Puncak Musim Hujan, Kementerian ESDM Wanti-wanti Banjir dan Tanah Longsor di Sejumlah Daerah

AKURAT.CO Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengimbau masyarakat di wilayah Sumateran, Jawa, hingga Nusa Tenggara untuk mewaspadai bencana banjir dan tanah longsor saat periode Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025.
Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM, Hadi Wijaya, mengungkapkan bahwa Indonesia menghadapi berbagai potensi bencana geologi yang perlu diwaspadai secara serius, terutama memasuki puncak musim hujan pada pertengahan Desember 2025 hingga akhir Januari 2026.
Hadi menjelaskan, secara kelembagaan Badan Geologi memantau empat matra utama kebencanaan, yakni gunung api, gerakan tanah atau longsor, gempa bumi, dan tsunami. Namun di luar itu, terdapat sejumlah potensi bencana geologi lain yang juga perlu mendapat perhatian.
“Selain empat matra utama, masih ada lima potensi kebencanaan geologi lain yang perlu diwaspadai, yaitu likuifaksi, penurunan muka tanah, akresi dan abrasi pantai, serta semburan lumpur dan gas,” kata Hadi saat konferensi pers pembentukan posko nasional sektor ESDM dikutip, Selasa (16/12/2025).
Baca Juga: ESDM Tegaskan Data Geologi Jadi Fondasi Perencanaan Nasional
Hadi mencontohkan penurunan muka tanah yang hingga kini masih terjadi di wilayah Pantai Utara Jawa (Pantura) dengan laju mencapai 8 hingga 10 sentimeter per tahun. Fenomena akresi dan abrasi juga terjadi di hampir seluruh wilayah pesisir Indonesia.
Terkait aktivitas gunung api, Hadi menyebutkan bahwa PVMBG memiliki 74 pos pengamatan gunung api di seluruh Indonesia dan memantau 69 gunung api aktif secara real-time dari Aceh hingga Maluku dan Nusa Tenggara Timur.
“Saat ini terdapat tiga gunung api dengan status Level III atau Siaga, yaitu Gunung Merapi di DIY–Jawa Tengah, Gunung Semeru di Jawa Timur yang baru-baru ini erupsi dengan awan panas guguran, serta Gunung Lewotobi Laki-laki yang dalam tiga tahun terakhir terus mengalami erupsi,” ucap Hadi.
Selain itu, terdapat 24 gunung api dengan status Level II atau Waspada. Secara keseluruhan, potensi warga terdampak dari gunung api dengan status Level II dan III tersebut diperkirakan dapat mencapai sekitar 15 juta jiwa.
Hadi juga menyoroti potensi gerakan tanah dan aliran banjir bandang yang dinilai semakin mengkhawatirkan. Hal ini dipicu oleh prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menyebutkan puncak musim hujan akan berlangsung hingga akhir Januari 2026.
“Sehingga kami juga menyampaikan untuk wilayah yang berwarna merah dan hijau atau dalam kategori rentan gerakan tanah menengah dan tinggi, itu boleh diwaspadai,” ujarnya.
Wilayah rawan tersebut meliputi Bengkulu, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, hingga Nusa Tenggara Timur, terutama di kawasan pesisir selatan. PVMBG juga mencatat sejumlah ruas jalan nasional dan provinsi berada di zona rawan longsor dan memerlukan perhatian khusus.
Di sisi lain, Hadi mengingatkan bahwa Indonesia merupakan wilayah dengan potensi gempa bumi dan tsunami yang tinggi. Bahkan, sepanjang tahun 2025 tercatat sebagai periode dengan jumlah gempa merusak tertinggi dalam 25 tahun terakhir.
“Kalau tahun kemarin kejadian 31 kejadian, dan sebelumnya itu rata-rata hanya 5 sampai 15, sekarang sudah tahun ini, di hari ini itu sudah terjadi 38 kejadian,” tutur Hadi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










