Akurat
Pemprov Sumsel

Pasokan Energi Mulai Seret, Kamboja Cari BBM ke Malaysia dan Singapura

Andi Syafriadi | 19 Maret 2026, 07:30 WIB
Pasokan Energi Mulai Seret, Kamboja Cari BBM ke Malaysia dan Singapura
Kamboja beralih ke Singapura dan Malaysia akibat krisis BBM dari Vietnam dan China. Ini memicu risiko baru bagi ketahanan energi ASEAN.

AKURAT.CO Krisis energi global mulai menunjukkan dampak nyata di Asia Tenggara.

Kamboja menjadi salah satu negara yang paling cepat terdampak setelah pasokan bahan bakar dari Vietnam dan China terganggu.

Mengutip dari laman staritstimes, pemerintah Kamboja kini mengalihkan impor BBM ke Singapura dan Malaysia sebagai langkah darurat menjaga stabilitas energi domestik.

Usut punya usut kebijakan tersebut muncul pasca adanya pembatasan ekspor dari dua pemasok utama, yakni Vietnam dan China sehingga memicu kelangkaan energi di dalam negeri.

Baca Juga: Bagaimana Krisis Energi Memengaruhi Industri dan Perekonomian

Tidak hanya itu saja, gangguan rantai pasok energi global dipicu konflik geopolitik di Timur Tengah, khususnya perang yang berdampak pada distribusi minyak dunia dan jalur logistik strategis.

Kamboja sendiri termasuk negara yang sangat rentan. Seluruh kebutuhan bahan bakar masih bergantung pada impor karena tidak memiliki kapasitas kilang domestik.

Akibatnya, gangguan kecil di sisi suplai langsung berdampak besar. Bahkan, lebih dari 400 SPBU sempat tutup karena keterlambatan distribusi BBM.

Langkah beralih ke Singapura dan Malaysia memang memberi napas sementara. Namun, kapasitas kedua negara tersebut belum tentu mampu menggantikan sepenuhnya pasokan dari Vietnam dan China dalam jangka panjang.

Kondisi tersebut sontak menjadi sorotan rapuhnya ketahanan energi kawasan.

ASEAN yang selama ini mengandalkan jaringan perdagangan terbuka kini menghadapi realitas baru yaitu proteksionisme energi.

Baca Juga: Sri Lanka Terapkan Kerja 4 Hari Sepekan, Antisipasi Krisis Energi akibat Blokade Selat Hormuz

China, misalnya, menghentikan ekspor bahan bakar untuk menjaga kebutuhan domestik.

Sementara negara lain mulai menahan suplai sebagai langkah antisipasi krisis.

Sehingga dampak yang ditimbulkan pun bersifat sistemik. Ketika satu negara membatasi ekspor, maka negara lain terpaksa mencari sumber baru, yang pada akhirnya memperketat pasar regional.

Dalam konteks tersebut, krisis Kamboja bisa menjadi alarm awal bagi ASEAN. Tanpa integrasi energi yang lebih kuat, kawasan berisiko menghadapi krisis serupa secara berantai.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.