Akurat
Pemprov Sumsel

Hadapi Ancaman El Nino, Kementan Andalkan Teknologi AWD Hemat Air

Esha Tri Wahyuni | 29 Maret 2026, 21:00 WIB
Hadapi Ancaman El Nino, Kementan Andalkan Teknologi AWD Hemat Air
Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman

AKURAT.CO Kementerian Pertanian (Kementan) mulai menerapkan metode Alternate Wetting and Drying (AWD) sebagai langkah cepat menghadapi potensi fenomena El Nino ekstrem atau “Godzilla El Nino” yang diperkirakan memicu kekeringan panjang.

Teknologi ini diklaim mampu menghemat penggunaan air irigasi hingga 20 persen tanpa menurunkan produktivitas padi.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman mengatakan, efisiensi air menjadi faktor kunci dalam menjaga produksi pangan nasional di tengah ancaman perubahan iklim.

“Metode AWD mampu mengurangi penggunaan air irigasi hingga 20 persen tanpa menurunkan produktivitas padi. Upaya efisiensi air menjadi kunci menghadapi musim kemarau yang kian tidak menentu,” ujarnya dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Minggu (29/3/2026).

Baca Juga: Panen Raya Dongkrak Stok, Mentan Jamin Pangan Nasional Aman

Data Kementan melalui Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) menunjukkan hasil pengujian AWD selama enam musim tanam mampu menekan penggunaan air irigasi sebesar 17–20%. Teknologi ini juga dinilai efektif menjaga kondisi tanaman tetap optimal meski pasokan air terbatas.

Kepala BRMP Fadjry Djufry menegaskan metode AWD merupakan inovasi berbasis riset yang menjawab tantangan nyata di lapangan.

“Berdasarkan hasil pengujian selama enam musim tanam, melalui teknik AWD ini, kelangkaan air di lahan sawah dapat ditekan, bahkan dihindari. Teknologi ini dapat menghemat penggunaan air irigasi 17-20 persen,” kata Fadjry.

Secara teknis, AWD dilakukan dengan mengatur siklus pengairan berdasarkan kondisi kelembapan tanah. Sawah tidak digenangi terus-menerus, melainkan diberi jeda hingga air surut sebelum diairi kembali. Pengukuran dilakukan menggunakan pipa sederhana menyerupai piezometer untuk memantau kedalaman air.

Analis BRMP Lingkungan Pertanian, Ali Pramono, menjelaskan pengairan dilakukan kembali saat muka air turun 10–15 cm di bawah permukaan tanah.

“Pengairan kembali umumnya dilakukan ketika muka air di dalam pipa telah turun hingga kisaran 10–15 cm di bawah permukaan tanah, kemudian air diberikan kembali dalam jumlah terbatas hingga tinggi muka air 3–5 cm,” jelasnya.

Baca Juga: Bidik Swasembada Gula, Kementan Siapkan 5.9 Miliar Benih Tebu di 2026

Fenomena El Nino sebelumnya pada 2015–2016 menyebabkan penurunan produksi padi nasional akibat kekeringan di sejumlah sentra pangan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dalam beberapa proyeksi terbaru juga mengingatkan potensi anomali iklim yang dapat memperpanjang musim kemarau di Indonesia.

Teknologi AWD sendiri dikembangkan oleh International Rice Research Institute (IRRI) pada 2009 dan mulai diadaptasi di Indonesia sejak 2013. Penerapan ini menjadi bagian dari strategi climate smart agriculture yang mengedepankan efisiensi sumber daya dan ketahanan terhadap perubahan iklim.

Efisiensi air hingga 20% membuka peluang distribusi irigasi yang lebih merata, terutama di wilayah dengan keterbatasan pasokan air. Dalam kondisi krisis, hal ini berpotensi menjaga luas tanam tetap stabil dan mencegah penurunan produksi.

Selain itu, AWD juga memberikan manfaat lingkungan berupa perbaikan struktur tanah dan penurunan emisi gas rumah kaca dari lahan sawah. Hal ini relevan dengan komitmen Indonesia dalam pengurangan emisi sektor pertanian.

Dari sisi petani, metode ini dinilai lebih adaptif karena tidak bergantung pada penggenangan air terus-menerus, sekaligus meningkatkan ketahanan tanaman terhadap cekaman kekeringan.

Kementan menegaskan penguatan manajemen air akan menjadi prioritas dalam menjaga ketahanan pangan nasional ke depan. Implementasi AWD akan diperluas ke berbagai daerah sentra produksi padi, terutama yang rawan kekeringan.

“Pengelolaan air menjadi faktor krusial dalam keberhasilan produksi pertanian. Ketersediaan air yang terencana dan efisien sangat menentukan dalam menekan risiko kekeringan serta menjaga produktivitas,” kata Amran.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.