Dony Oskaria: Anggapan BUMN Tidak Untung Itu Keliru

AKURAT.CO Kepala Badan Pengaturan BUMN sekaligus Chief Operating Officer BPI Danantara, Dony Oskaria mengungkap, arah baru pengelolaan BUMN yang kini mulai terintegrasi melalui Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara).
Langkah ini disebut menjadi kunci untuk mendorong laba BUMN menembus Rp450 triliun dalam tiga tahun ke depan.
Dalam forum Jogja Financial Festival di Jogja Expo Center, Daerah Istimewa Yogyakarta, Dony menegaskan persepsi publik yang menyebut BUMN tidak menghasilkan keuntungan merupakan anggapan yang keliru.
Baca Juga: Danantara Umumkan 85 Peserta Lolos Seleksi Mitra Proyek PSEL Gelombang Kedua
Ia memaparkan, total laba BUMN sepanjang 2025 mencapai Rp335 triliun dengan kontribusi pajak sebesar Rp215 triliun kepada negara.
“Jadi BUMN kita sangat powerful. Tidak benar kalau banyak yang mengatakan BUMN tidak pernah untung. Itu keliru,” ujar Dony dikutip dari Channel YouTube CNBC, Minggu (24/5/2026).
Menurutnya, kontribusi BUMN terhadap negara kini mencapai sekitar sepertiga Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), baik melalui dividen maupun pembayaran pajak. Pada 2026, pemerintah menargetkan laba BUMN meningkat menjadi Rp360 triliun.
“Saya punya harapan ketika saya pensiun pada 2029, keuntungan BUMN bisa sedikitnya mencapai Rp450 triliun,” katanya.
Dony menjelaskan, sebelumnya Kementerian BUMN hanya memiliki fungsi kuasa kelola dan bukan pemilik langsung perusahaan pelat merah.
Akibatnya, koordinasi antarlembaga dinilai tidak terintegrasi sehingga banyak perusahaan negara kesulitan diselamatkan ketika mengalami tekanan keuangan.
“Karena tidak ada mekanisme untuk membantu satu BUMN dengan BUMN lain, menyebabkan sulit untuk melakukan perbaikan,” ujarnya.
Dirinya mencontohkan sejumlah BUMN besar yang sempat menjadi ikon industri nasional namun kini menghadapi persoalan serius, seperti PT INTI, Jakarta Lloyd, hingga Krakatau Steel.
Baca Juga: Asymmetric Pessimism, Misbakhun Sebut Perbandingan Danantara dengan BPPC Keliru
“Mungkin kita mengenal dulu PT INTI yang sangat terkenal, sekarang menghadapi persoalan mungkin akan kita tutup juga. Kemudian ada Jakarta Lloyd, Krakatau Steel dan lain sebagainya,” kata Dony.
Dirinya juga menyoroti kondisi sebelumnya ketika laba perusahaan-perusahaan besar seperti Bank Rakyat Indonesia, Bank Syariah Indonesia, dan Bank Tabungan Negara tidak dapat digunakan untuk menopang BUMN lain yang sedang bermasalah.
“Labanya BRI, BSI, BTN tidak bisa dipergunakan untuk membantu perusahaan lainnya,” tegasnya.
Sebagai informasi, restrukturisasi BUMN sebenarnya sudah berlangsung sejak era pembentukan holding sektor tambang pada 2017 dan holding ultra mikro pada 2021.
Namun, pembentukan Danantara menandai perubahan lebih besar karena pemerintah mulai mengonsolidasikan pengelolaan aset dan investasi BUMN dalam satu payung strategis.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Gubernur Bali I Wayan Koster Viral Usai Adu Mulut dengan Petugas SPBU, Ini Profilnya
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK









