Akurat
Pemprov Sumsel

BMKG Prediksi El Nino, PalmCo Perkuat Mitigasi Karhutla dan Produksi

Esha Tri Wahyuni | 31 Maret 2026, 23:52 WIB
BMKG Prediksi El Nino, PalmCo Perkuat Mitigasi Karhutla dan Produksi
BMKG memproyeksikan peluang El Nino 50–60 persen pada semester II 2026. PalmCo memperkuat mitigasi karhutla dan menjaga produksi sawit nasional.

AKURAT.CO PT Perkebunan Nusantara IV (PalmCo) menetapkan status siaga menghadapi potensi musim kemarau 2026, menyusul proyeksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terkait peluang terjadinya fenomena El Nino pada paruh kedua tahun ini.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menegaskan probabilitas El Nino berada di kisaran 50–60% dengan intensitas lemah hingga moderat.

“Klasifikasi El Nino secara ilmiah hanya terbagi lemah, moderat, dan kuat. Saat ini peluangnya berada pada kategori lemah hingga moderat setelah semester kedua,” ujarnya dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Selasa (31/3/2026).

Baca Juga: PTPN IV Perkuat Pengendalian Keuangan Lewat Sistem ICoFR

Merespons proyeksi tersebut, Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa mengatakan perusahaan memilih pendekatan mitigasi dini.

“Kami tidak ingin mengambil risiko. Kesiapsiagaan tetap kami jalankan seolah menghadapi skenario terburuk,” kata Jatmiko, Selasa (31/3/2026).

Data BMKG menunjukkan bahwa periode El Nino sebelumnya pada 2015 dan 2019 berkontribusi signifikan terhadap peningkatan kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla), dengan luas area terdampak mencapai lebih dari 2,6 juta hektare pada 2015.

Menurut Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Kondisi tersebut menjadi rujukan utama dalam penguatan mitigasi tahun ini.

PalmCo kini mengandalkan sistem berbasis kecerdasan buatan (AI) bernama ARFINA (Artificial Intelligence Fire Monitoring Integrated Ground Checking Nusantara) untuk mendeteksi titik panas secara real time.

“Sistem ini membantu kami mendeteksi titik panas lebih awal, sehingga penanganan bisa dilakukan sebelum api meluas,” ujar Jatmiko.

Selain teknologi, perusahaan juga memperkuat kesiapan operasional melalui pembangunan embung, sekat kanal, serta patroli terpadu bersama aparat TNI dan Polri di wilayah rawan seperti Sumatera dan Kalimantan.

Langkah ini dilakukan untuk menekan potensi karhutla yang secara historis meningkat saat curah hujan menurun drastis.

Baca Juga: Sukseskan KDMP, PTPN IV PalmCo Gandeng 4 UMKM di Sumut

Dalam konteks agronomi, kemarau panjang berisiko menekan produktivitas kelapa sawit nasional. Data Kementerian Pertanian menunjukkan bahwa penurunan curah hujan ekstrem dapat mengurangi produksi tandan buah segar (TBS) hingga 10–20% pada periode terdampak.

Risiko ini terutama terjadi pada tanaman belum menghasilkan (TBM) yang memiliki sistem perakaran belum optimal.

Jatmiko menegaskan perusahaan menerapkan strategi adaptif untuk menjaga stabilitas produksi.

“Kemarau panjang membawa efek domino, seperti potensi ledakan hama, kekeringan tanah, hingga penurunan rendemen. Ini harus diantisipasi secara menyeluruh,” katanya.

Dari sisi dampak pasar, sektor kelapa sawit memiliki kontribusi signifikan terhadap ekspor nasional. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor kelapa sawit Indonesia mencapai lebih dari USD30 miliar per tahun dalam beberapa tahun terakhir.

Gangguan produksi akibat cuaca berpotensi memengaruhi pasokan global dan harga minyak sawit mentah (CPO).

Selain aspek ekonomi, mitigasi karhutla juga berkaitan langsung dengan isu lingkungan dan kesehatan publik.

Episode karhutla besar pada 2015 menyebabkan kerugian ekonomi hingga Rp221 triliun menurut Bank Dunia, serta berdampak pada kualitas udara lintas wilayah.

PalmCo menyatakan akan terus memantau perkembangan iklim dan memperkuat koordinasi lintas sektor sebagai langkah lanjutan.

“Fokus kami adalah menjaga kondisi tanaman tetap optimal serta memastikan siklus produksi tidak terganggu di tengah tekanan iklim,” ujar Jatmiko.

Langkah antisipatif ini dinilai krusial untuk menjaga keberlanjutan industri sawit nasional di tengah meningkatnya volatilitas iklim global.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.