AKURAT.CO Kementerian Perdagangan (Kemendag) Republik Indonesia menegaskan komitmennya dalam memperkuat industri lada nasional di tengah tekanan global.
Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kemendag, Djatmiko Bris Witjaksono, menyampaikan bahwa Pemerintah Indonesia terus berupaya memperkuat ketahanan serta daya saing lada nasional.
Menurutnya, lada tidak sekadar komoditas perdagangan, tetapi juga bagian dari warisan sejarah dan budaya yang memiliki nilai tinggi di mata dunia.
“Peringatan Hari Lada Internasional merupakan bentuk penghargaan global terhadap pentingnya komoditas ini. Pemerintah Indonesia berkomitmen untuk memperkuat sektor lada, baik dari segi produksi, promosi, maupun perlindungan terhadap petani,” ujar Djatmiko di sela peringatan Hari Lada Internasional 2025 yang digelar oleh International Pepper Community (IPC) di Hotel Pullman, belum lama ini.
Dirinya menekankan bahwa industri lada menghadapi sejumlah tantangan signifikan, mulai dari ketegangan perdagangan global, dinamika geoekonomi, isu keberlanjutan lingkungan, hingga meningkatnya tuntutan dari pelaku usaha dan konsumen.
Untuk itu, Djatmiko mendorong kolaborasi erat antara pemerintah, komunitas bisnis, dan organisasi internasional guna menjaga kepercayaan pasar serta menciptakan koordinasi kebijakan yang efektif.
Dalam konteks perdagangan global, Djatmiko menilai posisi IPC semakin strategis. Ia menyebut IPC memiliki peran penting sebagai jembatan komunikasi antara negara produsen dan konsumen, sekaligus sebagai penyedia informasi strategis dan platform dialog antar pelaku industri lada dunia.
Peringatan tahun ini juga menandai pergantian kepemimpinan di IPC. Djatmiko menyampaikan apresiasinya kepada Direktur Eksekutif IPC periode 2021—2025, Firna Azura Ekaputri Haji Marzuki dari Malaysia, dan menyambut Direktur Eksekutif baru, Marina Novira Anggraini dari Indonesia.
Ia berharap kepemimpinan baru akan membawa semangat inovasi dan diversifikasi pasar lada dunia.
Indonesia sendiri tercatat sebagai produsen lada ketiga terbesar secara global dengan luas lahan mencapai 163 ribu hektare. Pada tahun 2024, nilai ekspor lada Indonesia mencapai lebih dari USD311 juta, dengan lonjakan volume ekspor sebesar 105,8% dibandingkan tahun sebelumnya.
Meski mencatat kinerja positif, industri lada nasional masih menghadapi hambatan serius. Beberapa di antaranya adalah produktivitas yang menurun akibat usia tanaman yang tua, serangan penyakit, serta minimnya fasilitas pengolahan dan pascapanen yang memadai.
Dalam sesi diskusi, Direktur Perundingan Antar Kawasan dan Organisasi Internasional Kemendag, Natan Kambuno, memaparkan strategi pemerintah untuk pengembangan industri lada.
Strategi tersebut meliputi intensifikasi budidaya, pemanfaatan perjanjian perdagangan bebas, peningkatan produk olahan bernilai tambah, serta penguatan promosi di pasar internasional.
Sementara itu, Firna Azura Ekaputri menyuarakan kekhawatiran atas rencana pemerintah Amerika Serikat yang akan mengenakan tarif impor terhadap lada.
Dirinya menjelaskan bahwa permintaan tinggi terhadap lada hitam di AS bukan karena perpindahan produksi, tetapi karena tanaman lada tidak bisa dibudidayakan di wilayah tersebut.
Oleh karena itu, IPC sedang menyampaikan catatan resmi kepada Pemerintah AS agar lada dikecualikan dari daftar produk yang terkena tarif resiprokal.
Marina Novira Anggraini, Direktur Eksekutif IPC yang baru, mengajak seluruh pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, asosiasi, dan petani untuk berdialog bersama mencari solusi atas berbagai tantangan industri lada.
Ia juga menegaskan bahwa Indonesia sebagai tuan rumah Sekretariat IPC akan terus mendukung kerja sama multilateral demi mewujudkan perdagangan lada yang berkelanjutan dan inklusif.
Sebagai informasi, IPC merupakan organisasi antarpemerintah yang berdiri sejak 1972 dengan tujuan utama mempromosikan, mengoordinasikan, dan menyelaraskan pengembangan industri lada di negara-negara anggotanya.
Saat ini IPC memiliki lima anggota tetap yaitu India, Indonesia, Malaysia, Sri Lanka, dan Vietnam, serta dua anggota asosiasi yakni Papua Nugini dan Filipina. Ketujuh negara tersebut menyumbang sekitar 70% produksi lada dunia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 2Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 3Demo Hari Ini di Bundaran HI, BEM UI Bawa 8 Tuntutan, Apa Saja Isinya?
- 420 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 5Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 6Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 7BEM UI Demo 18 Agustus di Bundaran HI, Ternyata Ini 8 Tuntutannya!
- 8Ben-Gvir Serukan Pembunuhan 30–40 Orang di Gaza Tiap Malam, Netanyahu Dikritik dari Kanan
- 9Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk
- 10RUU Perampasan Aset Ditargetkan Sah Desember 2026










