Akurat
Pemprov Sumsel

Bangun Ekosistem Terintegrasi, Hilirisasi Bauksit Tekan Impor dan Perkuat Kedaulatan Mineral

Lukman Nur Hakim Akurat.co | 20 Februari 2026, 13:14 WIB
Bangun Ekosistem Terintegrasi, Hilirisasi Bauksit Tekan Impor dan Perkuat Kedaulatan Mineral

AKURAT.CO Penguatan hilirisasi bauksit dinilai sebagai langkah strategis untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus memperkuat struktur industri dalam negeri.

Kebijakan ini merupakan kelanjutan dari agenda hilirisasi mineral yang sebelumnya diterapkan pada komoditas nikel dan terbukti meningkatkan nilai tambah serta memperluas basis industri nasional.

Keberhasilan hilirisasi nikel, terutama sejak diberlakukannya larangan ekspor bijih mentah, menjadi pijakan penting bagi pemerintah.

Baca Juga: Hilirisasi Bauksit Hadirkan Dampak Sosial Nyata bagi Masyarakat Mempawah

Kebijakan tersebut mendorong investasi besar-besaran pada pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter), yang menghasilkan produk bernilai tambah tinggi seperti nickel pig iron (NPI), feronikel, baja tahan karat (stainless steel), hingga prekursor baterai kendaraan listrik.

Transformasi tersebut tidak hanya meningkatkan nilai ekspor, tetapi juga menciptakan efek berganda (multiplier effect) terhadap sektor manufaktur dan industri turunan lainnya.

Melihat dampak positif tersebut, pemerintah memperluas kebijakan hilirisasi ke komoditas bauksit yang resmi diberlakukan sejak Juni 2023 sebagai bagian dari agenda industrialisasi nasional.

Pengembangan Fasilitas Hilirisasi Bauksit

Berdasarkan data Badan Geologi ESDM, Indonesia memiliki sumber daya bauksit sekitar 7,48 miliar ton dan cadangan 2,78 miliar ton. Namun, rantai nilai industri bauksit domestik belum terintegrasi secara optimal.

Keterbatasan kapasitas pengolahan alumina membuat Indonesia masih mengimpor bahan baku tersebut dari Australia dan China untuk memenuhi kebutuhan industri aluminium nasional.

Di sisi lain, kebutuhan aluminium domestik diperkirakan mencapai 1,2 juta ton per tahun, sementara kapasitas produksi dalam negeri baru sekitar 275 ribu ton per tahun. Kesenjangan ini memperbesar ketergantungan terhadap impor aluminium.

Untuk menutup disparitas tersebut, MIND ID mulai mengoperasikan Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Fase I pada 2025 dengan kapasitas 1 juta ton alumina per tahun.

Fasilitas ini memasok bahan baku bagi smelter aluminium milik PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM), sehingga impor alumina dapat ditekan secara signifikan.

Baca Juga: Usai Bauksit, Pemerintah Siap Hentikan Ekspor Timah Mentah

Namun, kapasitas tersebut belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan industri nasional. Karena itu, MIND ID bersama INALUM dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM) mengembangkan fasilitas hilirisasi terpadu di Mempawah, Kalimantan Barat.

Proyek ini mencakup pembangunan Smelter Aluminium Baru berkapasitas 600 ribu ton per tahun dan SGAR Fase II berkapasitas 1 juta ton alumina per tahun.

Melalui proyek strategis nasional ini, nilai tambah bauksit ditargetkan meningkat hingga 70 kali lipat dari harga sekitar USD40 per ton dalam bentuk mentah, menjadi sekitar USD400 per ton saat diolah menjadi alumina, hingga USD2.800–3.000 per ton setelah menjadi aluminium.

Selain memperkuat pasokan bahan baku industri dalam negeri, proyek ini juga diproyeksikan meningkatkan cadangan devisa hingga 394% menjadi sekitar Rp52 triliun per tahun, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor aluminium dan memperkuat struktur industri nasional.

“Proyek ini adalah bentuk kontribusi Grup MIND ID dalam menciptakan nilai tambah di dalam negeri, memperkuat ekonomi, dan memperkuat kedaulatan Negara pada sektor mineral, demi peradaban masa depan Indonesia,” kata Direktur Utama MIND ID, Maroef Sjamsoeddin beberapa waktu lalu.

Hilirisasi Bauksit Perkuat Industri dan Tekan Impor Aluminium

Kebijakan hilirisasi bauksit dan pengembangan industri bauksit terintegrasi yang dilakukan oleh MIND ID dinilai menjadi pemicu dampak positif perekonomian negara, terutama di wilayah industri tersebut.

Ketua Umum Asosiasi Bauksit Indonesia (ABI), Ronald Sulistyanto, mengatakan pada prinsipnya setiap program hilirisasi yang meningkatkan nilai tambah suatu komoditas pasti berdampak positif terhadap perekonomian negara, termasuk Indonesia.

Namun, menurutnya, karakter hilirisasi setiap komoditas tambang berbeda sehingga tidak bisa disamaratakan.

“Hilirisasi nikel tidak bisa disamakan dengan bauksit. Karakteristiknya berbeda, terutama dari sisi tingkat kesulitan dan kebutuhan investasinya,” kata Ronald kepada Akurat.co.

Ronald menjelaskan, proses peningkatan nilai tambah tidak dapat dilakukan secara instan. Diperlukan tahapan pengkajian, perencanaan matang, hingga pembangunan infrastruktur industri yang memadai.

Meski demikian, jika amanat undang-undang terkait peningkatan nilai tambah mineral dapat terealisasi secara konsisten, manfaat ekonomi jangka panjang diyakini akan sangat besar.

“Nah kalau ditanya tentang bagaimana dampak kalau memang ini terejawantakan dan bisa memenuhi harapan, tentu saja di samping nilai tambahnya yang cukup besar, tenaga kerja yang akan terserap saya kira ya cukup besar,” ujarnya.

Tercatat, berdasarkan dokumen Pra Feasibility Study (PFS) yang disusun oleh BPI Danantara bersama Satuan Tugas Hilirisasi, proyek hilirisasi bauksit diproyeksikan mampu menyerap hingga 14.700 tenaga kerja baru, baik pada fase konstruksi maupun operasional.

Pandangan senada disampaikan Ketua Indonesian Mining & Energy Forum (IMEF), Singgih Widagdo. Ia menilai pemerintah perlu terus memperkuat hilirisasi bauksit, meskipun cadangan Indonesia bukan yang terbesar di dunia.

Saat ini, Indonesia tercatat sebagai salah satu dari enam negara dengan cadangan bauksit terbesar global, di bawah Guinea, Australia, Vietnam, Brasil, dan Jamaika.

Menurut Singgih, nilai tambah di sektor hilir bauksit sangat signifikan, bahkan bisa mencapai 9,5 kali lipat dibandingkan ekspor bahan mentah. Produk turunan seperti alumina dan aluminium memiliki peran strategis dalam mendukung industri otomotif, kelistrikan, konstruksi, hingga transisi energi.

Ia juga mengapresiasi pembangunan Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) fase II di Mempawah yang digagas oleh MIND ID bersama PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM) dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM).

Dengan terus memperkuat industri hilirisasi bauksit, akan dapat mengurangi devisa atas impor alumunium yang selama ini diimpor dari Tiongkok. Jauh sebelumnya kita bahkan mengalami defisit nilai ekspor bauksit terhadap nilai impor alumunium,” ucap Singgih.

Lebih lanjut, Singgih menekankan bahwa kunci keberhasilan hilirisasi bauksit terletak pada pembangunan ekosistem industri yang terintegrasi, mulai dari hulu pertambangan hingga industri pengguna akhir.

Pemerintah juga perlu memastikan roadmap hilirisasi berjalan konsisten, termasuk dengan memperkuat eksplorasi untuk menambah cadangan bahan baku, meningkatkan efisiensi industri, serta mengembangkan sektor semi-fabrikasi dan fabrikasi.

“Selain mengembangkan industri alumunium bagi industri otomotif, dalam arah transisi energi perlu memperkuat industry alumunium bagi Energi Baru dan Terbarukan (EBT),” tutur Singgih.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.