Indonesia Perkuat Posisi di Industri Antariksa, Bappenas Dorong Kolaborasi dan Inovasi
Gianto | 7 Februari 2025, 23:10 WIB

AKURAT.CO Pemerintah Indonesia semakin serius dalam mengembangkan industri antariksa sebagai bagian dari strategi pembangunan nasional.
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas), Rachmat Pambudy, menegaskan bahwa sektor ini memiliki peran penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi, pertahanan, dan transformasi digital Indonesia.
Menurut Rachmat, keberadaan Asosiasi Antariksa Indonesia (AAI) menjadi langkah strategis dalam menyatukan visi dan strategi antar pemangku kepentingan. “Melalui kolaborasi yang kuat, kita dapat menjadikan Indonesia sebagai pemain utama dalam industri ini,” ujarnya dalam pertemuan dengan AAI di Gedung Bappenas, Jakarta, Jumat (7/2/2025).
Rachmat menekankan bahwa pengembangan sektor antariksa telah dimasukkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025-2045.
Teknologi luar angkasa dinilai sebagai salah satu pilar utama dalam pembangunan nasional, terutama dalam mendukung berbagai bidang seperti pertahanan, komunikasi, navigasi, hingga eksplorasi luar angkasa.
“Keantariksaan telah menjadi bagian penting dalam RPJPN 2025-2045. Ini bukan hanya tentang eksplorasi luar angkasa, tetapi juga bagaimana teknologi ini bisa dimanfaatkan untuk kepentingan nasional,” katanya.
Indonesia memiliki potensi besar dalam industri antariksa, mulai dari peluncuran roket, manufaktur satelit, hingga eksplorasi luar angkasa dan pengembangan teknologi pertahanan.
Peluncuran satelit Palapa A1 menjadi bukti bahwa Indonesia mampu bersaing dengan negara maju dalam pemanfaatan teknologi luar angkasa.
Namun, Rachmat menegaskan bahwa capaian ini baru merupakan langkah awal. Indonesia harus memastikan bahwa ekosistem industri antariksa terus berkembang secara berkelanjutan agar dapat mandiri secara teknologi dan memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas.
Bappenas menilai bahwa pemanfaatan teknologi satelit dapat memberikan dampak besar bagi pembangunan nasional.
Beberapa manfaat yang dapat diperoleh antara lain yaitu memperluas akses komunikasi ke wilayah terpencil, meningkatkan efisiensi layanan publik, termasuk dalam bidang pendidikan dan kesehatan mendukung pengembangan Internet of Things (IoT) dan transformasi digital, dan memperkuat sistem navigasi dan pemantauan data bumi, yang berguna bagi sektor pertahanan dan mitigasi bencana.
Rachmat berharap AAI dapat terus melanjutkan kesuksesan satelit Palapa dan mengembangkan satelit baru yang mendukung berbagai kebutuhan strategis Indonesia.
Meski memiliki potensi besar, Rachmat mengakui bahwa Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan dalam pengembangan industri antariksa. Beberapa kendala utama yang dihadapi adalah pertama kurangnya regulasi spesifik yang mengatur industri antariksa secara komprehensif.
Kedua, terbatasnya pendanaan sektor swasta, yang masih ragu untuk berinvestasi di bidang ini. Ketiga yaitu infrastruktur dan sumber daya manusia (SDM) yang belum memadai untuk mendukung industri antariksa secara mandiri.
“Kita tidak hanya membutuhkan kebijakan yang mendorong investasi, tetapi juga ekosistem inovasi yang mampu mempercepat pertumbuhan industri antariksa nasional. Ini termasuk penguatan SDM, pembenahan infrastruktur, dan kolaborasi lintas sektor,” ujar Rachmat.
Salah satu tantangan lain dalam pengembangan industri antariksa adalah perubahan kelembagaan yang terjadi setelah diterbitkannya Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 33 Tahun 2021. Regulasi ini mengalihkan fungsi Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) ke Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), yang berimbas pada pengadaan citra satelit.
Untuk mengatasi tantangan ini, pemerintah telah menyusun strategi pengembangan jangka pendek, menengah, dan panjang dalam industri satelit.
Meskipun industri antariksa masih didominasi oleh pemerintah, keterlibatan sektor swasta juga dinilai sangat penting. Negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan China telah sukses mengembangkan industri antariksa melalui kerja sama antara pemerintah dan perusahaan swasta seperti SpaceX, Blue Origin, dan OneWeb.
Indonesia juga perlu mendorong investasi dari perusahaan teknologi dalam negeri untuk mempercepat perkembangan industri ini. Rachmat menekankan bahwa regulasi yang mendukung investasi dan inovasi harus segera disusun agar industri antariksa nasional dapat tumbuh lebih cepat.
Dengan langkah-langkah strategis yang telah disiapkan, Rachmat optimistis bahwa Indonesia dapat menjadi pemain utama di industri antariksa global dalam beberapa dekade ke depan.
Keberhasilan ini tentu tidak bisa dicapai hanya dengan upaya pemerintah, tetapi juga memerlukan kolaborasi yang erat antara akademisi, industri, dan sektor swasta. Jika semua pihak bekerja sama, bukan tidak mungkin Indonesia akan menjadi salah satu negara yang diperhitungkan dalam eksplorasi dan pemanfaatan teknologi luar angkasa.
“Kita harus memastikan bahwa industri antariksa berkembang secara berkelanjutan, bukan hanya untuk kemajuan teknologi, tetapi juga untuk kepentingan strategis bangsa. Dengan inovasi dan kerja sama, Indonesia bisa sejajar dengan negara-negara maju dalam pemanfaatan teknologi luar angkasa,” tutup Rachmat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK







