Akurat
Pemprov Sumsel

PT SMI Siap Terbitkan Obligasi Ritel Infrastruktur di Awal 2026

Esha Tri Wahyuni | 3 Maret 2026, 21:05 WIB
PT SMI Siap Terbitkan Obligasi Ritel Infrastruktur di Awal 2026
Dirut PT SMI, Reynaldi Hermansjah

AKURAT.CO PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) (PT SMI) menyiapkan langkah strategis dengan meluncurkan instrumen investasi berbentuk obligasi ritel infrastruktur SMI atau ORIS yang dirancang untuk memperluas partisipasi masyarakat dalam pembiayaan pembangunan nasional. 

Rencana penerbitan obligasi PT SMI 2026 ini menjadi sinyal kuat transformasi perusahaan menuju skema pendanaan yang lebih inklusif, sekaligus membuka peluang investasi infrastruktur bagi publik, tidak hanya investor institusi. 

Sebelumnya Wamenkeu Juda Agung berharap lewat penerbitan ORIS, PT SMI diharapkan mampu meningkatkan tata kelola sekaligus mendiversifikasi sumber pendanaan sekaligus memberikan kesempatan bagi masyarakat luas untuk berpartisipasi dalam pembiayaan pembangunan infrastruktur nasional yang berkelanjutan.

Baca Juga: Imbal Hasil Obligasi Jepang Melesat, US Treasury Kehilangan Status Aset Aman Global?

Inisiatif ini juga mempertegas posisi PT SMI sebagai Special Mission Vehicle (SMV) di bawah Kementerian Keuangan Republik Indonesia yang memiliki mandat mendukung pembangunan berkelanjutan.

PT SMI menegaskan bahwa instrumen baru ini menjadi bagian dari strategi diversifikasi pendanaan, sekaligus respons atas meningkatnya kebutuhan pembiayaan infrastruktur nasional.

Dengan skema obligasi yang lebih terbuka bagi publik, masyarakat kini berpotensi ikut terlibat langsung dalam ekosistem pembiayaan proyek-proyek strategis nasional.

Direktur Utama PT SMI, Reynaldi Hermansjah, menegaskan bahwa peluncuran instrumen investasi ini merupakan bagian dari transformasi korporasi menjadi Development Finance Institution (DFI) yang lebih adaptif dan inklusif.

Sebagai fiscal tool Pemerintah, PT SMI memiliki tanggung jawab memastikan pembangunan nasional berjalan berkelanjutan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

"Rencana peluncuran instrumen investasi ini adalah langkah konkret untuk memperluas partisipasi publik dan menghubungkan masyarakat langsung dengan agenda pembangunan jangka panjang,” ujar Reynaldi dalam acara Media Briefing di Jakarta, Selasa (3/3/2026).

Sebagai SMV di bawah Kementerian Keuangan, PT SMI selama ini berperan sebagai katalis pembiayaan proyek infrastruktur, mulai dari sektor transportasi, energi, air minum, hingga pembiayaan daerah. 

Setiap pembiayaan yang disalurkan tidak hanya berbasis kebutuhan proyek, tetapi juga mengedepankan dampak ekonomi, sosial, dan lingkungan yang terukur.

Himpun Rp50 Triliun Sejak 2014

Secara historis, PT SMI telah aktif di pasar surat utang domestik sejak 2014. Berbagai instrumen telah diterbitkan, termasuk Green Bond, Sustainability Bond, Sukuk Mudharabah, hingga zero-coupon bond pada 2025.

Hingga akhir 2025, total dana yang dihimpun melalui penerbitan dalam negeri telah melampaui Rp50 triliun. Capaian tersebut menempatkan PT SMI sebagai salah satu emiten surat utang yang kredibel dan dipercaya investor institusi.

Posisi keuangan PT SMI juga diperkuat dengan peringkat nasional AAA dari Pefindo, yang mencerminkan kapasitas kuat dalam memenuhi kewajiban finansial jangka panjang.

Diversifikasi Sumber Pendanaan Jadi Strategi Kunci 2026

Senada dengan itu, Direktur Operasional dan Keuangan PT SMI, Aradita Priyanti, menekankan bahwa diversifikasi pendanaan menjadi fokus strategis perseroan ke depan.

Ke depan, SMI akan memperluas sumber pendanaan, tidak hanya melalui kerja sama dengan lembaga keuangan dan pemerintah, tetapi juga membuka ruang bagi masyarakat untuk ikut berkontribusi dalam pembangunan infrastruktur nasional.

"Dengan portofolio pembiayaan yang menghasilkan multiplier effect besar, kami memastikan setiap strategi pendanaan tetap relevan dan selaras dengan kebutuhan pembangunan,” kata Aradita.

Langkah ini dinilai penting di tengah meningkatnya kebutuhan pembiayaan infrastruktur nasional yang membutuhkan skema kolaboratif dan beragam. Infrastruktur sendiri memiliki efek pengganda (multiplier effect) terhadap ekonomi, mulai dari peningkatan konektivitas, produktivitas, hingga penciptaan lapangan kerja.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.