Akurat
Pemprov Sumsel

MBG Jadi Penggerak Ekonomi, Sektor Peternakan Kian Bergairah

Esha Tri Wahyuni | 27 Maret 2026, 15:27 WIB
MBG Jadi Penggerak Ekonomi, Sektor Peternakan Kian Bergairah
Program MBG dorong lonjakan permintaan susu dan daging. Pemerintah targetkan swasembada dan buka peluang investasi besar di sektor peternakan nasional.

AKURAT.CO Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai menunjukkan perannya sebagai katalis baru dalam mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia, khususnya di sektor pangan dan peternakan.

Pemerintah tidak lagi sekadar mengejar ketahanan pangan, tetapi bergerak menuju kedaulatan pangan yang berkelanjutan.

Dalam konteks ini, MBG menjadi pemicu terciptanya permintaan pasar yang stabil dan besar, terutama untuk komoditas strategis seperti susu dan daging sapi.

Dengan proyeksi kebutuhan mencapai jutaan liter susu dan puluhan ribu ton daging, program ini membuka peluang investasi sekaligus mempercepat transformasi industri peternakan nasional.

Baca Juga: Bukan Sekadar Target, BGN Diminta Stop Praktik Bisnis di Program MBG

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas, Rachmat Pambudy menegaskan, bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi salah satu terobosan utama pemerintah dalam menggerakkan ekonomi nasional.

"We introduced what we call free meals or program makan bergizi gratis. It's our game changer," ujarnta dalam forum internasional yang diselenggarakan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Jakarta, Jumat (27/3/2026).

Pernyataan ini menegaskan bahwa MBG tidak hanya dilihat sebagai program sosial, tetapi juga sebagai instrumen ekonomi yang mampu menciptakan efek berganda (multiplier effect) di berbagai sektor.

Program MBG menciptakan pasar baru yang terstruktur, stabil, dan terus berkembang. Hal ini menjadi sinyal kuat bagi pelaku usaha dan investor di sektor peternakan.

"The market is ready, stable, and growing," kata Rachmat.

Baca Juga: Program MBG Disorot, BGN Diminta Fokus Perbaiki Kualitas SPPG

Dirinya mengungkapkan bahwa hingga 2029, kebutuhan tambahan dari program ini diproyeksikan mencapai:

  • 1,5 juta liter susu

  • 47.000 ton daging sapi

Angka ini menunjukkan adanya lonjakan permintaan signifikan yang berpotensi mengubah lanskap industri peternakan nasional, dari skala tradisional menuju industri modern berbasis permintaan terukur.

Meskipun begitu, pemerintah menetapkan target ambisius dalam meningkatkan kemandirian pangan berbasis protein hewani. Produksi susu domestik ditargetkan naik drastis dari 21% menjadi 96%, sementara produksi daging sapi ditargetkan mencapai 70% dari kebutuhan nasional.

Untuk mencapai target tersebut, pemerintah memfasilitasi masuknya hingga 1 juta sapi perah ke dalam ekosistem peternakan nasional. Langkah ini diharapkan dapat mempercepat peningkatan kapasitas produksi sekaligus mengurangi ketergantungan impor.

Meski peluang terbuka lebar, sektor peternakan Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan struktural. Rachmat mengakui bahwa lebih dari 90% peternakan dikelola oleh peternak kecil dengan produktivitas yang relatif rendah.

Selain itu, terdapat kesenjangan dalam sistem pembibitan yang menyebabkan ketergantungan terhadap impor masih tinggi. Faktor lain yang menjadi hambatan adalah mahalnya biaya pakan serta ancaman penyakit hewan yang dapat mengganggu stabilitas produksi.

Untuk menjawab tantangan tersebut, pemerintah mendorong kolaborasi lintas sektor, mulai dari swasta hingga akademisi. Fokus utamanya adalah meningkatkan kualitas dan skala produksi secara simultan.

Salah satu inovasi yang tengah dikembangkan adalah sapi “Merah Putih” berbasis teknologi genomik. Inovasi ini dirancang untuk menghasilkan ternak dengan produktivitas tinggi serta daya tahan yang lebih kuat terhadap penyakit.

Selain itu, pemerintah juga mendorong sektor swasta nasional untuk tidak hanya menjadi pelaku usaha, tetapi turut berinvestasi dalam riset dan pengembangan (R&D) di sektor peternakan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.