Harga Rumah Naik Tipis, Penjualan Properti Anjlok 25 Persen

AKURAT.CO Pasar properti residensial Indonesia memasuki awal 2026 dengan sinyal perlambatan baru.
Bank Indonesia (BI) mencatat harga rumah di pasar primer masih naik, namun laju kenaikannya semakin terbatas di tengah anjloknya penjualan properti hingga dua digit.
Berdasarkan hasil Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia, Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) pada triwulan I 2026 hanya tumbuh 0,62% secara tahunan atau year on year (yoy). Angka tersebut lebih rendah dibandingkan pertumbuhan pada triwulan IV 2025 yang mencapai 0,83% yoy.
Baca Juga: Bank Indonesia Siapkan Tujuh Langkah untuk Perkuat Rupiah
Perlambatan harga ini terjadi bersamaan dengan melemahnya permintaan di pasar primer.
BI mencatat penjualan properti residensial secara keseluruhan turun 25,67% yoy pada triwulan I 2026. Padahal, pada kuartal sebelumnya sektor ini masih mencatat pertumbuhan penjualan sebesar 7,83% yoy.
“Penjualan unit properti residensial di pasar primer tercatat mengalami penurunan pada triwulan I 2026,” demikian hasil survei Bank Indonesia dikutip dari keterangan tertulis di Jakarta, Minggu (10/5/2026).
Meski demikian, pelemahan tidak terjadi merata di seluruh segmen. Penjualan rumah tipe menengah masih mengalami peningkatan, sementara penjualan rumah tipe kecil dan besar belum menunjukkan penguatan yang signifikan.
Data ini memperlihatkan adanya perubahan pola permintaan masyarakat di tengah kondisi ekonomi dan suku bunga yang masih relatif tinggi. Rumah kelas menengah dinilai menjadi segmen yang paling mampu bertahan karena menyasar kelompok konsumen dengan daya beli lebih stabil.
Di sisi pembiayaan, survei BI menunjukkan mayoritas pengembang masih mengandalkan dana internal untuk membangun proyek residensial. Pangsa pembiayaan internal tercatat mencapai 80,66% dari total kebutuhan pembangunan properti.
Baca Juga: Usut Tuntas Korupsi CSR, KPK Periksa Dua Pejabat Bank Indonesia
Ketergantungan tinggi terhadap modal internal menunjukkan pengembang cenderung lebih berhati-hati dalam melakukan ekspansi proyek baru. Kondisi ini juga mencerminkan pengetatan likuiditas dan masih selektifnya akses pembiayaan eksternal di sektor properti.
Sementara dari sisi konsumen, Kredit Pemilikan Rumah (KPR) tetap menjadi skema utama pembelian rumah di pasar primer. Pangsanya mencapai 69,87% dari total metode pembelian.
Dominasi KPR memperlihatkan pasar properti nasional masih sangat sensitif terhadap arah suku bunga perbankan dan kebijakan kredit. Ketika bunga kredit tinggi atau daya beli melemah, permintaan rumah cenderung langsung tertekan.
Secara historis, perlambatan pasar properti residensial juga sempat terjadi pada periode pandemi COVID-19, ketika penjualan rumah turun akibat lemahnya konsumsi rumah tangga dan ketidakpastian ekonomi.
Namun berbeda dengan periode tersebut, kondisi saat ini terjadi ketika ekonomi nasional masih tumbuh positif.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








