DPR Cecar Usulan Tambahan Anggaran Kementan Rp68 Triliun untuk 1 Juta Hektare Sawah
Demi Ermansyah | 6 September 2024, 17:36 WIB

AKURAT.CO Beberapa anggota Komisi IV DPR RI mengomentari usulan tambahan anggaran Kementerian Pertanian (Kementan) untuk tahun 2025 yang mencapai Rp26,9 triliun, khususnya untuk mencetak sawah seluas 1 juta hektar.
Menurut anggota komisi IV fraksi Glokar, Hanan Rozak menyarankan agar usulan ini dikaji lebih lanjut. Sebab menurut Hanan cetak sawah ini tidak harus semuanya dilakukan di 2025, tapi bisa dilakukan bertahap hingga 2029.
"Kalau saya setuju dengan sebagian besar usulan anggaran Rp68 triliun, tapi untuk yang 1 juta hektar sawah ini, perlu dipertimbangkan lebih matang. Apakah harus dikerjakan semua di 2025 atau lebih baik dilakukan bertahap, misalnya di 2026, 2027, dan seterusnya. Yang penting target 1 juta hektar tercapai sampai 2029," kata Hanan dalam rapat Komisi IV DPR RI bersama pemerintah pada Jumat (6/9/2024).
Tak hanya itu saja, dirinya juga menambahkan bahwa jika sawah dicetak di 2025, hasil panennya baru bisa dirasakan pada 2026. Hanan mempertanyakan bagaimana pemerintah akan memastikan produksi beras yang ditargetkan mencapai 54-55 juta ton pada 2025 tetap aman, tanpa perlu mengimpor beras lagi.
"Pak Menteri, saya berharap di 2025 fokus dulu ke produksi yang sudah ditargetkan 54-55 juta ton itu, biar kita bisa pastikan nggak perlu impor beras. Kalau soal cetak sawah, kita bisa nikmati hasilnya di 2026," lanjutnya.
Hanan juga mengingatkan bahwa sebelum meminta tambahan anggaran, Kementerian Pertanian sebaiknya memastikan dulu kondisi sosial dan lapangan di area yang akan dicetak sawah. Menurutnya, perlu dipastikan apakah lahan tersebut benar-benar bebas dari pemukiman warga.
"Di 1 juta hektar itu, ada penghuninya nggak? Sebelum cetak sawah, perlu dilakukan rekayasa sosial dan pengkondisian lapangan. Soalnya, kalau ternyata ada 1 juta keluarga di situ, ya ini perlu dipikirkan. Apa anggaran tambahan sebesar Rp68 triliun ini masuk akal?" ujar Hanan.
Senada dengan Hanan, Guntur Sasono selaku anggota Komisi IV dari Partai Demokrat menyampaikan bahwa meskipun Demokrat menyetujui anggaran yang diajukan Kementan, dirinya menekankan pentingnya tanggung jawab Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman atas hasil produksi pertanian. Ia khawatir anggaran besar hanya akan habis untuk cetak sawah, tanpa memperhatikan teknis intensifikasi pertanian yang penting.
"Pak Menteri, anggaran tambahan ini besar sekali, terutama untuk cetak sawah. Harapan kami, hasil produksinya tetap jadi tanggung jawab Bapak, jangan cuma cetak sawah tapi lupa memperhatikan teknis intensifikasi pertanian. Kami juga berharap Indonesia bisa stop impor beras di 2025," tegas Guntur.
"Pak Menteri, saya berharap di 2025 fokus dulu ke produksi yang sudah ditargetkan 54-55 juta ton itu, biar kita bisa pastikan nggak perlu impor beras. Kalau soal cetak sawah, kita bisa nikmati hasilnya di 2026," lanjutnya.
Hanan juga mengingatkan bahwa sebelum meminta tambahan anggaran, Kementerian Pertanian sebaiknya memastikan dulu kondisi sosial dan lapangan di area yang akan dicetak sawah. Menurutnya, perlu dipastikan apakah lahan tersebut benar-benar bebas dari pemukiman warga.
"Di 1 juta hektar itu, ada penghuninya nggak? Sebelum cetak sawah, perlu dilakukan rekayasa sosial dan pengkondisian lapangan. Soalnya, kalau ternyata ada 1 juta keluarga di situ, ya ini perlu dipikirkan. Apa anggaran tambahan sebesar Rp68 triliun ini masuk akal?" ujar Hanan.
Senada dengan Hanan, Guntur Sasono selaku anggota Komisi IV dari Partai Demokrat menyampaikan bahwa meskipun Demokrat menyetujui anggaran yang diajukan Kementan, dirinya menekankan pentingnya tanggung jawab Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman atas hasil produksi pertanian. Ia khawatir anggaran besar hanya akan habis untuk cetak sawah, tanpa memperhatikan teknis intensifikasi pertanian yang penting.
"Pak Menteri, anggaran tambahan ini besar sekali, terutama untuk cetak sawah. Harapan kami, hasil produksinya tetap jadi tanggung jawab Bapak, jangan cuma cetak sawah tapi lupa memperhatikan teknis intensifikasi pertanian. Kami juga berharap Indonesia bisa stop impor beras di 2025," tegas Guntur.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 6Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK









