Airlangga: Indonesia Butuh 150 Ribu Engineer Baru hingga 2030

AKURAT.CO Pemerintah mengungkapkan Indonesia masih kekurangan tenaga insinyur untuk menopang pengembangan industri digital nasional.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyebut Indonesia membutuhkan tambahan sekitar 150 ribu insinyur dalam enam tahun ke depan untuk mendukung percepatan transformasi digital dan pengembangan sektor teknologi strategis.
Airlangga mengatakan kebutuhan tersebut setara dengan sekitar 45% dari total jumlah insinyur yang tersedia saat ini di Indonesia. Kebutuhan tenaga ahli juga semakin spesifik pada sektor industri tertentu, termasuk semikonduktor yang tengah menjadi fokus pengembangan teknologi global.
“Kita butuh tambahan sekitar 45 persen dari jumlah engineer yang ada sekarang. Kemudian yang sudah sangat spesifik, untuk industri semikonduktor kita memerlukan sekitar 15 ribu engineers. Dan untuk industri digital secara keseluruhan kita butuh sekitar 150 ribu engineers dalam satu sampai enam tahun ke depan,” kata Airlangga dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Jumat (6/3/2026).
Baca Juga: Dorong Industri Berkelanjutan, Kemenperin Kebut Layanan Sertifikasi Industri Hijau
Untuk menjawab kekurangan tersebut, pemerintah mendorong program reskilling dan retraining tenaga kerja melalui pelatihan vokasi yang dijalankan Kementerian Ketenagakerjaan. Program ini ditujukan untuk mempercepat peningkatan kompetensi tenaga kerja agar mampu memenuhi kebutuhan industri teknologi yang berkembang cepat.
Selain itu, pemerintah juga menggandeng perusahaan teknologi global untuk memperluas ekosistem talenta digital. Salah satu kerja sama terbaru dilakukan melalui penandatanganan program pelatihan antara Danantara dan ARM Limited di London, yang menargetkan pelatihan bagi 15 ribu insinyur dalam ekosistem teknologi ARM.
“Melalui kerja sama yang ditandatangani di London antara Danantara dan ARM Limited, disiapkan pelatihan untuk 15 ribu engineers dalam ekosistem ARM. Jadi kita sekarang lebih spesifik lagi mencari kebutuhan engineer untuk industri-industri yang didorong pemerintah,” ujar Airlangga.
Kebutuhan tenaga insinyur tersebut muncul seiring percepatan adopsi teknologi baru, termasuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Airlangga menyebut Indonesia telah menunjukkan kesiapan dalam pengembangan teknologi tersebut setelah menjadi negara pertama di ASEAN yang menyelesaikan UNESCO AI Readiness Assessment.
Menurutnya, capaian tersebut menandakan Indonesia mulai membangun kerangka regulasi, etika, dan sosial dalam pemanfaatan AI, sehingga tidak hanya menjadi pasar teknologi, tetapi juga berpotensi menjadi pengembang inovasi.
“Indonesia adalah pasar potensial yang sangat besar di masa depan dan dunia sedang berinvestasi di Indonesia. Meskipun Indonesia menjadi pasar AI yang utama, kita harus memastikan bahwa kita bukan hanya konsumen teknologi canggih, tetapi juga sebagai pencipta dan pemiliknya,” kata Airlangga.
Baca Juga: Kredit Macet Fintech Lending Naik Jelang Lebaran, Seberapa Aman Industri Saat Ini?
Secara global, teknologi AI diproyeksikan memberikan dampak ekonomi yang signifikan. Studi internasional memperkirakan AI dapat berkontribusi hingga 15,7 triliun dolar AS terhadap perekonomian dunia pada 2030.
Industri yang cepat mengadopsi AI bahkan tercatat mampu meningkatkan produktivitas dari 8,5% menjadi sekitar 27%, dengan potensi pendapatan hingga tiga kali lebih tinggi dibandingkan perusahaan yang lambat beradaptasi.
Untuk Indonesia, potensi ekonomi dari teknologi AI generatif diperkirakan dapat mencapai USD243,5 miliar dalam beberapa tahun mendatang, menjadikannya salah satu motor pertumbuhan ekonomi digital.
Dari sisi ekosistem digital, Indonesia saat ini merupakan ekonomi digital terbesar di ASEAN. Nilai ekonomi digital nasional diproyeksikan mencapai USD124 miliar pada 2025, menurut berbagai laporan industri teknologi kawasan.
Penetrasi digital juga terus meningkat. Pada 2025, jumlah koneksi seluler di Indonesia diperkirakan mencapai 116% dari total populasi, dengan sekitar 230 juta pengguna internet dan lebih dari 180 juta identitas media sosial aktif.
Penguatan sumber daya manusia teknologi juga menjadi bagian dari target pembangunan jangka panjang pemerintah. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025–2045, Indonesia menargetkan masuk ke peringkat 45 besar Global Innovation Index pada 2030.
Selain itu, laporan Cyber Security Index 2024 menunjukkan Indonesia telah berada pada Tier 1 atau kategori “role model”, yang menandakan kapasitas keamanan siber nasional dinilai cukup kuat di tingkat global.
Airlangga menegaskan peran insinyur menjadi kunci dalam mendorong inovasi sekaligus mendukung agenda pembangunan berkelanjutan. Secara global, pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) pada 2030 diperkirakan membutuhkan investasi tahunan sebesar USD4 hingga USD7 triliun, terutama pada sektor teknologi dan energi berkelanjutan.
“Tugas kita sebagai insinyur dan pembuat kebijakan adalah menyebarluaskan keberhasilan dari wilayah Tier 1 ke seluruh negeri dan memastikan pertumbuhan digital yang seimbang. Para insinyur juga harus melampaui sekadar inovasi, misalnya dengan memanfaatkan AI dan big data untuk mengatasi kelangkaan air, mengoptimalkan jaringan energi, dan membangun kota yang tangguh,” kata Airlangga.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini











