Harga BBM Subsidi Naik Imbas Kenaikan Harga Crude Oil? Misbakhun: Opsi Paling Akhir

AKURAT.CO Isu kenaikan harga BBM subsidi kembali menjadi perhatian publik seiring lonjakan harga minyak dunia akibat konflik Timur Tengah.
Di tengah volatilitas pasar energi global, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) meminta pemerintah menjadikan opsi kenaikan BBM subsidi sebagai langkah paling akhir agar tidak menekan daya beli masyarakat dan stabilitas ekonomi nasional.
Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun menegaskan, pemerintah perlu menyiapkan berbagai skenario kebijakan fiskal untuk mengantisipasi dampak gejolak harga energi terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Pasalnya, lonjakan harga minyak dunia berpotensi meningkatkan beban subsidi energi dan mengganggu stabilitas fiskal Indonesia.
Pernyataan ini muncul ketika pasar minyak global menunjukkan volatilitas tinggi. Harga minyak Brent sempat melonjak hingga USD119,50 per barel sebelum akhirnya ditutup pada level USD98,96 per barel untuk kontrak Mei 2026, naik 6,8% pada perdagangan Senin (9/3/2026).
Pergerakan ekstrem ini menjadi salah satu indikator tekanan pada pasar energi global yang dapat berdampak langsung pada ekonomi Indonesia.
Kenaikan BBM Subsidi Harus Jadi Opsi Paling Akhir
Ketua Komisi XI DPR, Mukhamad Misbakhun menegaskan, bahwa kebijakan menaikkan harga BBM subsidi harus ditempatkan sebagai opsi terakhir dalam menghadapi tekanan fiskal akibat kenaikan harga minyak dunia.
“Saya minta kalau bisa opsi itu [BBM subsidi naik] paling akhir, bukan terakhir, paling akhir,” kata Misbakhun di Kompleks Parlemen, Selasa (10/3/2026).
Misbakhun menjelaskan pemerintah perlu menyusun berbagai skenario kebijakan untuk menjaga keseimbangan APBN. Pasalnya, asumsi harga minyak dalam APBN saat ini berada pada kisaran USD70 per barel, sehingga setiap kenaikan di atas level tersebut akan menimbulkan risiko fiskal.
“Ketika terjadi gejolak harga minyak dunia, itu tentu memberikan risiko terhadap fiskal kita. ICP atau Indonesian Crude Price kita ditetapkan sekitar USD70 per barel, jadi ketika melewati angka itu tentu ada konsekuensinya bagi APBN,” ujarnya.
Menurut Misbakhun, kenaikan harga BBM subsidi dapat memicu efek domino terhadap perekonomian, terutama pada harga kebutuhan pokok, biaya transportasi, hingga inflasi nasional.
“Kalau harga BBM subsidi naik, otomatis harga pangan, transportasi, dan kebutuhan pokok lainnya akan ikut naik,” jelas politisi Fraksi Golkar tersebut.
Dirinya menekankan bahwa pemerintah saat ini masih berupaya menjaga harga BBM subsidi tetap stabil untuk melindungi daya beli masyarakat, yang merupakan salah satu faktor penting dalam menjaga pertumbuhan ekonomi nasional.
“Kalau daya beli masyarakat terpengaruh, maka pertumbuhan ekonomi kita juga akan terdampak,” kata Misbakhun.
Harga Minyak Dunia Naik Tajam Akibat Konflik Timur Tengah
Tekanan terhadap kebijakan energi Indonesia tidak terlepas dari perkembangan geopolitik global. Perang di Timur Tengah memicu ketidakpastian pasokan minyak dunia, sehingga menyebabkan fluktuasi harga yang cukup tajam dalam beberapa hari terakhir.
Pada perdagangan terbaru, harga minyak Brent sempat mencetak lonjakan intraday hingga USD119,50 per barel, sebelum akhirnya terkoreksi tajam. Penurunan sekitar USD20 dari level tertinggi intraday ke harga penutupan bahkan disebut sebagai salah satu penurunan terbesar dalam sejarah perdagangan minyak.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar energi global saat ini berada dalam fase volatilitas ekstrem, yang dapat berdampak langsung pada negara pengimpor minyak seperti Indonesia.
Kenaikan harga minyak dunia biasanya meningkatkan beban subsidi energi pemerintah, karena selisih antara harga pasar dan harga jual domestik harus ditanggung melalui APBN.
Sebelumnya, Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, memastikan hingga saat ini pemerintah belum memiliki rencana menaikkan harga BBM subsidi meskipun harga minyak dunia sedang mengalami lonjakan.
“Sampai sekarang belum ada kebijakan untuk mengubah subsidi BBM, dalam pengertian menaikkan harga BBM. Karena kita masih melihat seperti apa kondisinya,” ujar Purbaya.
Menurutnya, pemerintah tidak ingin mengambil keputusan secara tergesa-gesa di tengah kondisi pasar energi global yang masih sangat fluktuatif.
Dirinya menegaskan bahwa pemerintah akan terus memantau perkembangan harga minyak dunia sebelum mengambil langkah kebijakan yang lebih besar.
“Nanti kalau setelah sebulan semuanya berubah, kita akan melakukan evaluasi,” kata Purbaya.
APBN Jadi Peredam Gejolak Harga Energi Global
Purbaya juga membuka kemungkinan penyesuaian postur APBN jika lonjakan harga minyak dunia berlangsung dalam waktu yang lebih lama dan mulai membebani fiskal negara.
Namun, ia menegaskan pemerintah masih memiliki ruang fiskal untuk menahan tekanan harga energi dalam jangka pendek.
“Jadi kita lihat dulu sebulan ini bagaimana keadaannya. Kalau ada perubahan signifikan, nanti kita evaluasi secara menyeluruh,” ujarnya.
Menurut Purbaya, pemerintah akan terus memantau pergerakan harga minyak setiap saat karena APBN dirancang sebagai shock absorber, atau peredam guncangan ketika terjadi krisis ekonomi global.
Dengan pendekatan tersebut, pemerintah berharap stabilitas harga energi domestik tetap terjaga tanpa harus segera mengambil langkah drastis seperti menaikkan harga BBM subsidi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini











