Akurat
Pemprov Sumsel

Diplomasi Energi Menteri Bahlil di Jepang Angkat Posisi Indonesia di Panggung Global

Saeful Anwar | 26 Maret 2026, 13:21 WIB
Diplomasi Energi Menteri Bahlil di Jepang Angkat Posisi Indonesia di Panggung Global
Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia.

AKURAT.CO Langkah diplomasi energi yang dilakukan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, ke Jepang dinilai menjadi titik penting dalam perubahan posisi Indonesia di kancah global.

Indonesia kini tidak lagi dipandang sebagai sekadar pemasok bahan mentah, melainkan mulai tampil sebagai aktor utama dalam rantai pasok energi dunia.

Pengamat kebijakan publik dari Universitas Islam Sultan Agung (Unissula), Henry Indraguna, menilai langkah tersebut mencerminkan keberanian Indonesia dalam menentukan arah kepentingan nasional secara mandiri.

“Indonesia tidak lagi menjadi objek dalam relasi global, tetapi sudah menjadi subjek yang aktif menentukan arah kebijakan strategisnya,” ujarnya, Selasa (24/3/2026).

Menurut Henry, kerja sama energi dengan Jepang membuka peluang besar bagi Indonesia untuk naik kelas dalam rantai nilai global, terutama melalui hilirisasi sumber daya alam dan penguasaan teknologi.

Dalam kunjungan ke Tokyo, Bahlil bertemu dengan Menteri Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang, Ryosei Akazawa.

Pertemuan tersebut menghasilkan dua nota kesepahaman (MoU) yang mencakup penguatan rantai pasok mineral kritis serta pengembangan teknologi nuklir rendah karbon.

Selain itu, pemerintah juga mendorong percepatan investasi migas oleh Inpex Corporation dalam proyek strategis Lapangan Abadi Blok Masela yang bernilai sekitar Rp339 triliun.

Baca Juga: Silaturahmi ke Rumah Jokowi, Stafsus Wapres Tina Talisa Bahas Persatuan hingga Perkembangan IKN

Tak hanya fokus pada migas, Indonesia juga menawarkan kerja sama pengelolaan komoditas strategis seperti nikel, bauksit, tembaga, hingga logam tanah jarang—yang menjadi kunci dalam transisi energi global.

Kerja sama kedua negara turut diperluas ke sektor energi bersih, termasuk gas alam cair (LNG) dan proyek transisi energi dalam kerangka Asia Zero Emission Community (AZEC).

Beberapa proyek yang menjadi perhatian antara lain pengembangan pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) dan optimalisasi energi panas bumi.

Henry menilai langkah tersebut sejalan dengan konsep pertumbuhan ekonomi modern yang menitikberatkan pada inovasi dan peningkatan nilai tambah dalam negeri.

“Penguasaan teknologi dan hilirisasi adalah kunci agar Indonesia tidak terjebak sebagai negara pengekspor bahan mentah semata,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya kepastian hukum dalam proyek-proyek strategis untuk menjaga kepercayaan investor global.

Menurutnya, proyek seperti Blok Masela dapat menjadi indikator bahwa Indonesia adalah mitra yang kredibel dan stabil di tengah dinamika global.

Di sisi lain, ia mengingatkan agar setiap kerja sama internasional tetap dikawal ketat agar sejalan dengan kepentingan nasional, khususnya dalam menjaga kedaulatan energi dan keberlanjutan sumber daya alam.

Dengan strategi diplomasi yang semakin agresif dan terarah, Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk memperkuat posisinya sebagai pusat kekuatan energi baru di kawasan Indo-Pasifik.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.