Ditanya Tarif Trump dan Kelanjutan Impor Energi dari AS, Begini Jawaban ESDM
Camelia Rosa | 8 Juli 2025, 17:46 WIB

AKURAT.CO Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot buka suara mengenai Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang akan tetap mengenakan tarif impor kepada Indonesia sebesar 32%.
Dikatakan Yuliot, pemerintah Indonesia yang diwakilkan oleh Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto masih terus berupaya agar Indonesia mendapatkan tarif lebih baik dibandingkan yang saat ini ditetapkan.
Ia menuturkan, pemerintah Indonesia sejatinya telah memberikan prnawaran impor energi senilai USD15,5 miliar dari Amerika Serikat sebagai bagian dari upaya menyeimbangkan neraca perdagangan antara kedua negara.
"Jadi ya kita lihat saja itu bagaimana keputusan akhirnya," ujar Yuliot ketika ditemui di Jakarta, Selasa (8/7/2025).
Terkait kepastian impor produk energi dari AS, Yuliot mengatakan hal ini masih bergantung pada kebijakan Trump sendiri.
"Jadi ya kita lihat kebijakan dari Presiden Trump ya kira-kira bagaimana. Ya kan untuk beberapa negara kan sudah ditetapkan, sudah disampaikan sama beliau sendiri, ya termasuk Indonesia. Jadi ya kita juga ini relatif harus cool juga menanggapi kondisi seperti ini," tukasnya.
Seperti diketahui, Presiden Trump menegaskan bakal tetap mengenakan tarif impor untuk Indonesia sebesar 32%. Angka itu tidak berubah dari nilai "tarif resiprokal" yang diumumkan sebelumnya pada April lalu, meski proses negosiasi dengan pihak Indonesia terus berlangsung intensif.
Hal ini diketahui dari unggahan diakun media sosialnya. Surat berkop Gedung Putih tertanggal 7 Juli yang ditujukan kepada Presiden RI Prabowo Subianto.
"Mulai 1 Agustus 2025, kami akan mengenakan Tarif kepada Indonesia hanya sebesar 32 persen untuk semua produk Indonesia yang dikirimkan ke Amerika Serikat, terpisah dari Tarif Sektoral lain,” jelas Trump dalam surat yang diunggahnya tersebut.
Dalam surat itu, Trump juga menuturkan bahwa angka ini sebenarnya jauh lebih kecil dibandingkan jumlah yang dibutuhkan dalam menyeimbangkan neraca perdagangan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 5Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 6Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK









