Akurat Logo

Produk Mamin Indonesia Raup Potensi Bisnis Rp230 Miliar di FHA Singapura

Esha Tri Wahyuni | 27 Mei 2026, 12:20 WIB
Produk Mamin Indonesia Raup Potensi Bisnis Rp230 Miliar di FHA Singapura
Indonesia membukukan kontrak ekspor dan potensi transaksi ratusan miliar rupiah dalam ajang FHA 2026 di Singapura.

AKURAT.CO Produk makanan dan minuman (mamin) Indonesia mencatatkan kontrak ekspor dan potensi transaksi lebih dari Rp230 miliar dalam ajang Food and Hotel Asia (FHA) 2026 di Singapore EXPO, Singapura.

Capaian ini menjadi salah satu sinyal kuat bahwa produk mamin nasional masih kompetitif di tengah perlambatan perdagangan global dan ketidakpastian rantai pasok internasional.

Dalam pameran terbesar di Asia yang berlangsung pada 21–24 April 2026 itu, Indonesia membukukan 14 kontrak ekspor senilai USD3,17 juta atau sekitar Rp54,5 miliar.

Produk yang berhasil menembus pasar ekspor meliputi madu, bumbu organik, hasil pertanian, serta berbagai produk makanan dan minuman lainnya.

Selain realisasi kontrak, Indonesia juga mencatat potensi transaksi sebesar USD10,3 juta atau setara Rp177 miliar.

Baca Juga: Potensi Transaksi Mamin RI di Gulfood 2026 Tembus Rp107 Miliar

Potensi bisnis tersebut berasal dari minat buyer internasional terhadap produk mi instan sehat, camilan organik, produk perikanan, susu olahan, rempah-rempah, hingga produk makanan siap konsumsi.

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan, Fajarini Puntodewi, mengatakan partisipasi Indonesia di FHA 2026 menjadi langkah strategis untuk memperluas akses pasar global, khususnya di sektor hotel, restoran, dan katering (horeka).

“Hadirnya produk mamin Indonesia pada FHA 2026 menjadi kesempatan memperluas akses pasar Indonesia ke industri horeka dunia. Keikutsertaan pada FHA 2026 penting untuk terus memperkuat perdagangan dan rantai pasok regional di tengah ketidakpastian global,” ujar Fajarini dalam keterangan tertulis di Jakarta, Rabu (27/5/2026).

Partisipasi Indonesia tahun ini juga tercatat sebagai yang terbesar sepanjang keikutsertaan di FHA. Paviliun Indonesia menghadirkan 40 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta 13 perusahaan menengah dan besar seperti Indofood, Savoria, dan Orang Tua.

Keterlibatan UMKM dalam pameran internasional tersebut dinilai penting karena sektor makanan dan minuman selama ini menjadi salah satu penopang utama ekspor manufaktur Indonesia.

Data Kementerian Perindustrian sebelumnya menunjukkan industri mamin menyumbang lebih dari 38% terhadap PDB industri nonmigas nasional dalam beberapa tahun terakhir.

Duta Besar RI untuk Singapura, Hotmangaradja Pandjaitan, mengatakan pemerintah perlu memperkuat dukungan terhadap UMKM agar mampu masuk dalam rantai pasok global yang semakin kompetitif.

Baca Juga: MAKI Dorong KPK Telusuri Aliran Rp100 Miliar ke Rekening PBNU dari Mardani H Maming

“Di tengah situasi ketidakpastian perdagangan global, peran pemerintah penting bagi UMKM, baik melalui pembinaan, pembiayaan, hingga promosi ke pasar global melalui ekspor,” ujar Hotmangaradja.

Hal senada disampaikan Atase Perdagangan RI di Singapura, Billy Anugrah. Menurut Billy, keikutsertaan Indonesia dalam pameran internasional menjadi bagian dari promosi jangka panjang untuk memperkuat posisi produk mamin RI di pasar ekspor.

“Produk mamin Indonesia merupakan salah satu tulang punggung industri Indonesia yang menyokong ekspor Indonesia dalam lima tahun terakhir. Hadirnya pelaku usaha Indonesia pada pameran internasional menjadi wujud promosi berkelanjutan untuk industri mamin Indonesia dalam menembus pasar ekspor,” katanya.

FHA 2026 sendiri dihadiri sekitar 88 ribu pengunjung dari 131 negara yang terdiri atas importir, distributor, pelaku industri, hingga manufaktur global. Selama empat hari penyelenggaraan, Paviliun Indonesia dikunjungi lebih dari 6.012 pengunjung internasional.

Besarnya jumlah buyer dan pelaku industri yang hadir membuat FHA menjadi salah satu indikator penting bagi prospek perdagangan makanan dan minuman Asia. Singapura dipilih sebagai lokasi strategis karena negara tersebut menjadi hub perdagangan dan distribusi pangan regional Asia Tenggara.

Di sisi pelaku usaha, pemilik PT Salaku Cara Enak Makan Salak, Shelly Salaku, menilai FHA 2026 membuka peluang baru bagi produk lokal Indonesia untuk masuk pasar internasional.

“FHA 2026 bukan hanya tentang peluang bisnis, tetapi juga tentang jejaring, persahabatan, dan energi baru untuk terus melangkah lebih jauh membawa Indonesia ke dunia,” ujar Shelly.

Capaian transaksi di FHA 2026 juga menjadi sinyal bahwa produk pangan Indonesia mulai bergerak dari model ekspor komoditas mentah menuju produk konsumsi bernilai tambah.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.