AKURAT.CO Output industri bernilai tambah di China, yang merupakan salah satu indikator ekonomi penting, naik 6,7 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada April 2024, menurut Biro Statistik Nasional (NBS) China pada Jumat (17/5).
Pertumbuhan tersebut meningkat 2,2 poin persentase dibandingkan dengan Maret, ujar juru bicara NBS China Liu Aihua melalui lansiran Reuters. Dalam basis bulanan, output industri China naik tipis 0,97% pada April dibandingkan bulan sebelumnya. Dari Januari hingga April tahun ini, output industri naik 6,3%(yoy), yakni 0,2%lebih tinggi dibandingkan Januari hingga Maret.
Output industri digunakan untuk mengukur aktivitas perusahaan yang memiliki omzet bisnis utama tahunan minimal CNY20 juta (sekitar Rp22,4 miliar).
Baca Juga: IMF Kritik Perang Dagang AS-China yang Kembali Memanas
Di satu sisi, krisis yang berlarut-larut di sektor properti, sebuah pilar utama ekonomi, tetap menjadi perhatian utama para pembuat kebijakan, konsumen dan investor.
Harga rumah baru turun dengan laju tercepat dalam lebih dari sembilan tahun terakhir di bulan April, data terpisah menunjukkan pada hari Jumat, karena upaya-upaya untuk menopang sektor yang sedang sakit ini hanya menunjukkan sedikit tanda-tanda membuahkan hasil.
Properti telah terpukul oleh tindakan keras peraturan dan masih menyeret pertumbuhan secara keseluruhan, mendorong pihak berwenang untuk menggandakan upaya dukungan.
China pada hari Jumat mengumumkan rencana bagi pemerintah daerah untuk membeli beberapa apartemen dan menjanjikan upaya keras untuk menyelesaikan rumah-rumah yang belum selesai, sebagai bagian dari babak baru langkah-langkah untuk menstabilkan sektor properti yang dilanda krisis.
Kota Hangzhou, rumah bagi raksasa teknologi Alibaba, dan Xian mencabut larangan pembelian rumah di awal bulan ini, yang merupakan upaya terbaru dari pemerintah lokal untuk mendorong penjualan rumah.
Sementara isu over capacity juga masih berlanjut. Meskipun ekspor telah menjadi titik terang bagi China, para analis mengatakan bahwa masih belum jelas apakah kenaikan ini akan berlanjut, terutama karena Washington menghidupkan kembali sikap proteksionisme.
Pemerintahan Biden minggu ini meluncurkan kenaikan tarif yang tajam pada ekspor senilai USD18 miliar, termasuk empat kali lipat pungutan pada kendaraan energi baru China. Hal ini terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran AS bahwa investasi di sektor pabrik China memperburuk kelebihan kapasitas dalam ekonomi global.
Data aktivitas hari Jumat menunjukkan pertumbuhan output peralatan cetak 3D, kendaraan energi baru dan produk sirkuit terintegrasi pada dua digit. AS menuduh China menciptakan kelebihan kapasitas industri di sektor-sektor ini.
Uni Eropa juga telah menyatakan keprihatinannya atas barang-barang murah China yang membanjiri pasarnya, membuka front baru dalam ketegangan perdagangan dengan Beijing, yang dimulai dengan tarif impor pemerintahan Trump pada tahun 2018.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK










