Akurat
Pemprov Sumsel

BPS Ramal Produksi Beras RI Februari-April 2026 Cuma 12,23 Juta Ton, Turun 4,02 Persen

Esha Tri Wahyuni | 2 Maret 2026, 19:17 WIB
BPS Ramal Produksi Beras RI Februari-April 2026 Cuma 12,23 Juta Ton, Turun 4,02 Persen
Panen raya

AKURAT.CO Produksi beras nasional kembali menjadi sorotan setelah Badan Pusat Statistik (BPS) memproyeksikan potensi produksi beras Februari–April 2026 hanya mencapai 12,23 juta ton. Angka ini turun 4,02% secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan periode yang sama tahun lalu. 

Proyeksi produksi beras 2026 tersebut sejalan dengan penurunan luas panen dan potensi produksi padi nasional. Di tengah tren kenaikan harga beras dan dinamika pasokan pangan, data ini menjadi krusial bagi pelaku pasar, pemerintah, hingga masyarakat yang memantau stabilitas pangan dan inflasi.

BPS Proyeksikan Produksi Beras Turun 0,51 Juta Ton

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menyatakan bahwa potensi produksi beras pada Februari hingga April 2026 diperkirakan sebesar 12,23 juta ton.

Baca Juga: Anggaran Rp11,92 Triliun Cair, Bantuan Beras dan Minyak untuk 33,2 Juta KPM Dipercepat

“Potensi produksi beras di Februari sampai dengan April 2026 diperkirakan sebesar 12,23 juta ton atau mengalami penurunan sebesar 0,51 juta ton atau menurun 4,02 persen,” ujar Ateng dalam konferensi pers secara daring, Senin (2/3/2026).

Penurunan ini sejalan dengan proyeksi produksi padi yang diperkirakan mencapai 21,24 juta ton gabah kering giling (GKG), atau turun 4,04% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Secara struktural, kontraksi produksi ini juga dipengaruhi oleh penyusutan luas panen. BPS memperkirakan luas panen padi Februari–April 2026 mencapai 3,92 juta hektare, berkurang sekitar 0,16 juta hektare dari periode yang sama tahun sebelumnya.

Cuaca dan Serangan Hama

Ateng menegaskan bahwa angka potensi tersebut masih bersifat dinamis dan dapat berubah sesuai kondisi lapangan. “Angka potensi luas panen tersebut dapat berubah sesuai kondisi terkini hasil amatan lapangan seperti serangan hama, banjir, kekeringan, waktu realisasi panen, dan lain sebagainya,” jelasnya.

Artinya, risiko iklim dan gangguan produksi tetap menjadi variabel kunci yang menentukan realisasi akhir produksi beras nasional.

Januari 2026 Justru Melonjak Tajam

Di tengah proyeksi penurunan pada kuartal berikutnya, BPS mencatat kinerja produksi padi pada Januari 2026 justru menunjukkan lonjakan signifikan.

Luas panen padi pada Januari 2026 tercatat sebesar 0,57 juta hektare, naik 35,72% dibandingkan Januari 2025 yang sebesar 0,42 juta hektare. Kenaikan luas panen ini mendorong produksi padi mencapai 3,04 juta ton GKG, meningkat 38,69% secara tahunan.

Data ini menunjukkan adanya pergeseran musim tanam dan panen yang berdampak pada distribusi produksi sepanjang tahun.

Produksi Jagung Ikut Naik di Awal Tahun

Selain komoditas padi, produksi jagung juga mencatatkan pertumbuhan positif pada Januari 2026. Realisasi luas panen jagung mencapai 0,24 juta hektare atau meningkat 11,17% dibandingkan Januari 2025.

Produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 14% tercatat sebesar 1,38 juta ton, naik 11,09% secara tahunan. Kinerja ini menjadi penopang sektor tanaman pangan di awal tahun, terutama dalam menjaga suplai bahan baku pakan dan industri.

Di sisi kesejahteraan, Nilai Tukar Petani (NTP) Februari 2026 tercatat sebesar 125,45 atau naik 1,50% dibandingkan Januari 2026. Kenaikan NTP terjadi karena indeks harga yang diterima petani (It) meningkat 2,17%, lebih tinggi dibandingkan kenaikan indeks harga yang dibayar petani (Ib) yang naik 0,65%.

Secara teknis, kondisi ini menunjukkan daya beli petani membaik karena pendapatan yang diterima meningkat lebih cepat dibandingkan biaya yang mereka keluarkan.

Harga Beras Naik Tipis

BPS juga mencatat adanya kenaikan rata-rata harga beras di tingkat grosir dan eceran masing-masing sebesar 0,45% dan 0,43%. Sementara itu, harga beras di tingkat penggilingan justru turun 0,33%.

Perbedaan pergerakan harga ini mengindikasikan adanya dinamika rantai distribusi yang perlu dicermati, terutama menjelang periode panen raya dan kebutuhan stabilisasi pasokan.

Penurunan proyeksi produksi beras Februari–April 2026 sebesar 4,02% menjadi sinyal penting bagi pengendalian inflasi pangan dan kebijakan stok nasional. Meski Januari mencatat lonjakan produksi, distribusi produksi yang tidak merata sepanjang tahun berpotensi memengaruhi keseimbangan pasokan.

Dengan NTP yang meningkat dan harga beras yang bergerak moderat, tantangan ke depan terletak pada mitigasi risiko cuaca dan optimalisasi luas panen.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.