Diversifikasi Energi Jadi Program Utama Prabowo Wujudkan Kemandirian Energi
Hefriday | 21 Oktober 2024, 14:26 WIB

AKURAT.CO Dalam pidato pertamanya sebagai Presiden, Prabowo Subianto menyoroti pentingnya diversifikasi energi sebagai langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan Indonesia pada impor minyak mentah. Saat ini, Indonesia mengimpor sekitar 1 juta barel minyak mentah per hari, yang menjadi beban besar bagi perekonomian.
Prabowo menawarkan solusi melalui penggunaan bahan bakar alternatif seperti biodiesel yang terbuat dari minyak kelapa sawit (CPO) dan singkong. Diversifikasi energi ini diharapkan tidak hanya membantu mengurangi beban impor, tetapi juga memperkuat kemandirian energi nasional.
"Dengan adanya diversifikasi energi, kita bisa mengurangi ketergantungan pada bahan bakar impor," ujar Prabowo dalam pidato perdananya, Minggu (20/10/2024).
Selain fokus pada biodiesel, Prabowo juga menekankan perlunya mempercepat eksplorasi minyak dan gas dalam negeri. Langkah ini dianggap penting untuk menutupi kekurangan energi yang selama ini masih ditutupi oleh impor.
Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan konflik geopolitik, strategi ini diharapkan mampu membantu Indonesia mencapai kemandirian energi yang lebih besar. Prabowo juga menyoroti pentingnya pemanfaatan sumber daya alam dalam negeri untuk memperkuat kemandirian nasional, baik di bidang energi maupun pangan.
Langkah ini, menurutnya, akan memberikan dampak positif bagi perekonomian nasional, terutama dalam menjaga stabilitas di tengah tantangan global yang semakin kompleks.
Tak hanya itu, untuk menunjukan keseriusannya akan kemandirian energi, Prabowo juga melantik Luhut Binsar Panjaitan sebagai Kepala Dewan Ekonomi Nasional atau DEN, meskipun pada malam sebelumnya nama Luhut tak sempat muncul saat Prabowo membacakan susunan Kabinet Merah Putih yang terdiri dari 56 menteri koordinator, menteri teknis, kepala badan dan 53 wakilnya.
Lembaga ini nantinya akan memberikan masukan dan rekomendasi atau economic think thank yang akan diisi oleh para pakar ekonomi untuk mengantisipasi tangangan perekonomian, dari ketahanan pangan, transisi energi, perkembangan teknologi, perubahan iklim, hingga geopolitik.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








