Outlook Manufaktur 2025: Angin Masih Berhembus ke Sektor Padat Modal dan Tren Smart Factory

AKURAT.CO 2024 menjadi tahun yang ironis bagi industri manufaktur atau pengolahan di Tanah Air. Bagaimana tidak, ketika hilirisasi membuat sektor padat modal berbasis komoditas berkembang pesat, sektor padat karya termasuk TPT dan alas kaki malah terjungkal.
Di tengah kesuksesan berbagai pabrik smelter yang telah dibangun dan berhasil menyerap ribuan tenaga kerja (Smelter Bauksit di Menpawah milik Inalum dan Antam, Smelter Katoda di Gresik milik PTFI dan lainnya), ada kabar pailitnya emiten tekstil PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex) dan tutupnya pabrik emiten alas kaki PT Sepatu Bata Tbk (BATA) di Purwakarta.
Menurut riset dan big data BCA, tekanan yang dialami sektor padat karya lantaran membubungnya ongkos produksi dan disrupsi rantai pasok (di luar tren pergeseren konsumen dan penurunan daya beli masyarakat).
Baca Juga: Mendag: Penurunan Impor November Seiring Kontraksi PMI
Alhasil, PHK di sektor manufaktur formal telah menekan daya beli kelas menengah ke bawah dan juga penerimaan UMKM. Di sisi lain, segmen lain seperti perusahaan besar, sektor pertanian, pekerja kantoran, dan kelas menengah ke atas, meski relatif kurang terdampak, mereka semakin lebih berhati-hati dan mengurangi belanja.
Sementara itu, selain dampak positif ke perekonomian yang dihasilkan oleh program hilirisasi mineral seperti meningkatkan nilai tambah ekspor, tetapi juga meningkatkan dependensi Indonesia pada fluktuasi harga komoditas dan permintaan China. Kondisi ini meningkatkan risiko di 2025 seiring penguatan USD, deflasi China, serta eskalasi perang dagang AS-China.
Dengan pemerintah Kabinet Merah Putih di bawah Komando Presiden Prabowo yang masih memprioritaskan hilirisasi (mineral dan SDA lainnya), nampaknya angin masih akan berhembus ke arah industri padat modal di tahun 2025 ini.
BCA mencatat, perlu ada dorongan signifikan dari sisi belanja pemerintah agar ekonomi terstimulus atau bergerak lagi. Pengeluaran pemerintah yang berpengaruh besar terhadap siklus bisnis akhir-akhir ini, sayangnya malah menunjukkan pertumbuhan yang lebih moderat pasca-Pemilu di Februari 2024.
"Mayoritas indikator memberi sinyal pertumbuhan nominal dan perputaran uang yang masih cukup lambat ke depannya, kecuali pemerintah baru dapat merealisasikan program belanja mereka dengan segera," tulis riset tersebut dikutip Jumat (3/1/2025).
Dari sisi perbankan yang jadi 'sumber mata air' bagi perekonomian nasional, pengetatatn likuiditas juga menjadi tantangan tersendiri di 2025. Pasalnya, kebijakan fiskal yang ekspansif, kebutuhan capex (capital expenditure) atau belanja modal dari industri padat modal, serta pengetatan likuiditas global berujung pada perebutan likuiditas yang mengorbankan likuiditas sektor swasta lainnya (termasuk rumah tangga).
"Fenomena ini diperparah oleh tingkat suku bunga riil yang tinggi seiring upaya kuat BI mempertahankan Rupiah. Pada akhirnya, kebijakan moneter yang lebih pragmatis mungkin diperlukan untuk menjaga momentum belanja di tengah kelanjutan tekanan global," tulis riset itu lagi.
Tren Smart Factory
Tahun 2025 juga ditaksir bakal menjadi era penting bagi transformasi digital di sektor ini, didorong oleh kemajuan teknologi dan perubahan kebutuhan pasar. Setidaknya ada 5 tren yang akan mewarnai perubahan struktural sektor manufaktur Indonesia di 2025.
1. Smart Factory (Era Pabrik Pintar)
Smart Factory menjadi tonggak utama dalam revolusi industri. Dengan mengadopsi teknologi seperti AI, Machine Learning, atau Predictive Maintenance, perusahaan dapat mencegah kerusakan mesin sebelum terjadi, meningkatkan efisiensi produksi, dan percepat pengambilan keputusan.
Selain itu, pabrik pintar juga mampu menyesuaikan produksi secara otomatis berdasarkan permintaan pelanggan, menciptakan lini produksi yang lebih mandiri dan minim intervensi manusia. Solusi ini bukan hanya efisien, tetapi membawa fleksibilitas dalam memenuhi kebutuhan pasar.
2. Pabrik Mikro (Produksi Dekat dengan Pasar)
Konsep manufaktur terdesentralisasi melalui micro factories menjadi tren yang semakin relevan. Pabrik mikro memungkinkan perusahaan memproduksi barang lebih dekat dengan konsumen, mengurangi biaya pengiriman, dan dampak lingkungan.
Sebagai contoh, produsen kendaraan listrik kini mulai membangun pabrik mikro di pasar utama mereka, menciptakan operasional yang responsif, hemat biaya, dan ramah lingkungan.
3. Sustainability (Fokus pada Produksi Berkelanjutan)
Keberlanjutan menjadi prioritas utama bagi industri manufaktur. Dengan memanfaatkan AI, IoT, dan robotika, perusahaan dapat mengoptimalkan penggunaan energi, mengurangi limbah, dan meningkatkan efisiensi operasional.
Laporan menunjukkan bahwa 46% perusahaan manufaktur berencana investasi dalam inisiatif berkelanjutan dalam lima tahun mendatang. Teknologi ini tidak hanya membawa manfaat lingkungan, tetapi memberikan keunggulan kompetitif bagi perusahaan.
4. Metaverse (Transformasi dalam Pelatihan dan Monitoring)
Teknologi metaverse membawa perubahan baru dalam pelatihan dan pemantauan untuk menjalankan operasional perusahaan. Dengan kacamata pintar dan simulasi virtual, pekerja dapat dilatih secara efisien tanpa mengganggu produksi.
Metaverse juga memungkinkan pemantauan jarak jauh bahkan pelaksanaan virtual maintenance, meningkatkan keamanan serta produktivitas operasional.
5. Experience Hub (Pelanggan sebagai Bagian dari Produksi)
Interaksi langsung dengan pelanggan melalui experience hub akan menjadi tren baru. Teknologi seperti 3D printing dan otomatisasi pintar memungkinkan pelanggan mempersonalisasi produk mereka dan menyaksikan proses produksinya secara langsung.
Misalnya, beberapa perusahaan retail sudah mendaur ulang pakaian lama menjadi produk baru di depan mata pelanggan mereka. Konsep ini memberikan pengalaman unik sekaligus memperkuat hubungan antara merek dan konsumen.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










