Akurat
Pemprov Sumsel

Harga Bahan Baku Meroket, Inflasi Pabrik AS Sentuh Rekor Sejak 2022

Demi Ermansyah | 24 Juni 2025, 10:30 WIB
Harga Bahan Baku Meroket, Inflasi Pabrik AS Sentuh Rekor Sejak 2022

AKURAT.CO Perekonomian Amerika Serikat tengah menghadapi tantangan baru dari sisi inflasi, khususnya di sektor manufaktur.

Data S&P Global per Juni 2025 menunjukkan lonjakan signifikan pada harga bahan baku yang dibayarkan oleh pabrik, mencapai indeks 70 angka tertinggi sejak Juli 2022. Kenaikan ini berpotensi mendorong inflasi produsen lebih lanjut dan berdampak pada harga konsumen.

Menurut laporan yang dirilis Senin (23/6/2025) lalu, indeks harga bahan baku naik 5,4 poin dalam sebulan, mencerminkan tekanan biaya yang meningkat tajam.

Kenaikan ini tidak hanya berasal dari pasar domestik, tetapi juga terkait dengan kebijakan bea masuk yang kembali diperketat oleh pemerintah terhadap sejumlah negara eksportir.

Baca Juga: Penutupan Selat Hormuz Kerek Inflasi AS hingga 5 Persen

“Produsen menghadapi tekanan biaya yang cukup besar dan mulai mentransfer beban tersebut kepada konsumen,” ujar Kepala Ekonom Bisnis di S&P Global Market Intelligence, Chris Williamson dikutip dari laman reuters.

Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran baru bagi konsumen, terutama dalam menghadapi potensi kenaikan harga barang jadi. Sejumlah analis memperkirakan bahwa jika tren ini terus berlanjut, tekanan terhadap inflasi Indeks Harga Konsumen (CPI) bisa meningkat dalam beberapa kuartal ke depan.

“Peningkatan biaya produksi hampir selalu diikuti oleh inflasi harga ritel. Jika ini tidak dikendalikan, daya beli masyarakat bisa tertekan,” kata Analis Ekonomi dari Market Watch Institute, Evelyn Morris

Peningkatan harga juga didorong oleh ketidakpastian pasokan global dan efek residu dari kebijakan tarif warisan pemerintahan Trump yang belum sepenuhnya dicabut.

Meski ada pelonggaran terbatas, sejumlah produsen masih menanggung beban bea masuk, terutama pada komponen elektronik, baja, dan bahan kimia industri.

Baca Juga: Bitcoin Bergerak Fluktuatif Usai Inflasi AS Mereda

Ditambah dengan gangguan logistik akibat ketegangan geopolitik dan konflik dagang regional, biaya pengadaan bahan baku melonjak tajam dalam waktu singkat.

Dalam upaya mengantisipasi gejolak harga lebih lanjut, banyak perusahaan mulai meningkatkan pembelian dan penyimpanan bahan baku. Hal ini menyebabkan lonjakan stok yang terlihat dalam data indikator tumpukan pekerjaan yang mengalami ekspansi pertama sejak 2022.

Kendati strategi ini memberikan buffer jangka pendek, analis memperingatkan potensi risiko dari overstocking. “Jika permintaan pasar tidak sejalan dengan persediaan, perusahaan bisa menghadapi tekanan likuiditas,” ujar Morris.

Kenaikan biaya input dan potensi kenaikan harga barang konsumen memberi tekanan tambahan pada Bank Sentral AS (The Fed). Dengan inflasi yang masih berada di atas target, The Fed kemungkinan akan menahan rencana pelonggaran suku bunga dalam waktu dekat.

Langkah ini dinilai perlu untuk menjaga kredibilitas kebijakan moneter dan memastikan inflasi tetap terkendali. Namun, konsekuensinya adalah melambatnya momentum pertumbuhan di sektor konsumen dan industri kecil.

Meski sektor manufaktur masih tumbuh secara moderat, lonjakan biaya bahan baku menjadi indikator awal dari risiko ekonomi yang lebih luas. Jika tidak direspons dengan kebijakan fiskal dan perdagangan yang tepat, inflasi biaya ini bisa menular ke seluruh sektor dan menekan pemulihan ekonomi yang masih rapuh pascapandemi.

Langkah ke depan menuntut koordinasi erat antara pelaku industri, regulator, dan otoritas moneter untuk menjaga stabilitas harga sekaligus mendorong produktivitas. Tanpa itu, pemulihan bisa melambat, bahkan berbalik arah dalam jangka menengah.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.