersebut secara langsung.

“Kepastian hukum, kepastian regulasi itu mengurangi ketidakpastian dalam proses kami berusaha, dan Neraca Komoditas ini sampai sekarang kami masih melihat belum bisa memberikan kepastian dalam berusaha," ujar Dhedy melalui hasil riset yang diterima AKURAT.CO, dikutip Kamis, 11 Desember 2025.

Masalah serupa juga tampak dalam analisis CIPS terhadap komoditas beras dan gula. Penerapan NK belum mampu menghadirkan stabilitas harga yang lebih baik dibandingkan mekanisme sebelumnya.

Bencana Alam Memperparah Kondisi Pasokan

Di luar persoalan administratif, faktor cuaca juga mempengaruhi ketersediaan pangan. Banjir dan longsor yang melanda Sumatra membuat banyak petani kehilangan lahan dan gagal panen. Situasi ini semakin menekan pasokan komoditas penting menjelang puncak kebutuhan di akhir dan awal tahun.

Peneliti CIPS, Hasran, mengingatkan bahwa perubahan kondisi pasokan harus direspons cepat agar pasar tidak kekurangan barang.

"Perubahan kondisi pasokan dapat memengaruhi ketersediaan barang di pasar, sehingga respons impor yang tepat waktu menjadi sangat penting. Mekanisme yang responsif akan membantu menjaga pasokan tetap stabil dan harga pangan tetap terjangkau," ujarnya.

Kritik Terhadap Neraca Komoditas: Dinilai Mirip Sistem Kuota Lama

Meski diklaim sebagai mekanisme yang lebih modern, NK dinilai masih terlalu mirip dengan sistem kuota impor tradisional. Keduanya sama-sama bergantung pada alokasi kuota yang ditetapkan dari pusat. Akibatnya, pelaku usaha sulit menyesuaikan impor secara fleksibel saat permintaan meningkat.

Dalam konteks Nataru dan Lebaran—periode ketika konsumsi masyarakat melesat—sistem yang lambat dan kaku membuat stabilisasi harga menjadi semakin sulit dicapai.

Solusi yang Diusulkan CIPS: Pendekatan Berbasis Pasar

Untuk mencegah kelangkaan dan menekan kenaikan harga tahunan, CIPS merekomendasikan pemerintah mempertimbangkan pergeseran dari sistem kuota menuju mekanisme berbasis pasar yang lebih transparan. Pendekatan ini memungkinkan pelaku industri menambah pasokan secara fleksibel tanpa terhambat birokrasi yang panjang.

Dengan mekanisme pasar yang lebih terbuka, impor bisa disesuaikan dengan kondisi real-time di lapangan, sehingga risiko lonjakan harga dapat ditekan.

Di saat bersamaan, pemerintah tetap bisa mendukung petani lokal melalui langkah seperti:

  • memperluas akses pasar,

  • modernisasi proses produksi,

  • serta memperkuat penyerapan hasil panen.

Pendekatan ganda seperti ini memungkinkan stabilisasi harga tanpa mengorbankan kesejahteraan produsen dalam negeri.

Menatap Nataru dan Lebaran: Harga Stabil Masih Mungkin Terwujud

Meski tantangan yang dihadapi tidak sederhana, berbagai rekomendasi kebijakan menunjukkan bahwa stabilitas harga pangan tetap dapat dicapai. Kombinasi data yang akurat, proses impor yang cepat, dan kebijakan yang adaptif menjadi kunci agar masyarakat tidak terus-menerus menghadapi lonjakan harga pada momen-momen besar nasional.

Kalau kamu mengikuti perkembangan seputar kebijakan pangan dan dinamika harga komoditas, pantau terus update selengkapnya di AKURAT.CO agar tidak ketinggalan informasi terbaru.

Baca Juga: ESDM Ungkap RI Kehilangan Rp500 T Devisa akibat Impor Minyak

Baca Juga: Front Loading Eksportir Jadi Perisai RI Hadapi Tarif Impor Trump

FAQ

1. Kenapa harga pangan selalu naik saat Nataru dan Lebaran?
Harga pangan cenderung meningkat karena lonjakan permintaan masyarakat pada periode tersebut. Ketersediaan barang sering tidak sejalan dengan kebutuhan, sehingga harga beberapa komoditas seperti beras, gula, dan daging naik.

2. Apa peran Neraca Komoditas (NK) dalam menjaga harga pangan?
NK adalah sistem tata kelola impor yang bertujuan menyeimbangkan pasokan dan permintaan. Sistem ini seharusnya membantu menjaga stabilitas harga, tetapi dalam praktiknya masih dianggap belum cukup responsif menjelang hari besar nasional.

3. Mengapa Neraca Komoditas dinilai belum efektif?
Beberapa masalah yang terjadi meliputi data pasokan yang belum akurat, revisi kuota yang lambat, dan alokasi kuota yang tidak sesuai kebutuhan. Kondisi ini membuat pasokan sering terlambat masuk saat permintaan tinggi.

4. Contoh kasus kegagalan NK terjadi kapan?
Salah satu contohnya terjadi pada Maret 2024, ketika harga daging sapi naik menjelang Lebaran akibat keterlambatan penerbitan izin impor.

5. Apa pendapat pelaku industri terhadap sistem NK?
Pelaku industri menilai NK belum memberikan kepastian regulasi. Mereka menginginkan tata kelola impor yang lebih stabil, cepat, dan dapat diprediksi.

6. Bagaimana dampak bencana alam terhadap harga pangan?
Banjir dan longsor, seperti yang terjadi di Sumatra, dapat merusak lahan pertanian dan menyebabkan gagal panen. Hal ini mengurangi pasokan dan meningkatkan risiko kenaikan harga, terutama menjelang musim permintaan tinggi.

7. Apa solusi yang diusulkan CIPS untuk mencegah lonjakan harga?
CIPS merekomendasikan peralihan dari sistem kuota menuju mekanisme berbasis pasar yang lebih transparan dan fleksibel. Pendekatan ini memungkinkan pasokan tambahan masuk lebih cepat sesuai dinamika kebutuhan.

8. Apakah kebijakan impor berbasis pasar merugikan petani lokal?
Tidak. Pemerintah tetap bisa memperkuat petani melalui modernisasi produksi, perluasan akses pasar, dan penyerapan hasil panen. Pendekatan ini bisa berjalan bersamaan dengan mekanisme impor yang lebih responsif.

9. Bisakah harga pangan stabil saat Nataru dan Lebaran?
Bisa, asalkan kebijakan impor lebih adaptif, data pasokan diperbarui secara akurat, dan proses birokrasi dipercepat. Dengan sistem yang responsif, masyarakat bisa mendapatkan harga yang lebih terjangkau.

10. Mengapa impor responsif penting pada periode permintaan tinggi?
Impor yang cepat dan tepat waktu membantu mengisi kekurangan pasokan di dalam negeri. Tanpa respons yang baik, risiko kelangkaan dan lonjakan harga menjadi lebih besar.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.