GPM Digencarkan Jelang Ramadan, Bapanas Jual Pangan di Bawah Harga Pasar

AKURAT.CO Badan Pangan Nasional (Bapanas) memperkuat stabilitas harga pangan nasional dengan menggencarkan program Gerakan Pangan Murah (GPM) di berbagai daerah menjelang Ramadan hingga Idul Fitri 1447 Hijriah.
Program ini bertujuan menjaga keterjangkauan harga serta memastikan ketersediaan pasokan bahan pokok bagi masyarakat.
Direktur Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan Bapanas, Maino Dwi Hartono mengatakan, kegiatan GPM memberikan akses bagi masyarakat untuk memperoleh bahan pangan dengan harga lebih rendah dari harga pasar.
“Melalui kegiatan ini, masyarakat dapat memperoleh berbagai bahan pokok dengan harga yang lebih terjangkau,” kata Maino dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Minggu (8/3/2026).
Menurutnya, menjelang Hari Raya Idul Fitri permintaan bahan pangan cenderung meningkat signifikan. Kondisi tersebut kerap diikuti oleh tekanan harga di tingkat konsumen. Karena itu, pemerintah memperkuat intervensi pasar melalui GPM.
Baca Juga: Harga Pangan Mulai Stabil, Bapanas Klaim IPH Februari 2026 Membaik
Bapanas mencatat hingga 5 Maret 2026, program GPM telah dilaksanakan sebanyak 2.644 kali di seluruh Indonesia. Rinciannya terdiri dari 20 kali oleh pemerintah pusat, 263 kali di 33 provinsi, 2.148 kali di 312 kabupaten/kota, serta 213 kali diselenggarakan oleh masyarakat dan pihak swasta.
Program stabilisasi harga tersebut juga digelar di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, melalui kolaborasi Bapanas bersama Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Kebumen serta Alumni SMAN 1 Kebumen Angkatan 1996.
Maino menegaskan upaya menjaga stabilitas harga pangan tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja, melainkan membutuhkan kolaborasi lintas sektor.
“Pengendalian pasokan dan harga pangan tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja. Diperlukan kolaborasi kuat antara pemerintah, pelaku usaha, hingga produsen pangan,” ujarnya.
Dirinya juga menambahkan bahwa sinergi tersebut penting terutama menjelang momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) seperti Ramadan dan Idul Fitri yang biasanya memicu lonjakan permintaan bahan pokok.
“Sinergi lintas sektor menjadi kunci untuk menjaga pasokan dan harga pangan tetap stabil, terutama pada momentum Ramadan dan Idul Fitri,” kata Maino.
Dipantau di 35 Daerah Jawa Tengah
Pelaksanaan GPM di Kebumen turut dipantau secara virtual oleh Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, bersama pemerintah daerah di 35 kabupaten dan kota di provinsi tersebut.
Menurut Ahmad Luthfi, program tersebut dapat menjadi instrumen efektif untuk menjaga keterjangkauan harga pangan sekaligus menekan inflasi daerah.
“Ini menjadi model bagi kita semua agar keterjangkauan harga ini bisa dijangkau oleh masyarakat kita,” ujar Ahmad Luthfi.
Baca Juga: Nakal! Bapanas Minta Satgas Telusuri MinyaKita Dijual di Atas HET
Pemerintah daerah juga memastikan stok bahan pokok selama Ramadan hingga Idul Fitri berada dalam kondisi aman.
Bupati Kebumen, Lilis Nuryani mengatakan, pemerintah daerah terus memastikan ketersediaan pangan agar masyarakat tidak perlu melakukan pembelian berlebihan.
“Kami memastikan stok kebutuhan pokok selama Ramadan hingga Idul Fitri dalam kondisi aman sehingga masyarakat tidak perlu melakukan pembelian secara berlebihan atau panic buying,” kata Lilis.
Harga Bahan Pokok Dijual di Bawah Pasaran
Dalam kegiatan GPM tersebut, berbagai komoditas pangan dijual dengan harga di bawah harga pasar. Langkah ini diharapkan dapat langsung meringankan beban belanja masyarakat menjelang hari raya.
Beberapa komoditas yang dijual dalam program tersebut antara lain:
Beras SPHP: Rp60.000 per 5 kilogram
Minyak goreng: Rp15.500 per liter
Telur ayam: mulai Rp24.000 per kilogram
Daging ayam: Rp17.500 per setengah kilogram
Gula pasir: mulai Rp16.000 per kilogram
Cabai: mulai Rp5.000 per paket
Selain itu, masyarakat juga mendapatkan lebih dari 3.000 kupon potongan harga senilai Rp5.000 hingga Rp10.000 yang dapat digunakan saat berbelanja di lokasi GPM.
Program Gerakan Pangan Murah merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk mengendalikan inflasi pangan, terutama pada periode permintaan tinggi seperti Ramadan dan Idul Fitri.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan komoditas pangan seperti beras, cabai, dan daging ayam sering menjadi penyumbang inflasi pada periode hari besar keagamaan. Oleh karena itu, intervensi pasar melalui operasi pangan murah menjadi salah satu instrumen stabilisasi harga.
Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah juga mengombinasikan program GPM dengan berbagai kebijakan lain seperti penyaluran beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) oleh Perum Bulog serta penguatan distribusi pangan antarwilayah.
Kebijakan tersebut diharapkan dapat menjaga keseimbangan antara pasokan dan permintaan sehingga harga pangan tetap stabil di tingkat konsumen.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini











