Harga Minyak Dunia Melonjak 7 Persen Imbas Tegangan Selat Hormuz

AKURAT.CO Harga minyak dunia kembali menguat setelah sempat anjlok signifikan pada akhir pekan lalu. Kenaikan ini dikarenakan meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, khususnya dinamika di Selat Hormuz.
Melansir dari Reuters, Senin (20/4/2026) pada perdagangan Senin, harga minyak mentah Brent tercatat melonjak sebesar 6,76% atau naik USD6,11 menjadi USD96,49 per barel.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS juga menguat 7,79% atau naik USD6,53 ke level USD90,38 per barel.
Baca Juga: IMF Pangkas Proyeksi Global, Perang dan Harga Minyak Jadi Pemicu Utama
Penguatan ini terjadi setelah sebelumnya harga minyak jatuh lebih dari 9% pada Jumat, menyusul kabar pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz. Namun, optimisme pasar tersebut tidak bertahan lama setelah muncul laporan bahwa jalur strategis tersebut kembali ditutup.
Ketegangan meningkat setelah Amerika Serikat dan Iran saling menuduh melanggar kesepakatan gencatan senjata, termasuk insiden penyerangan terhadap kapal-kapal di akhir pekan. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, bahkan menyatakan bahwa militer AS telah menyita kapal kargo Iran yang mencoba menembus blokade.
Di sisi lain, Iran menyatakan tidak akan melanjutkan pembicaraan damai tahap berikutnya, meskipun terdapat ancaman serangan lanjutan dari pihak AS. Situasi ini memperburuk ketidakpastian pasar energi global.
Kepala Riset MST Marquee, Saul Kavonic, menilai pasar minyak saat ini sangat sensitif terhadap perkembangan informasi, termasuk pernyataan politik dan media sosial dari kedua negara.
“Pasar minyak terus bergejolak sebagai respons terhadap unggahan media sosial yang berfluktuasi oleh AS dan Iran, alih-alih realitas di lapangan yang tetap menantang bagi aliran minyak untuk kembali berjalan dengan cepat," katanya.
Baca Juga: Cek Fakta: Rusia Luruskan Isu Diskon Harga Minyak untuk Indonesia
Saul juga menambahkan bahwa pengumuman pembukaan Selat Hormuz sebelumnya terbukti prematur, sehingga pelaku industri pelayaran masih akan bersikap sangat hati-hati sebelum kembali melintasi jalur tersebut.
Adapun, berdasarkan data Kpler lebih dari 20 kapal sempat melintasi Selat Hormuz pada Sabtu, membawa berbagai komoditas seperti minyak, LPG, logam, dan pupuk.
Angka tersebut merupakan yang tertinggi sejak awal Maret, namun belum cukup memberikan kepastian bagi pelaku pasar.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










