Ternyata Ini Tantangan Utama Indonesia Jadi Kiblat Industri Halal Dunia

AKURAT.CO Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pemain utama dalam industri halal global. Namun, hingga saat ini, potensi tersebut dinilai belum sepenuhnya terealisasi secara optimal.
Direktur Umum dan Hukum LPDB Koperasi, Deva Rachman, menyebut bahwa meskipun perkembangan industri halal nasional cukup signifikan, posisi Indonesia di tingkat global masih menghadapi sejumlah tantangan.
“Kita melihat bahwa potensi besar ini belum sepenuhnya tercermin dalam posisi kita di tingkat global,” ujar Deva dalam acara PUNCAK ACARA FESTIVAL SYAWAL 1446 H yang diselenggarakan oleh LPPOM MUI di Jakarta, Kamis (30/4/2026).
Lebih lanjut Deva menjelaskan bahwa salah satu kendala utama terletak pada aspek standardisasi dan integrasi rantai pasok halal yang belum berjalan optimal.
“Dalam berbagai indikator, Indonesia masih tertinggal terutama dalam hal standardisasi dan integrasi dari hulu hingga hilir,” katanya.
Padahal, Indonesia memiliki keunggulan besar dari sisi pasar domestik. Dengan jumlah penduduk mencapai sekitar 280 juta jiwa, potensi konsumsi produk halal sangat besar.
Selain itu, industri halal juga tidak lagi terbatas pada sektor makanan dan minuman, tetapi telah merambah berbagai sektor lain, termasuk jasa.
Deva mencontohkan munculnya berbagai inovasi seperti layanan laundry syariah yang menunjukkan bahwa konsep halal telah berkembang menjadi gaya hidup.
Baca Juga: Fix! Sertifikasi Halal Kosmetik Wajib Berlaku Mulai 17 Oktober 2026
“Industri halal bukan hanya makanan, tapi sudah masuk ke berbagai sektor lainnya,” ujarnya.
Dari sisi pertumbuhan, sektor halal nasional juga menunjukkan kinerja yang cukup kuat. Pada tahun 2025, industri halal tercatat tumbuh 6,2%, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional.
Sementara itu, nilai ekspor produk halal Indonesia telah mencapai sekitar USD63,4 miliar, yang menunjukkan daya saing produk Indonesia di pasar internasional.
“Produk kita memiliki daya saing yang kuat dan dianggap sebagai produk unggulan di pasar global,” kata Deva.
Meski demikian, ia menekankan bahwa potensi tersebut perlu didukung oleh penguatan sistem dan ekosistem agar mampu bersaing secara global.
Menurutnya, pengembangan industri halal tidak bisa lagi dipandang sebagai isu sektoral.
“Ekonomi halal bukan lagi isu sektoral, melainkan mesin pertumbuhan ekonomi nasional,” ujarnya.
Ke depan, Indonesia diharapkan dapat mengambil peran lebih besar, termasuk menjadi pusat atau kiblat industri halal dunia.
Hal ini sejalan dengan upaya memperluas kerja sama internasional, termasuk kolaborasi dengan negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI).
“Pasarnya masih sangat luas, dan Indonesia harus mengambil peran strategis di dalamnya,” kata Deva.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








