Mentan Waspadai Ancaman El Nino 2026 dan Risiko Geopolitik

AKURAT.CO Ketahanan pangan Indonesia kembali menjadi sorotan di tengah dua tekanan sekaligus, yakni potensi El Nino 2026 yang memicu kekeringan dan ketegangan geopolitik global yang dapat mengganggu pasokan pangan dunia.
Meski demikian, Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, memastikan produksi beras nasional tetap aman.
Pemerintah mengandalkan pengalaman menghadapi El Nino kuat pada 2015–2016 dan 2023, serta dukungan berbagai infrastruktur pertanian seperti program pompanisasi dan jaringan irigasi untuk menjaga produksi pangan nasional tetap stabil.
Baca Juga: Anggota DPR RI Elnino Mohi Siap Ikut Pilwakot Gorontalo
Menurut Amran, kekeringan akibat fenomena El Nino yang diperkirakan mulai April 2026 memang perlu diantisipasi sejak dini.
Namun intensitasnya diprediksi lebih lemah dibandingkan episode sebelumnya, sehingga pemerintah optimistis mampu menjaga produksi beras nasional, stabilitas pasokan, dan ketahanan pangan Indonesia di tengah ketidakpastian global.
Geopolitik Global dan Kekeringan
Amran menegaskan pemerintah saat ini menghadapi dua tantangan utama sekaligus. Selain potensi kekeringan akibat El Nino, situasi geopolitik global juga berpotensi menekan stabilitas pangan.
Menurutnya, kedua faktor tersebut harus direspons dengan langkah antisipatif yang matang agar tidak mengganggu produksi pangan nasional.
“Jadi ada dua yang kita hadapi, kondisi geopolitik yang memanas dan pengumuman BMKG terkait potensi kekeringan. Ini dua-duanya harus kita jawab,” kata Amran dalam konferensi pers di Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, Jumat (6/3/2026).
Dirinya menambahkan, pemerintah memiliki pengalaman menghadapi fenomena El Nino yang jauh lebih kuat sebelumnya.
Impor Beras Berhasil Ditekan
Pengalaman menghadapi El Nino 2023 menjadi pelajaran penting bagi pemerintah dalam menjaga stabilitas pangan nasional.
Saat itu, pemerintah sempat memperkirakan kebutuhan impor beras Indonesia dapat mencapai 10 juta ton akibat potensi penurunan produksi. Namun realisasinya berhasil ditekan jauh lebih rendah.
“Waktu El Nino 2023, kita sempat memperkirakan impor sampai 10 juta ton. Tapi setelah kami ikut rapat terbatas, alhamdulillah bisa kita redam hanya sekitar 3 juta ton lebih,” ujar Amran.
Menurutnya, keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa strategi pemerintah dalam mengantisipasi dampak El Nino mampu menjaga produksi pangan nasional tetap stabil.
Infrastruktur Pertanian Disiapkan Hadapi Kekeringan
Untuk menghadapi potensi kekeringan pada musim kemarau tahun ini, pemerintah telah menyiapkan berbagai infrastruktur pendukung produksi pertanian.
Salah satu program utama adalah pompanisasi lahan pertanian, yang mampu menjangkau sekitar 1,2 juta hektare lahan tadah hujan yang berpotensi kekurangan air.
Selain itu, pemerintah juga menyiapkan tambahan sekitar 1 juta hektare lahan yang bisa diairi selama musim kemarau melalui berbagai sumber air.
“Di lapangan sudah siap pompanisasi yang menjangkau 1,2 juta hektare lahan tadah hujan. Tahun ini kita juga siapkan lagi sekitar 1 juta hektare yang bisa diairi saat musim kering,” jelas Amran.
Dirinya menambahkan, pemerintah memanfaatkan berbagai sumber air seperti pompa sungai, sumur dalam, sumur dangkal, serta jaringan irigasi untuk memastikan lahan pertanian tetap produktif.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, Amran memastikan produksi beras nasional masih berada di atas kebutuhan domestik.
Produksi beras Indonesia saat ini berkisar 2,6 juta hingga 5,7 juta ton per bulan, sementara kebutuhan nasional berada di sekitar 2,5 juta ton per bulan.
Dengan selisih produksi tersebut, pemerintah optimistis pasokan beras nasional tetap aman meski menghadapi musim kemarau.
“Jadi ke depan insyaallah produksi kita aman. Menghadapi geopolitik yang memanas dan El Nino kita sudah punya pengalaman,” kata Amran.
El Nino 2026 Diprediksi Lebih Lemah
Amran juga menilai fenomena El Nino tahun ini tidak sekuat episode sebelumnya, sehingga dampaknya terhadap sektor pertanian diyakini dapat dikelola dengan lebih baik.
Dirinya mengingatkan bahwa Indonesia pernah menghadapi kondisi El Nino yang jauh lebih ekstrem, seperti pada 2015–2016 dan 2023.
“Kami secara pribadi sudah menghadapi El Nino pada 2015–2016 dan 2023, dan itu jauh lebih dahsyat daripada sekarang. Jadi kondisi sekarang tidak perlu terlalu dirisaukan,” ujarnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini











