99 Persen Riset Kampus Tak Sampai ke Pasar, Pemerintah Dorong Inovasi Pertanian

AKURAT.CO Kementerian Pertanian menggandeng Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemendiktisaintek) serta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk mempercepat kolaborasi riset, inovasi teknologi, hingga komersialisasi hasil penelitian di sektor pangan.
Sinergi ini dinilai krusial karena selama ini sebagian besar hasil riset perguruan tinggi belum berhasil masuk ke pasar industri.
Bahkan, menurut pemerintah, hampir 99 persen inovasi akademik berhenti pada publikasi ilmiah tanpa diterapkan secara nyata di sektor produksi.
Melalui kerja sama lintas kementerian dan lembaga riset tersebut, pemerintah berharap riset pertanian dapat langsung diterapkan di industri, mempercepat modernisasi pertanian, serta mendorong swasembada pangan berkelanjutan.
Baca Juga: Produksi Nasional Bakal Tembus 18 Juta Ton di 2026, RI Stop Impor Jagung
Langkah strategis ini juga melibatkan sedikitnya 18 perguruan tinggi di Indonesia untuk memperkuat inovasi pada berbagai komoditas pangan strategis seperti padi, jagung, kedelai, hingga kopi dan kakao.
Hilirisasi Inovasi di Sektor Pertanian
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman menegaskan, bahwa sektor pertanian tidak akan berkembang optimal tanpa dukungan riset dan inovasi yang kuat.
Amran mengatakan kerja sama antara pemerintah, akademisi, dan industri menjadi kunci agar hasil penelitian benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Pertanian pangan tidak mungkin maju tanpa inovasi,” kata Amran usai penandatanganan kesepakatan bersama Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi Brian Yuliarto serta Kepala BRIN Arif Satria di Jakarta, Kamis (12/3/2026).
Menurut Amran, kolaborasi tersebut merupakan langkah strategis untuk memperkuat hubungan antara pemerintah, lembaga riset, dan perguruan tinggi dalam menciptakan inovasi yang dapat langsung diterapkan di sektor pertanian.
Dirinya menekankan bahwa selama ini banyak penelitian di perguruan tinggi yang berkualitas tinggi, tetapi belum memberikan dampak nyata bagi perekonomian.
“Banyak penelitian di perguruan tinggi yang sangat baik, tetapi kalau tidak ditarik menjadi kebijakan dan tidak masuk ke industri, maka hanya berhenti di atas kertas,” ujarnya.
Amran menambahkan bahwa inovasi yang berhasil masuk ke dalam kebijakan pemerintah dapat memberikan dampak besar bagi pembangunan pertanian nasional.
“Ketika inovasi masuk ke pemerintah dan diterjemahkan menjadi kebijakan, dampaknya bisa sangat besar bagi masyarakat. Inilah yang ingin kita dorong bersama melalui kolaborasi ini,” kata dia.
99 Persen Inovasi Akademik Tak Sampai ke Pasar
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi Brian Yuliarto mengungkapkan bahwa kolaborasi ini menjadi momentum penting bagi perguruan tinggi untuk berkontribusi lebih nyata dalam mendukung program swasembada pangan nasional.
Menurutnya, selama ini banyak hasil penelitian di kampus yang gagal menembus pasar karena minimnya kolaborasi dengan industri maupun pemerintah.
“Lebih dari 90 persen bahkan hampir 99 persen hasil penelitian di dunia akademik tidak berhasil masuk ke pasar komersial,” kata Brian.
Karena itu, ia menilai kolaborasi lintas sektor sangat penting agar inovasi yang dihasilkan di perguruan tinggi dapat dikembangkan menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi.
Kemendiktisaintek juga berencana mengonsolidasikan perguruan tinggi di seluruh Indonesia untuk fokus pada pengembangan riset komoditas strategis yang mendukung kemandirian pangan nasional.
BRIN Siapkan 188 Paten Teknologi Pangan
Di sisi lain, Kepala BRIN Arif Satria menegaskan bahwa sektor pertanian merupakan fondasi penting bagi pembangunan peradaban bangsa sehingga perlu didukung dengan riset dan teknologi yang kuat.
BRIN saat ini telah menyiapkan peta jalan riset pangan nasional guna memastikan pengembangan inovasi antara lembaga riset dan perguruan tinggi berjalan selaras dan tidak saling tumpang tindih.
Arif mengungkapkan bahwa lembaganya telah menghasilkan 188 paten di bidang pangan yang siap dimanfaatkan oleh industri. “BRIN siap mendukung percepatan hilirisasi inovasi di sektor pangan,” jelasnya.
Dari Padi hingga Kopi dan Sawit
Kesepakatan antara Kementerian Pertanian, Kemendiktisaintek, dan BRIN mencakup koordinasi riset pada berbagai komoditas strategis nasional.
Selain itu, kerja sama juga meliputi pengembangan alat mesin pertanian, pupuk, teknologi pengolahan pascapanen, hingga pertanian modern berbasis teknologi.
Program ini juga mencakup penelitian bersama, perekayasaan teknologi pertanian, pertukaran data riset, serta pemanfaatan sarana-prasarana laboratorium secara bersama.
Kerja sama tersebut melibatkan sedikitnya 18 perguruan tinggi di Indonesia yang akan berperan dalam pengembangan inovasi pertanian dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia di sektor pangan.
Selain mempercepat hilirisasi teknologi, kolaborasi ini juga diharapkan mampu memperkuat ekosistem riset nasional, terutama dalam mendorong pemanfaatan hasil penelitian untuk meningkatkan nilai tambah komoditas pertanian.
Pemerintah berharap sinergi antara pemerintah, kampus, dan industri dapat mempercepat adopsi teknologi di sektor pertanian.
Beberapa komoditas yang menjadi fokus pengembangan antara lain:
padi
jagung
kedelai
gandum
sorgum
bawang putih
sawit
kelapa
kopi
kakao
lada
pala
komoditas peternakan seperti ayam
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini











