Kebut Swasembada Pangan, Pemerintah Fokus ke Irigasi dan Optimalisasi Bulog
Hefriday | 2 Februari 2025, 17:57 WIB

AKURAT.CO Pemerintah semakin gencar dalam mewujudkan swasembada pangan, salah satunya melalui perbaikan sistem irigasi nasional yang telah mendapat persetujuan Presiden Prabowo Subianto.
Langkah ini diyakini akan memperkuat sektor pertanian, khususnya dalam meningkatkan produktivitas padi dan jagung.
Menteri Koordinator bidang Pangan, Zulkifli Hasan mengumumkan bahwa Instruksi Presiden (Inpres) terkait irigasi telah resmi ditandatangani.
"Perbaikan sistem irigasi ini tidak hanya akan mendukung penyediaan air bagi pertanaman padi, tetapi juga akan meningkatkan indeks pertanaman (IP), yang berkontribusi langsung pada stabilitas ketahanan pangan nasional" ucap Zulhas di Kemenko Bidang Pangan, Jumat (31/1/2025).
Dalam kebijakan tersebut, pemerintah telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp12 triliun untuk pembangunan dan revitalisasi infrastruktur jaringan irigasi pertanian. Dengan adanya sistem irigasi yang lebih baik, risiko gagal panen akibat kekeringan atau distribusi air yang tidak merata dapat diminimalkan.
Selain irigasi, pemerintah juga telah menyusun neraca komoditas 2025 dan menerbitkan Peraturan Presiden mengenai pupuk. Menurut Zulkifli, kebijakan ini menjadi empat pilar utama dalam menopang ketahanan pangan nasional, yaitu irigasi, pupuk, penyuluhan pertanian, dan manajemen stok pangan.
Optimisme terhadap swasembada pangan semakin kuat setelah laporan Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan bahwa produksi padi Indonesia diprediksi naik 50% pada Februari 2025.
Panen yang lebih cepat ini juga akan didukung oleh peningkatan hasil produksi jagung yang semakin pesat. Di sisi lain, pemerintah juga memberikan perhatian khusus terhadap optimalisasi Perum Bulog sebagai penyangga utama dalam penyerapan beras petani.
"Bulog telah mendapatkan total anggaran Rp39 triliun untuk menyerap 3 juta ton beras hingga April 2025" sebut Zulhas.
"Dari total anggaran tersebut, Rp23 triliun telah tersedia, sementara Rp16,6 triliun lainnya telah disepakati oleh Menteri Keuangan. Dengan dana tersebut, Bulog diwajibkan untuk menyerap beras dari petani dalam periode panen raya pada Februari, Maret, dan April 2025" tambahnya.
Manajemen stok pangan juga menjadi perhatian utama pemerintah. Zulkifli menegaskan bahwa dengan ketersediaan dana yang cukup besar, Bulog tidak memiliki alasan untuk tidak membeli gabah dan beras dari petani.
Hal ini diharapkan dapat menjaga harga beras tetap stabil dan menghindari dominasi impor yang berpotensi merugikan petani lokal.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








