Akurat
Pemprov Sumsel

RI-Belanda Perkuat Kerja Sama Strategis, Dorong Penyelesaian IEU-CEPA

Hefriday | 18 Juni 2025, 15:05 WIB
RI-Belanda Perkuat Kerja Sama Strategis, Dorong Penyelesaian IEU-CEPA

AKURAT.CO Pemerintah Indonesia dan Belanda kembali mempererat hubungan bilateral melalui pembahasan kerja sama di sektor-sektor strategis seperti energi terbarukan, maritim, dan pertanian.

Pertemuan ini berlangsung di Jakarta dan dihadiri oleh delegasi tinggi kedua negara, termasuk Wakil Menteri Perdagangan RI Dyah Roro Esti Widya Putri dan Wakil Menteri Hubungan Ekonomi Internasional Belanda Michiel Sweers.

Dalam kesempatan tersebut, Wamendag Roro menekankan pentingnya menyelesaikan Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Uni Eropa atau Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA).

Ia menilai kesepakatan ini krusial untuk memperkuat hubungan dagang dan menciptakan ekosistem bisnis yang kondusif antara Indonesia dan negara-negara Uni Eropa.

Baca Juga: Kemendag Promosikan Produk 15 UMKM RI di Osaka

“Kami mengapresiasi kemajuan signifikan dalam perundingan dan mendorong kedua pihak untuk mencapai kesepakatan substansial tahun ini. Sejumlah isu nontarif secara prinsip telah disepakati dan tim perunding kini berfokus menyusun rancangan hukum,” ujar Wamendag Roro dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Rabu (18/6/2025).

Wamendag Roro juga menyebut IEU-CEPA sebagai instrumen penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan serta mengatasi hambatan perdagangan yang bersifat diskriminatif.

Dirinya menegaskan bahwa ketentuan-ketentuan yang tidak sejalan dengan prinsip Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) harus diselesaikan melalui mekanisme yang adil dan setara.

Isu yang turut menjadi sorotan dalam pertemuan ini adalah European Union Deforestation-free Regulation (EUDR). Wamendag menyambut penundaan implementasi EUDR, tetapi menilai bahwa kebijakan tersebut tetap menyimpan potensi dampak negatif bagi petani kecil di Indonesia.

“Penundaan EUDR kami hargai, namun tidak menjawab kekhawatiran utama kami. Indonesia menilai kebijakan ini diskriminatif dan kontraproduktif terhadap upaya bersama menghadapi krisis iklim,” tegasnya.

Baca Juga: Kemendag Gandeng KPK Perkuat Whistleblowing System

Dari sisi lain, Wakil Menteri Belanda Michiel Sweers menyampaikan optimismenya terhadap penyelesaian IEU-CEPA. Ia menyatakan dukungan penuh atas kelanjutan negosiasi dan menegaskan bahwa kebijakan lingkungan Uni Eropa bertujuan menciptakan keberlanjutan jangka panjang.

“Kami percaya kolaborasi akan menemukan cara terbaik agar kebijakan lingkungan tidak menjadi beban sepihak dan justru mendorong kerja sama,” ujar Michiel.

Sweers juga menggarisbawahi potensi besar dalam kerja sama di sektor energi terbarukan, maritim, dan pertanian. Ia menyebut peningkatan infrastruktur dan digitalisasi sebagai kunci penguatan kolaborasi antara Indonesia dan Belanda, sejalan dengan transisi energi dan revolusi industri 4.0 yang tengah berlangsung secara global.

Pertemuan ini juga dihadiri oleh jajaran pejabat tinggi Indonesia, termasuk Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Fajarini Puntodewi, Duta Besar RI untuk Belanda Mayerfas, Sekretaris Ditjen PEN Arief Wibisono, Direktur Perundingan Bilateral Danang Prasta Danial, serta Atase Perdagangan RI di Den Haag Annisa Hapsari.

Dari sisi perdagangan, hubungan Indonesia dan Belanda menunjukkan tren positif. Berdasarkan data Kementerian Perdagangan RI, total perdagangan kedua negara pada tahun 2024 mencapai USD5,6 miliar, naik 18,2% dibandingkan tahun sebelumnya.

Ekspor Indonesia ke Belanda mencapai USD4,7 miliar, sementara impor tercatat sebesar USD982 juta, menghasilkan surplus perdagangan sebesar USD3,7 miliar bagi Indonesia.

Ekspor utama Indonesia ke Belanda mencakup asam lemak monokarboksilat, kopra dan turunannya, bungkil dan residu padat, minyak sawit, serta alas kaki. Adapun impor dari Belanda terdiri dari karton daur ulang, piranti penyimpanan, plastik daur ulang, alat pencukur rambut, dan pompa air. Komoditas ini mencerminkan hubungan dagang yang saling melengkapi dan terus berkembang.

Sementara itu, dari sisi investasi, Belanda menempati posisi ketujuh sebagai negara sumber investasi asing langsung (FDI) terbesar di Indonesia. Data dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menunjukkan bahwa Belanda telah menanamkan investasi sebesar USD800 juta melalui 2.571 proyek pada 2024.

Dalam kurun waktu 2020–2024, Belanda telah merealisasikan lebih dari 10 ribu proyek investasi dengan nilai total mencapai USD6,5 miliar.

Pemerintah Indonesia berharap bahwa melalui pertemuan ini, hubungan bilateral dengan Belanda dapat semakin kokoh dalam jangka panjang. Kesepakatan IEU-CEPA diharapkan menjadi titik balik penting dalam memperluas peluang ekspor, memperkuat ketahanan ekonomi nasional, serta menjawab tantangan global melalui kerja sama yang adil, berkelanjutan, dan saling menguntungkan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Andi Syafriadi