Menakar Wacana CNG sebagai Pengganti LPG, Efektifkah?

AKURAT.CO Konsumsi Liquefied Petroleum Gas (LPG) di Indonesia menunjukkan tren meningkat dalam satu dekade terakhir, seiring pertumbuhan jumlah penduduk, urbanisasi, serta ekspansi sektor rumah tangga dan usaha mikro.
LPG telah menjadi sumber energi utama untuk memasak, terutama sejak program konversi minyak tanah ke LPG yang digulirkan pemerintah pada pertengahan 2000-an. Program tersebut berhasil mengalihkan jutaan rumah tangga ke LPG.
Di tengah tren kenaikan konsumsi, struktur pasokan LPG nasional juga menghadapi tantangan dari sisi hulu. Produksi bahan baku LPG seperti propana dan butana belum mampu mengimbangi permintaan.
Sehingga, sampai dengan saat ini, Indonesia masih bergantung terhadap pasokan dari luar negeri atau pasokan impor untuk memenuhi kebutuhan LPG domestik.
Baca Juga: PGN Siap Dukung CNG Jadi Pengganti LPG, Infrastruktur Disiapkan
Berdasarkan catatan Akurat, konsumsi LPG nasional mencapai 8,6 juta ton per tahun. Dari angka tersebut, hanya 1,6-1,7 juta ton yang diproduksi dalam negeri dan selebihnya dipenuhi dari impor.
Sehingga, ada kekurangan sekitar 6,9 sampai dengan 7 juta ton untuk memenuhi kebutuhan konsumsi LPG dalam negeri.
Angka tersebut diprediksi bisa teru bertambah, sebab konsumsi LPG diproyeksikan meningkat hingga 10 juta ton per tahun pada periode 2026–2027.
Dengan margin yang diprediksi terus melebar, Pemerintah dalam hal ini Kementerian ESDM sedang menggodok alternatif baru untuk mengurangi impor LPG dalam negeri.
Salah satu alternatif energi dalam negeri yang sedang dikaji adalah pemanfaatan Compressed Natural Gas (CNG) untuk dapat menjadi substitusi dari LPG, yang sebagian besar masih berasal dari luar negeri.
CNG sendiri merupakan gas alam yang dikompresi hingga tekanan tinggi, biasanya di atas 200 bar, untuk memudahkan penyimpanan dan distribusi.
Merespon hal tersebut, Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia menyampaikan saat ini rencana pemanfaatan CNG masih dalam tahap pembahasan. Pihaknya akan segera memfinalisasi agar kemandirian energi dapat terwujud.
Baca Juga: Bahlil: Pemerintah Kaji CNG sebagai Pengganti LPG Impor
Bahlil menjelaskan, bahan baku CNG dapat dipenuhi dari industri dalam negeri, yakni dari gas cair C1 dan C2 yang kemudian dipadatkan (compress) hingga mencapai tekanan tertentu.
Adapun gas cair C1-C2 adalah gas alam (natural gas) yang didominasi oleh komponen metana (C1) dan etana (C2) yang telah dicairkan untuk mempermudah penyimpanan dan transportasi. Saat ini Badan Usaha Niaga yang bergerak di bidang CNG berjumlah 57 badan usaha.
"Kalau CNG itu adalah dari gas, tapi dia dari gas cair C1, C2. Dan itu industri di dalam negeri kita banyak. Tetapi dia memakai satu alat yang kemudian bisa ditekan sampai dengan 250 sampai 400 bar, tekanannya. Sehingga pemakaiannya itu bisa baik. Tapi sekali lagi ini masih dalam tahap konsolidasi agar kita bisa mencapai hasil yang lebih baik," kata Bahlil di Istana Negara beberapa hari lalu.
Tantangan Teknis dan Investasi Besar
Upaya pemerintah untuk memanfaatkan CNG untuk pengganti LPG mendapat dukungan dari berbagai kalangan. Meskipun terdapat sejumlah tantangan teknis dan kebutuhan investasi besar, khususnya jika diterapkan di sektor rumah tangga.
Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Muhammad Ishak menilai langkah diversifikasi energi tersebut sangat mendesak mengingat tingginya ketergantungan impor LPG.
Menurut Ishak, pemanfaatan gas bumi dalam bentuk Compressed Natural Gas (CNG) menjadi opsi strategis karena ketersediaan sumber daya domestik yang melimpah.
Namun, ia mengingatkan bahwa implementasi CNG sebagai substitusi LPG di rumah tangga menghadapi kendala teknis yang tidak sederhana.
CNG memerlukan tekanan tinggi antara 250 hingga 400 bar, jauh di atas tekanan tabung LPG rumah tangga yang hanya sekitar 6–8 bar.
“Tekanan yang tinggi ini membutuhkan standar keselamatan yang jauh lebih ketat karena kebocoran atau kerusakan struktur tabung dapat menimbulkan bahaya signifikan jika penanganan tidak sesuai prosedur,” ucap Ishak kepada Akurat.co, Rabu (29/4/2026).
Selain itu, distribusi CNG dinilai tidak sepraktis LPG 3 kilogram yang mudah diangkut dan didistribusikan.
Oleh karena itu, Ishak menilai pemanfaatan gas bumi lebih ideal disalurkan melalui jaringan gas (jargas) untuk rumah tangga atau melalui Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) untuk sektor transportasi.
Selama ini, penggunaan CNG di Indonesia memang lebih banyak difokuskan untuk transportasi seperti bus TransJakarta, taksi, hingga bajaj, serta sektor industri dan komersial.
Ishak menambahkan, jika pemerintah tetap ingin mendorong penggunaan CNG di rumah tangga, maka diperlukan investasi besar mulai dari pembangunan infrastruktur, subsidi tabung, penyesuaian peralatan rumah tangga, hingga edukasi masyarakat secara luas.
“Semua ini membutuhkan komitmen anggaran jangka panjang dari pemerintah agar tidak mengulangi nasib kebijakan peralihan BBM ke BBG (CNG) untuk transportasi pada tahun 2007 yang mandek akibat lemahnya investasi infrastruktur CNG,” ujarnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 7Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 8Kalender Jawa 4 Juni 2026: Weton Kamis Pahing Punya Karakter Cerdas dan Penuh Perhitungan
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal









