AKURAT.CO Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menegaskan komitmennya dalam mengembangkan ekosistem industri bambu nasional secara terintegrasi dari hulu ke hilir. Langkah ini dinilai mampu menghadirkan nilai tambah ekonomi sekaligus memperkuat fungsi konservasi lingkungan.
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menjelaskan, industri bambu dalam negeri memiliki peluang besar untuk berkembang di berbagai sektor, mulai dari kerajinan, furnitur, konstruksi, hingga bioindustri.
Menurutnya, Kemenperin telah menyiapkan sejumlah program strategis guna mendukung pengembangan industri ini.
“Industri bambu dalam negeri memiliki potensi besar untuk dikembangkan terutama pada sektor kerajinan furnitur konstruksi hingga bioindustri. Saat ini Kemenperin telah mengembangkan beberapa program strategis untuk mendukung pengembangan industri bambu nasional,” ujar Agus dalam keterangannya, Selasa (30/9/2025).
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin, Putu Juli Ardika, menambahkan bahwa permintaan global terhadap produk bambu bernilai tambah terus meningkat. Beberapa di antaranya termasuk furnitur, dekorasi, hingga bahan konstruksi.
“Industri bambu dalam negeri memiliki potensi besar untuk dikembangkan terutama pada sektor kerajinan furnitur konstruksi hingga bioindustri. Saat ini Kemenperin telah mengembangkan beberapa program strategis untuk mendukung pengembangan industri bambu nasional,” ujar Agus dalam keterangannya, Selasa (30/9/2025).
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin, Putu Juli Ardika, menambahkan bahwa permintaan global terhadap produk bambu bernilai tambah terus meningkat. Beberapa di antaranya termasuk furnitur, dekorasi, hingga bahan konstruksi.
Baca Juga: Sinergi Pemerintah dan Industri Bangun Ekosistem Hijau Lewat Bambu
Ia menyebut, salah satu produk dengan permintaan tinggi adalah lantai kontainer dari bambu. “Permintaan ekspor lantai kontainer dari bambu bisa mencapai 1.500 meter kubik per bulan, sementara kapasitas produksi dalam negeri baru sekitar 30 meter kubik per bulan. Kesenjangan ini menjadi peluang besar bagi industri bambu nasional untuk berkembang lebih agresif,” jelas Putu.
Selain pasar ekspor, kebutuhan domestik juga tumbuh pesat, khususnya di kawasan wisata seperti Bali, Mandalika, Lombok, dan Labuan Bajo. Di daerah tersebut, konstruksi berbasis bambu semakin diminati, baik untuk resort, kafe, maupun fasilitas penunjang wisata lainnya.
Harga bangunan berbasis bambu bahkan bisa mencapai Rp12 juta per meter persegi. Menurut Putu, nilai ini sebanding dengan keunggulan tingkat pengembalian investasi yang lebih cepat dibandingkan konstruksi berbahan beton. “Tingkat pengembalian investasi bangunan bambu hanya 3 tahun, sedangkan BEP (Break Even Point) bangunan dari beton membutuhkan waktu 6-7 tahun,” ungkapnya.
Untuk memperkuat ekosistem bambu nasional, Kemenperin juga melakukan pemetaan potensi di sejumlah daerah. Baru-baru ini, pihaknya melakukan kunjungan ke Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik (BBSPJI-KB), PT Dekor Asia Jayakarya, komunitas Sahabat BambuBoss di Sleman, kawasan Hutan Bambu Bulaksalak, hingga PT Bambu Nusa Verde.
Kunjungan tersebut bertujuan memetakan ekosistem bambu di Yogyakarta yang dinilai telah membentuk model integrasi antara riset, komunitas, dan industri. BBSPJI-KB, misalnya, telah memiliki fasilitas uji furnitur dan mesin pengolahan bambu yang mendukung peningkatan kualitas produk.
Komunitas Sahabat BambuBoss juga berperan penting dengan tidak hanya memproduksi bangunan berbasis bambu, tetapi juga melakukan konservasi melalui penanaman 10.000 bibit bambu per tahun. Sementara itu, Hutan Bambu seluas 3 hektare di Cangkringan menjadi contoh pengelolaan reklamasi tambang pasir yang dikembangkan dengan konsep agroforestry untuk mendukung konservasi sekaligus ketahanan pangan masyarakat.
PT Bambu Nusa Verde turut memperkuat rantai nilai industri bambu dengan riset berbasis bioteknologi sejak 1994. Perusahaan ini berfokus pada penyediaan bibit bambu berkualitas dengan keseragaman genetik yang terjamin, sehingga mendukung keberlanjutan industri bambu modern di Indonesia.
Ia menyebut, salah satu produk dengan permintaan tinggi adalah lantai kontainer dari bambu. “Permintaan ekspor lantai kontainer dari bambu bisa mencapai 1.500 meter kubik per bulan, sementara kapasitas produksi dalam negeri baru sekitar 30 meter kubik per bulan. Kesenjangan ini menjadi peluang besar bagi industri bambu nasional untuk berkembang lebih agresif,” jelas Putu.
Selain pasar ekspor, kebutuhan domestik juga tumbuh pesat, khususnya di kawasan wisata seperti Bali, Mandalika, Lombok, dan Labuan Bajo. Di daerah tersebut, konstruksi berbasis bambu semakin diminati, baik untuk resort, kafe, maupun fasilitas penunjang wisata lainnya.
Harga bangunan berbasis bambu bahkan bisa mencapai Rp12 juta per meter persegi. Menurut Putu, nilai ini sebanding dengan keunggulan tingkat pengembalian investasi yang lebih cepat dibandingkan konstruksi berbahan beton. “Tingkat pengembalian investasi bangunan bambu hanya 3 tahun, sedangkan BEP (Break Even Point) bangunan dari beton membutuhkan waktu 6-7 tahun,” ungkapnya.
Untuk memperkuat ekosistem bambu nasional, Kemenperin juga melakukan pemetaan potensi di sejumlah daerah. Baru-baru ini, pihaknya melakukan kunjungan ke Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik (BBSPJI-KB), PT Dekor Asia Jayakarya, komunitas Sahabat BambuBoss di Sleman, kawasan Hutan Bambu Bulaksalak, hingga PT Bambu Nusa Verde.
Kunjungan tersebut bertujuan memetakan ekosistem bambu di Yogyakarta yang dinilai telah membentuk model integrasi antara riset, komunitas, dan industri. BBSPJI-KB, misalnya, telah memiliki fasilitas uji furnitur dan mesin pengolahan bambu yang mendukung peningkatan kualitas produk.
Komunitas Sahabat BambuBoss juga berperan penting dengan tidak hanya memproduksi bangunan berbasis bambu, tetapi juga melakukan konservasi melalui penanaman 10.000 bibit bambu per tahun. Sementara itu, Hutan Bambu seluas 3 hektare di Cangkringan menjadi contoh pengelolaan reklamasi tambang pasir yang dikembangkan dengan konsep agroforestry untuk mendukung konservasi sekaligus ketahanan pangan masyarakat.
PT Bambu Nusa Verde turut memperkuat rantai nilai industri bambu dengan riset berbasis bioteknologi sejak 1994. Perusahaan ini berfokus pada penyediaan bibit bambu berkualitas dengan keseragaman genetik yang terjamin, sehingga mendukung keberlanjutan industri bambu modern di Indonesia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal










