Sukseskan KDMP, PTPN IV PalmCo Gandeng 4 UMKM di Sumut

AKURAT.CO PTPN IV PalmCo memperkuat rantai pasok alat panen dengan menggandeng UMKM lokal sebagai pemasok utama di wilayah operasional perkebunan.
Strategi pemberdayaan UMKM ini tidak hanya menekan ketergantungan pada pabrikan besar, tetapi juga mendorong multiplier effect ekonomi desa.
Setelah sukses di Riau, ekspansi kini bergerak ke Sumatera Utara dan Jambi. Langkah ini menjadi bagian dari transformasi model bisnis berbasis kemitraan koperasi, legalitas usaha, hingga sertifikasi SNI agar produk lokal mampu menembus standar industri perkebunan nasional.
Baca Juga: PTPN IV PalmCo Salurkan Rp270 Juta ke Keluarga Risiko Stunting di Paser Kaltim
Pendekatan berbasis ekosistem ini dinilai relevan dengan tren hilirisasi dan penguatan TKDN (Tingkat Komponen Dalam Negeri) yang menjadi fokus pembangunan industri nasional.
Dari Desa ke Rantai Pasok Korporasi
Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa, menegaskan bahwa pemberdayaan UMKM bukan sekadar program CSR, melainkan strategi inti penguatan rantai pasok perusahaan.
“Pemberdayaan UMKM pandai besi ini menjadi strategi penguatan rantai pasok inti perusahaan. Kami ingin memastikan alat panen di kebun PalmCo diproduksi masyarakat sekitar. Dengan pendampingan yang tepat, kualitasnya tidak kalah dari pabrikan besar, sekaligus menciptakan lapangan kerja dan memutar ekonomi desa,” ujar Jatmiko, dalam keterangannya, Selasa (3/3/2026).
Model bisnis ini memastikan adanya kepastian pasar (off-taker) bagi koperasi binaan, sehingga keberlanjutan usaha lebih terjamin. Perusahaan juga melakukan standarisasi produk agar sesuai dengan kebutuhan operasional kebun sawit skala besar.
Riau Jadi Blueprint Nasional
Keberhasilan program ini pertama kali terlihat di Desa Teratak, Kecamatan Rumbio Jaya, Kabupaten Kampar, Riau. Koperasi Merah Putih Teratak yang awalnya kelompok pengrajin kecil kini menjadi pemasok tunggal alat panen bagi operasional PalmCo di wilayah tersebut.
Pendampingan mencakup bantuan modal kerja, pelatihan produksi, hingga kepastian pembelian. Hasilnya, koperasi tersebut diusulkan Pemerintah Kabupaten Kampar sebagai salah satu koperasi percontohan tingkat nasional.
Kepala Koperasi Merah Putih Teratak, Desrico Apriyus, menyebut intervensi perusahaan mengubah struktur ekonomi desa. Transformasi ini menunjukkan bahwa standardisasi dan kelembagaan menjadi kunci daya saing UMKM di sektor industri.
“Kami awalnya hanya kumpulan pandai besi tradisional. Setelah dibina PTPN IV PalmCo, kami berkembang menjadi sentra produsen alat pertanian yang kini merambah luar Riau bahkan hingga mancanegara,” ujarnya.
Empat Koperasi Diinkubasi
Melihat dampak positif di Riau, PTPN IV PalmCo mereplikasi model tersebut di Sumatera Utara. Empat koperasi tengah diinkubasi, yakni Koperasi Berkah Pandai Besi (Labuhanbatu Utara), Koperasi Simpati Maju Bersama (Asahan), Koperasi Produsen Pandai Besi Tanah Jawa (Simalungun) dan Koperasi Produsen Melati Jaya Steel (Serdang Bedagai).
Puluhan tenaga kerja lokal yang sebelumnya bekerja secara individu kini tergabung dalam kelembagaan resmi berbadan hukum.
Di tahap awal, perusahaan memfasilitasi pembentukan legalitas usaha, mulai dari SK koperasi, akta pendirian, NPWP, OSS, Nomor Induk Berusaha (NIB), TKDN, hingga proses sertifikasi SNI.
Kepala Koperasi Berkah Pandai Besi, Asmadi Prayetno, mengakui legalitas dan SNI selama ini menjadi hambatan utama. “Sebelumnya kami pengrajin perorangan yang tidak paham perizinan dan SNI. Sekarang produk kami punya payung hukum dan standar jelas untuk masuk ke perusahaan sebesar PalmCo,” katanya.
Senada dengan itu, Kepala Koperasi Simpati Maju Bersama, Edy Syafrizal, menilai pendampingan tersebut meningkatkan daya saing pengrajin.
“Dengan legalitas dan pembinaan standar kualitas, semangat pengrajin bangkit. Kami kini punya kepercayaan diri memproduksi alat panen sesuai standar industri,” ujarnya.
Setelah Riau dan Sumatera Utara, ekspansi berikutnya mengarah ke Desa Koto Padang, Kota Sungai Penuh, Jambi, melalui Koperasi DLN. Tahap penjajakan awal telah dilakukan untuk melihat kesiapan kelembagaan dan kapasitas produksi.
Langkah ekspansi berkelanjutan ini memperlihatkan strategi jangka panjang perusahaan dalam membangun ekosistem alat pertanian nasional berbasis karya anak bangsa.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.











