Studi Kyndryl Ungkap Kesenjangan Investasi AI oleh Perusahaan dengan Kesiapan Tenaga Kerja

AKURAT.CO Kyndryl, perusahaan layanan teknologi infrastruktur terbesar di dunia, merilis temuan terbarunya dalam laporan People Readiness Report 2025. Laporan tersebut mengungkap adanya kesenjangan mencolok antara investasi perusahaan terhadap teknologi kecerdasan buatan (AI) dan kesiapan tenaga kerja dalam memanfaatkannya.
Sebanyak 95% perusahaan di kawasan Asia Tenggara tercatat telah berinvestasi dalam pengembangan teknologi AI. Namun, hanya 29% pimpinan bisnis yang menilai tenaga kerja mereka benar-benar siap menghadapi tantangan dan potensi dari teknologi tersebut. Artinya, sebanyak 71% tenaga kerja masih dianggap belum mampu memanfaatkan kecanggihan AI secara maksimal.
“Ada satu kelompok kecil yang kami sebut ‘Pacesetters’, sekitar 14 persen perusahaan yang mampu menyelaraskan tenaga kerja, teknologi, dan target pertumbuhan mereka untuk mendapatkan manfaat optimal dari AI,” ujar Managing Director Kyndryl ASEAN dan Korea, Andrew Lim, dalam keterangannya, Minggu (6/7/2025).
Salah satu studi kasus dalam laporan tersebut datang dari sektor perhotelan. Frasers Hospitality, bekerja sama dengan Kyndryl, berhasil menyederhanakan berbagai proses operasional dengan memanfaatkan AI untuk mendigitalisasi dan menyempurnakan pelatihan staf melalui fitur multimedia interaktif dan dukungan multibahasa.
Baca Juga: Survei Twilio: AI Tingkatkan Pendapatan Pebisnis
Sementara itu, di sektor logistik, Kyndryl memanfaatkan AI untuk membantu Vietnam SuperPort mengotomatisasi analisis gambar X-ray serta memvalidasi dokumen pengiriman. Di sektor ketenagakerjaan, platform Quest turut menggunakan AI untuk meningkatkan personalisasi dalam mencocokkan lowongan kerja dengan talenta lokal.
Sebagai bagian dari komitmennya terhadap pengembangan AI yang bertanggung jawab, Kyndryl mengumumkan peluncuran Asean AI Innovation Lab di Singapura. Lab ini akan berfungsi sebagai pusat pengembangan solusi AI bagi perusahaan-perusahaan di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, Malaysia, Thailand, Vietnam, dan Filipina.
Laboratorium ini akan mempekerjakan sekitar 50 tenaga ahli di bidang AI, termasuk data scientist, data engineer, dan pengembang AI. Fokus utama laboratorium adalah membantu perusahaan memahami dan mengimplementasikan teknologi AI secara bertanggung jawab, sekaligus menghadirkan pengalaman pengembangan bersama melalui Kyndryl Consult dan Kyndryl Vital.
“Pengalaman kami dalam mendesain sistem berskala besar menjadi keunggulan dalam menerapkan solusi AI secara menyeluruh. Kami juga bermitra dengan Google Cloud dan Digital Industry Singapore (DISG) untuk mempercepat transformasi AI di kawasan,” tambah Andrew Lim.
Melalui kerja sama dengan Google Cloud, pelanggan ASEAN AI Innovation Lab akan mendapat akses ke berbagai teknologi canggih seperti Vertex AI, BigQuery, Agent Development Kit (ADK), dan Google Agentspace. Fasilitas ini memungkinkan pengembangan solusi AI kelas enterprise yang aman dan berkelanjutan.
Managing Director Google Cloud untuk Asia Tenggara, Mark Micallef, menyatakan bahwa kolaborasi dengan Kyndryl akan membantu perusahaan-perusahaan meraih ROI yang nyata dari penerapan teknologi AI, sekaligus menjawab kebutuhan pasar akan solusi AI berskala besar dan terpercaya.
Dari sisi lain, Kyndryl juga berkolaborasi dengan lembaga pendidikan dan riset di Singapura untuk menciptakan talenta AI masa depan, sekaligus mempercepat agenda transformasi digital di Asia Tenggara. Upaya ini sejalan dengan inisiatif Enterprise Compute Initiative dari pemerintah Singapura.
Tak hanya fokus pada teknologi, laboratorium ini juga akan membantu perusahaan dalam membangun kerangka kerja tata kelola, privasi, dan keamanan data yang kuat, serta menciptakan sistem yang hemat energi untuk mengurangi jejak karbon.
Managing Director Kyndryl untuk Indonesia dan Malaysia, Effendi Azmi Hashim, menekankan bahwa peluncuran ASEAN AI Innovation Lab menjadi langkah penting untuk mendukung ambisi Indonesia menjadi pusat inovasi AI di kawasan.
“Kami percaya AI bukan hanya soal teknologi, tapi juga mendorong pertumbuhan bisnis yang inklusif dan berkelanjutan. Lab ini akan menjadi sarana pengembangan talenta lokal dan mendorong transformasi digital Indonesia secara menyeluruh,” ungkap Effendi.
Senada dengan itu, Senior Vice President DISG, Philbert Gomez, menyambut baik kemitraan dengan Kyndryl. “Kami berharap semakin banyak perusahaan memanfaatkan ekosistem teknologi kami untuk mengembangkan solusi berbasis AI dan menumbuhkan bisnis mereka secara signifikan,” ujarnya.
Dengan kehadiran ASEAN AI Innovation Lab, Kyndryl memperkuat perannya sebagai mitra transformasi digital dan inovasi di Asia Tenggara. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, komitmen terhadap AI yang bertanggung jawab dinilai menjadi kunci keberhasilan dalam menciptakan masa depan yang inklusif dan berkelanjutan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










