Pemerintah Dorong Pemerataan Internet Lewat Operasional Satelit N5

AKURAT.CO Satelit Nusantara Lima (Satelit N5) resmi memasuki tahap operasional dan siap dikomersialisasikan setelah sukses diluncurkan dari Cape Canaveral, Florida, Amerika Serikat, pada 12 September 2025.
Satelit berkapasitas 160 Gbps tersebut kini menjadi satelit terbesar di Asia dan digadang menjadi tulang punggung baru konektivitas digital Indonesia, terutama untuk wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Peresmian operasional Satelit N5 dihadiri Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid, Kepala Staf Kepresidenan Dudung Abdurachman, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie, hingga jajaran petinggi Boeing dan PSN Group.
Menteri Komdigi, Meutya Hafid mengatakan, pemerintah masih memiliki pekerjaan rumah besar dalam pemerataan akses internet nasional. Berdasarkan data pemerintah, saat ini konektivitas digital Indonesia baru menjangkau sekitar 80% populasi atau masih menyisakan sekitar 20% masyarakat yang belum menikmati layanan internet berkualitas.
Baca Juga: Satelit Nusantara Lima dan Misi Besar Kedaulatan Digital Indonesia
“Keinginan kami agar 280 juta warga Indonesia bisa terhubung dan tidak hanya daerah-daerah di dekat Jawa, tapi berbagai daerah lainnya sampai Sabang, Merauke, Rote, dan Miangas,” ujar Meutya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis (14/5/2026).
Ia menegaskan keberadaan Satelit N5 menjadi bagian dari strategi pemerintah memperkuat tiga pilar utama transformasi digital nasional, yakni terhubung, tumbuh, dan terjaga.
Menurutnya, proyek ini juga sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat posisi Indonesia dalam sektor antariksa global.
Direktur Utama PT Pasifik Satelit Nusantara, Adi Rahman Adiwoso, menyebut Satelit N5 menjadi simbol penguatan sovereign capability atau kemampuan kemandirian nasional di sektor strategis antariksa dan telekomunikasi.
“Dengan kapasitas terbesar di Asia, Indonesia memiliki kapasitas satelit yang terjamin dan membuka babak baru untuk melangkah lebih maju dalam pengembangan industri antariksa,” kata Adi Rahman.
Ia mengungkapkan Indonesia saat ini menjadi pemain terbesar industri satelit internet di Asia dengan total kapasitas mencapai 403 Gbps. Kehadiran Satelit N5 akan menambah kapasitas nasional secara signifikan sekaligus memperluas jangkauan layanan hingga Malaysia dan Filipina.
Baca Juga: BPS Pakai Citra Satelit Deteksi RW Kumuh di Jakarta
Secara teknis, Satelit N5 menggunakan platform Boeing 702MP dengan teknologi Very High Throughput Satellite (VHTS). Satelit berbobot 7,8 ton tersebut dilengkapi 101 spot beam di frekuensi Ka-band dan sistem propulsi hybrid berbasis kimia serta Xenon-Ion Propulsion System (XIPS) yang diklaim 10 kali lebih efisien dibanding satelit konvensional.
Satelit ini juga ditopang tujuh stasiun bumi yang tersebar di Banda Aceh, Bengkulu, Cikarang, Gresik, Banjarmasin, Tarakan, dan Kupang. Infrastruktur tersebut dirancang untuk memastikan distribusi layanan internet tetap stabil di kawasan Indonesia barat, tengah, hingga timur.
President of Boeing Satellite System International Inc, Ryan Reid, mengatakan proyek Satelit N5 memperpanjang kerja sama Indonesia dan Boeing dalam pengembangan teknologi antariksa.
“Kondisi geografis Indonesia yang terdiri dari belasan ribu pulau membuat teknologi satelit menjadi salah satu solusi utama untuk mengatasi kesenjangan akses internet,” ujar Ryan Reid.
Beroperasinya Satelit N5 dinilai penting karena kebutuhan internet nasional terus meningkat seiring percepatan ekonomi digital. Data Kementerian Komunikasi dan Digital menunjukkan penetrasi internet nasional terus tumbuh dalam beberapa tahun terakhir, sementara kebutuhan bandwidth meningkat akibat penggunaan layanan cloud, artificial intelligence, pendidikan digital, hingga layanan kesehatan berbasis daring.
Di sisi lain, tantangan pemerataan akses masih menjadi persoalan utama. Kawasan 3T selama ini menghadapi keterbatasan infrastruktur fiber optik karena faktor geografis dan biaya investasi yang tinggi. Kehadiran satelit berkapasitas besar dinilai dapat menjadi solusi lebih cepat untuk memperluas konektivitas tanpa harus membangun jaringan kabel secara masif.
Selain layanan satelit, PSN juga memperkenalkan Cerdiq, perangkat user terminal berbasis satelit yang dikembangkan tim Research & Development perusahaan. Produk tersebut dirancang menggunakan konsep sederhana dan ringan dengan dukungan konektivitas Satelit N5.
Menurut Adi Rahman, pengembangan Cerdiq menjadi bagian dari upaya meningkatkan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) sekaligus memperkuat industri teknologi nasional.
“Kami mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk berkolaborasi membangun ekosistem antariksa nasional demi mencapai space sovereign capability,” ujarnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal







