Akurat
Pemprov Sumsel

Ekspor Urea Tetap Jalan, Pemerintah Pastikan Stok Dalam Negeri Aman

Esha Tri Wahyuni | 3 April 2026, 11:50 WIB
Ekspor Urea Tetap Jalan, Pemerintah Pastikan Stok Dalam Negeri Aman
Direktur Utama PT Pupuk Indonesia (Persero), Rahmad Pribadi

AKURAT.CO Pemerintah memastikan ekspor pupuk urea tetap berjalan di tengah krisis geopolitik global, dengan syarat kebutuhan dalam negeri terpenuhi.

Kebijakan ini diambil seiring lonjakan permintaan internasional akibat terganggunya jalur distribusi global di Selat Hormuz.

Direktur Utama PT Pupuk Indonesia (Persero), Rahmad Pribadi menegaskan, prioritas utama tetap pada stabilitas pasokan domestik.

Baca Juga: Amran Sebut Deregulasi Pupuk Bikin Harga Turun 20 Persen

“Yang penting Indonesia aman dulu, baru ekspor,” kata Rahmad usai rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI di Jakarta, Kamis (2/4/2026).

Secara data, kapasitas produksi urea nasional mencapai 9,4 juta ton, dengan kapasitas operasional sekitar 8,8 juta ton. Dari jumlah tersebut, alokasi ekspor berkisar 1,5 juta ton dan bersifat fleksibel mengikuti kondisi pasokan dalam negeri.

Rahmad juga menyebutkan bahwa meskipun harga global melonjak tajam, pasokan domestik relatif aman karena sebagian besar kebutuhan dipenuhi dari produksi nasional.

“Ekspor tetap dilakukan, tetapi dengan prinsip tidak mengganggu kebutuhan dalam negeri,” ujarnya.

Di sisi lain, lonjakan harga urea global menjadi indikator tekanan pasar. Berdasarkan data Trading Economics per 1 April 2026, harga urea mencapai sekitar USD690 per ton, naik signifikan dari kisaran USD350– USD380 pada awal Januari 2026. Bahkan dalam beberapa periode, harga sempat menyentuh USD800 per ton.

Baca Juga: Lewat FertInnovation Challenge 2025, Pupuk Indonesia Percepat Inovasi Pertanian Nasional

Wakil Menteri Pertanian Sudaryono mengungkapkan tekanan permintaan global meningkat tajam. Sejumlah negara kini menjadikan Indonesia sebagai alternatif pasokan utama.

“Mereka mau impor pupuk dari Indonesia, berapapun dia bayar,” kata Sudaryono saat Konferensi Pupuk Asia 2026 di Bali.

Dirinya menyebutkan sedikitnya enam negara mengincar impor urea dari Indonesia, termasuk India, Brasil, Australia, dan Filipina. Permintaan ini muncul setelah distribusi pupuk global terganggu akibat konflik di Timur Tengah yang berdampak pada penutupan atau pembatasan jalur strategis Selat Hormuz.

Sebagai konteks, sekitar 30% perdagangan pupuk dunia melewati jalur Selat Hormuz. Gangguan di wilayah ini sebelumnya juga pernah terjadi dalam beberapa konflik geopolitik, yang umumnya memicu lonjakan harga energi dan komoditas, termasuk pupuk berbasis gas seperti urea.

Dalam kondisi saat ini, Indonesia berada pada posisi strategis sebagai produsen regional dengan kapasitas produksi relatif besar di Asia Tenggara. Hal ini membuat Indonesia berpotensi menjadi penyeimbang (stabilisator) pasokan global, terutama ketika negara produsen lain mengalami hambatan distribusi.

Dari sisi dampak, kenaikan harga urea global berpotensi meningkatkan biaya produksi pertanian di banyak negara. Namun bagi Indonesia, kondisi ini membuka peluang peningkatan devisa dari ekspor, sekaligus memperkuat posisi tawar di pasar internasional.

Di sisi domestik, pemerintah tetap menjaga distribusi pupuk subsidi agar tidak terganggu, mengingat sektor pertanian menjadi penopang ketahanan pangan nasional.

Sudaryono menegaskan pemerintah telah memastikan kebutuhan pupuk dalam negeri dalam kondisi cukup.

“Indonesia berpotensi menjadi stabilisator pasokan pupuk dunia, karena kebutuhan dalam negeri sudah kita pastikan aman,” ujarnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.