RI-Singapura Matangkan Rencana Ekspor Listrik Bersih, Proyeksikan Kepulauan Riau Jadi Hub Industri

AKURAT.CO Pemerintah lewat Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terus mematangkan rencana ekspor listrik bersih ke Singapura.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia mengatakan, rencana ekspor ini diarahkan bukan sekadar sebagai perdagangan energi, tetapi juga sebagai pengungkit masuknya investasi industri berteknologi tinggi.
Pemerintah ingin memanfaatkan ketersediaan energi hijau untuk menarik perusahaan-perusahaan global membangun fasilitas produksi dan pusat teknologi di kawasan Batam, Bintan, dan Karimun (BBK), sehingga kawasan ini dapat berkembang menjadi pusat industri hijau baru di Indonesia.
Baca Juga: Dukung Ekspor Listrik Singapura, Pertamina NRE Bakal Groundbreaking Panel Surya
“Saya sudah mendapat laporan bahwa kawasan industri sudah hampir final. Nanti kita akan bangun di wilayah Kepri. Dan ini saya lagi meng-clear-kan. Kalau itu sudah selesai, maka saya pikir ini salah satu kemajuan dalam persiapan,” kata Bahlil dalam pertemuan dengan Minister for Manpower sekaligus penanggung jawab energi Singapura Tan See Leng di Tokyo dikutip, Senin (16/3/2026).
Dalam pertemuan itu, kedua negara juga menyinggung pengembangan kawasan industri berkelanjutan di Batam, Bintan, dan Karimun.
Pemerintah menyiapkan skema agar kebutuhan listrik dalam negeri tetap diprioritaskan sebelum ekspor, sekaligus membuka peluang kerja sama teknologi rendah karbon seperti penangkapan dan penyimpanan karbon (Carbon Capture Storage/CCS).
“Yang menyangkut CCS, aturan-aturannya sudah saya persiapkan. Itu kemudian bisa kita lakukan kolaborasi,” tambah Bahlil.
Hal lain yang juga menjadi fokus pembahasan dalam pertemuan ini adalah terkait ekspor listrik.
Bahlil menawarkan ekspor listrik yang berasal dari Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), sejalan dengan program kelistrikan 100 gigawatt (GW) yang dibangun untuk memenuhi kebutuhan domestik dan juga dapat diekspor ke negara tetangga.
Namun, terdapat tantangan dari segi harga, di mana harga energi hijau lebih mahal daripada harga energi fosil.
Semetara itu, Minister Tan See Leng menyambut baik progres teknis terkait kerja sama antara pihaknya dengan Indonesia. “Saya rasa sebagian besar diskusi teknikal sudah mengalami kemajuan yang baik,” ujar Tan See Leng.
Menutup pertemuan, kedua menteri sepakat bahwa sinergi ini adalah pembuktian kepemimpinan energi di ASEAN.
Dengan dukungan teknis dan investasi dari Singapura serta sumber daya melimpah dari Indonesia, visi menjadi pemain kunci dalam rantai pasok energi hijau kini berada di jalur yang tepat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Gubernur Bali I Wayan Koster Viral Usai Adu Mulut dengan Petugas SPBU, Ini Profilnya
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK









