Saudi Aramco Pangkas Pasokan ke Asia, Harga BBM RI Bakal Terkerek

AKURAT.CO Pemangkasan pasokan minyak mentah oleh Saudi Aramco ke pembeli di Asia untuk bulan kedua berturut-turut pada April 2026 dinilai berpotensi memberikan tekanan langsung terhadap harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri.
Pemangkasan yang dilakukan oleh Saudi Aramco menyusul gangguan distribusi akibat konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang berdampak pada jalur strategis Selat Hormuz.
Direktur Celios, Bhima Yudhistira, menilai pemangkasan pasokan yang dilakukan oleu Saudi Aramco akan sangat berdampak terhadap harga BBM, baik subsidi maupun non-subsidi.
Baca Juga: Bahlil: Belum Ada Rencana Pembatasan BBM Bersubsidi
Apalagi, sepanjang 2025, Indonesia tercatat mengimpor 135,33 juta barel minyak mentah, dengan sekitar 19% atau 25,36 juta barel berasal dari Arab Saudi.
“Sangat berdampak ke harga BBM baik subsidi dan non-subsidi. kenaikan harga bisa Rp1.500 per liter untuk jenis bbm non-subsidi,” kata Bhima kepada Akurat, Senin (30/3/2026).
Bhima mengatakan, dengan harga minyak dunia yang sudah berada di kisaran USD115 per barel, kemampuan pemerintah untuk menahan harga BBM subsidi semakin berat.
Dirinya memperkirakan pemerintah membutuhkan tambahan subsidi energi sekitar Rp126 triliun hingga Rp130 triliun apabila ingin menjaga harga tetap stabil.
“Pemerintah belum siapkan Rp126-130 triliun tambahan subsidi energi. Inflasi energi makin berat menekan daya beli, yang jelas masyarakat tidak siap hadapi kenaikan harga BBM,” ujarnya.
Perlu Cari Pengganti
Lebih lanjut, dengan pemangkasan yang dilakukan Saudi Aramco, Bhima menilai pemerintah perlu segera mencari alternatif sumber impor minyak selain dari kawasan utama Timur Tengah, seperti Nigeria dan Angola.
Namun, menurutnya, persoalan utama bukan hanya kontrak pembelian, melainkan kelancaran jalur distribusi melalui Selat Hormuz.
“Sekarang yang bisa dilakukan adalah melobi pemerintah Iran agar pembelian minyak dari Nigeria dan Angola tidak dihambat di Selat Hormuz,” ucap Bhima.
Senada dengan Bhima, Praktisi migas, Hadi Ismoyo mengatakan bahwa pemerintah perlu bergerak cepat untuk mencari sumber alternatif.
Selain negara di Afrika, Hadi menilai Amerika Serikat dan Rusia menjadi kandidat terkuat untuk menggantikan pasokan dari Arab Saudi.
“Kandidat Negara yg paling kuat menggantikan KSA (Kingdom of Saudi Arabia) adalah USA (14 juta bopd) dan Rusia (10 juta BOPD),” tutur Hadi.
Tak Boleh Naikkan Harga BBM Subsidi
Di sisi lain, Hadi menuturkan bahwa ketegangan geopolitik di kawasan Teluk Persia telah mengganggu sekitar 20 persen pasokan minyak dunia dan berpotensi menekan harga BBM dalam negeri.
Harga BBM dalam negeri berpotensi mengalami kenaikan dikarenakan harga minyak yang semakin dan hal tersebut secara otomatis bakal mendorong penyesuaian harga produk BBM.
Akan tetapi, Hadi tidak merekomendasikan kenaikan harga BBM subsidi dalam waktu dekat mengingat kondisi ekonomi masyarakat yang masih tertekan. “Dengan kondisi ekonomi yg masih berat, daya beli masih rendah. Maka saya tidak merekomendasikan kenaikkan BBM saat ini,” pungkasnya.
Sebagai alternatif, dirinya mendorong pemerintah untuk melakukan revisi APBN guna menambah alokasi subsidi energi, termasuk memangkas program-program yang dinilai bukan prioritas.
Sementara untuk BBM non-subsidi, Hadi menilai penyesuaian harga mengikuti mekanisme pasar masih memungkinkan karena mayoritas konsumennya berasal dari kelompok masyarakat dengan daya beli lebih kuat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










